Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan harga Bitcoin (BTC) menunjukkan tekanan signifikan di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik, khususnya setelah pidato Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait konflik Iran yang tidak memberikan kejelasan arah deeskalasi.
Setelah sempat bertahan di kisaran US$ 68.000 menjelang pidato, Bitcoin pada Jumat (3/4) justru terkoreksi ke level sekitar US$ 66.000, seiring reaksi negatif pasar global.
Sebelum pidato berlangsung, pelaku pasar sempat mengantisipasi narasi “perang akan segera berakhir”, yang mendorong pergerakan harga Bitcoin dan aset berisiko lainnya.
Baca Juga: Rupiah Menembus level Rp 17.000 per Dolar AS, Simak Proyeksinya untuk Pekan Depan
Namun, data intraday menunjukkan bahwa reli tersebut tidak didukung oleh akumulasi yang kuat.
Sentimen pasar semakin tertekan setelah Trump menyampaikan bahwa Amerika Serikat akan meningkatkan serangan terhadap Iran dalam dua hingga tiga minggu ke depan, tanpa memberikan timeline yang jelas terkait berakhirnya konflik.
Dampaknya, harga minyak melonjak lebih dari 5% dan memicu kekhawatiran inflasi global, sementara penguatan dolar AS dan kenaikan yield obligasi menekan aset berisiko termasuk kripto.
Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, menilai bahwa kondisi ini mencerminkan fenomena klasik “sell the news” di mana ekspektasi positif telah lebih dulu diantisipasi pasar, namun tidak diikuti oleh realisasi yang sesuai.
"Ketika pidato Trump tidak memberikan kepastian, pelaku pasar memilih untuk mengurangi risiko. Ini terlihat dari dominasi distribusi volume dan penurunan open interest di pasar derivatif,” ujar Fyqieh dalam keterangannya, Kamis (2/4/2026).
Lebih lanjut, Fyqieh memproyeksikan bahwa dalam jangka pendek Bitcoin masih berpotensi bergerak dalam fase konsolidasi dengan kecenderungan volatil.
Selama Bitcoin masih berada di bawah area resistance US$ 70.000 - US$ 75.000, pergerakan harga cenderung sideways dengan risiko koreksi lanjutan, terutama jika tekanan makro seperti kenaikan harga energi dan suku bunga terus berlanjut.
Ia menambahkan, dalam skenario negatif, Bitcoin berpotensi menguji kembali area support di kisaran US$ 60.000, bahkan hingga US$ 40.000 - US$ 60.000 jika tekanan geopolitik meningkat dan likuiditas pasar menurun.
Namun, jika konflik mulai mereda dan likuiditas global kembali meningkat, Bitcoin memiliki peluang untuk kembali menguat secara bertahap.
Dalam jangka menengah hingga akhir 2026, prospek Bitcoin masih relatif positif.
Beberapa proyeksi menunjukkan harga berpotensi berada di kisaran US$ 80.000 hingga US$ 100.000 sebagai skenario dasar, dengan potensi kenaikan lebih tinggi jika didukung oleh arus masuk institusi dan stabilitas makroekonomi.
Secara fundamental, Bitcoin masih didukung oleh narasi jangka panjang seperti adopsi institusional dan efek pasca-halving.
Baca Juga: Tangkap Peluang Pertumbuhan Baru, DSSA Percepat Bisnis EBT dan Infrastruktur Digital
"Namun dalam jangka pendek, pasar akan sangat sensitif terhadap perkembangan geopolitik dan kebijakan moneter global. Artinya, volatilitas masih akan menjadi karakter utama dalam beberapa bulan ke depan,” tutup Fyqieh.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













