kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.857.000   -65.000   -2,22%
  • USD/IDR 17.020   -18,00   -0,11%
  • IDX 7.027   -157,66   -2,19%
  • KOMPAS100 971   -21,90   -2,21%
  • LQ45 715   -12,21   -1,68%
  • ISSI 251   -5,90   -2,30%
  • IDX30 389   -4,63   -1,18%
  • IDXHIDIV20 483   -4,52   -0,93%
  • IDX80 109   -2,25   -2,01%
  • IDXV30 133   -1,42   -1,05%
  • IDXQ30 127   -1,23   -0,96%

Tangkap Peluang Pertumbuhan Baru, DSSA Percepat Bisnis EBT dan Infrastruktur Digital


Jumat, 03 April 2026 / 10:29 WIB
Tangkap Peluang Pertumbuhan Baru, DSSA Percepat Bisnis EBT dan Infrastruktur Digital
ILUSTRASI. Dian Swastatika (DSSA) dan Investor Korea Bangun Data Center SMX01 (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Reporter: Ahmad Febrian | Editor: Ahmad Febrian

KONTAN.CO.ID - JAKARTA.  Di tengah dorongan transisi energi dan percepatan digitalisasi, pelaku usaha mulai mengintegrasikan pengembangan energi bersih dan infrastruktur teknologi sebagai strategi jangka panjang. Sinergi kedua sektor ini dinilai menjadi kunci dalam menopang pertumbuhan ekonomi berbasis data dan kecerdasan buatan (AI).

Sejalan dengan itu, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) mempercepat pengembangan energi baru terbarukan (EBT) sekaligus memperluas infrastruktur digital berbasis AI.

Langkah ini menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam menjaga keberlanjutan bisnis sekaligus menangkap peluang pertumbuhan baru.

Wakil Presiden Direktur DSSA, Lokita Prasetya menegaskan, sektor energi tetap menjadi fondasi utama bisnis perusahaan dengan fokus pada efisiensi dan keberlanjutan operasional.

“DSSA secara bertahap terus memperkuat portofolio energi baru terbarukan (EBT), khususnya pada sektor panas bumi dan tenaga surya, untuk menciptakan bauran energi yang lebih seimbang," terang Lokita, Kamis (2/4).

Strategi tersebut melalui penguatan praktik pertambangan berkelanjutan, termasuk peningkatan efisiensi energi dan pengelolaan lingkungan secara terintegrasi. Implementasi terlihat dari percepatan elektrifikasi armada operasional di PT Borneo Indobara sebagai bagian dari inisiatif green mining yang sekaligus menekan biaya operasional.

DSSA juga mengembangkan pembangkit berbasis panas bumi dan tenaga surya. Indonesia memiliki potensi besar di sektor ini, terutama panas bumi yang mencapai sekitar 40% potensi global.

Komitmen tersebut melalui pembangunan pabrik panel surya terintegrasi berkapasitas 1 gigawatt di Kawasan Ekonomi Khusus Kendal. Selain itu, DSSA mengembangkan proyek panas bumi melalui PT DSSR Daya Mas Sakti dengan total potensi mencapai 440 megawatt.

Eksplorasi di enam wilayah strategis, antara lain Cisolok dan Cipanas di Jawa Barat, serta wilayah di Sumatra, Flores, dan Sulawesi Tengah. Untuk memperkuat kapabilitas, DSSA juga menggandeng PT FirstGen Geothermal Indonesia.

“Pendekatan kami menjaga keandalan pasokan energi saat ini, sekaligus secara bertahap mengembangkan sumber energi lebih rendah emisi sebagai bagian dari strategi jangka panjang DSSA," kata Lokita.

Baca Juga: Dian Swastatika (DSSA) Gencar Diversifikasi Bisnis, Cermati Rekomendasi Analis

Langkah ini menjadi bagian dari target DSSA untuk mencapai carbon neutrality pada 2050 melalui proses transisi bertahap. Di sisi lain, DSSA memperkuat bisnis infrastruktur digital untuk menangkap peluang pertumbuhan ekonomi berbasis data. CEO PT DSST Mas Gemilang, Marlo Budiman mengatakan, perusahaan terus memperluas konektivitas dan solusi berbasis AI.

Kerjasama dengan iFLYTEK untuk mengembangkan berbagai solusi kecerdasan buatan serta analitik berbasis large language model (LLM).

“Pertumbuhan kebutuhan data dan konektivitas menjadi pendorong utama pengembangan bisnis digital kami. Kami melihat peluang besar untuk mendorong pemerataan penetrasi digital dengan menjawab kesenjangan yang ada, sekaligus menghadirkan solusi berbasis AI yang mudah diakses,” ujar Marlo.

Saat ini, DSSA mengoperasikan jaringan fiber optik sepanjang sekitar 57.000 kilometer dengan lebih dari 9 juta homepass serta sekitar 1 juta pelanggan broadband melalui MyRepublic Indonesia.

Infrastruktur tersebut diperkuat dengan pengembangan 24 edge data center di 23 kota, dari Medan hingga Manado, guna mendukung pemrosesan data dengan latensi rendah.

Selain itu, DSSA menyiapkan pusat data utama Jakarta SMX01 di kawasan pusat bisnis. Fasilitas ini berstandar Tier IV dengan kapasitas awal 18 megawatt dan ditargetkan mulai beroperasi pada semester II-2026.

Peluang pasar dinilai masih terbuka lebar. Sekitar 50 juta masyarakat Indonesia belum terlayani internet secara optimal, sementara nilai pasar telekomunikasi nasional diperkirakan mencapai US$ 29 miliar atau sekitar Rp 490 triliun.

Direktur DSSA, David Audy menila,i masa depan ekonomi Indonesia akan semakin didorong oleh adopsi AI yang membutuhkan fondasi energi dan konektivitas digital yang kuat.

"Kami melihat peluang masa depan Indonesia yang akan banyak mengadopsi artifical inteligence (AI). Adopsi ini akan ditopang oleh dua fondasi utama, yaitu energi yang andal dan infrastruktur konektivitas digital yang merata," ujarnya.

Ia menambahkan, DSSA membangun kedua sektor tersebut secara terintegrasi untuk memperkuat posisi perusahaan di masa depan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×