kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.655.000   -18.000   -0,67%
  • USD/IDR 17.973   81,00   0,45%
  • IDX 5.884   -217,45   -3,56%
  • KOMPAS100 764   -32,00   -4,02%
  • LQ45 578   -20,26   -3,39%
  • ISSI 203   -8,31   -3,92%
  • IDX30 327   -10,75   -3,18%
  • IDXHIDIV20 402   -10,48   -2,54%
  • IDX80 87   -3,59   -3,99%
  • IDXV30 109   -2,27   -2,04%
  • IDXQ30 105   -2,81   -2,60%

Saat Pasar Turun, Ini Jadi Kesempatan Beli Unit Reksadana Lebih Banyak


Senin, 27 April 2026 / 18:36 WIB
Saat Pasar Turun, Ini Jadi Kesempatan Beli Unit Reksadana Lebih Banyak
ILUSTRASI. ilustrasi Reksadana online, Belanja online, Investasi online (KONTAN/Panji Indra)


Reporter: Alya Fathinah | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pertumbuhan investasi reksadana di platform digital masih berlanjut, meski sempat melambat pada Maret 2026 seiring kondisi pasar yang bergejolak.

Direktur Utama PT Inovasi Finansial Teknologi (Makmur), Sander Parwira menilai perlambatan tersebut bersifat sementara dan tidak mengubah prospek jangka panjang industri reksadana.

"Kalau di bulan Maret itu growth kita melambat tapi masih ada growth kok," ujar Sander kepada Kontan, Senin (27/4/2026).

Baca Juga: Pasar Saham dalam Fase Konsolidasi, Ini Strategi Investasi yang Tepat

Ia menekankan, reksadana merupakan instrumen investasi jangka panjang sehingga investor sebaiknya tidak reaktif terhadap penurunan pasar jangka pendek. 

Sehingga, saat kondisi pasar sedang terkoreksi justru dapat menjadi peluang bagi investor untuk akumulasi unit reksadana dengan harga lebih rendah selama tetap sesuai dengan profil risiko masing-masing.

"Market lagi turun kita bisa dapat unit reksadana lebih banyak. Jadi lebih untung juga dalam jangka panjang," katanya.

Ia membagi strategi investasi berdasarkan profil risiko. Untuk investor konservatif, disarankan tetap berinvestasi pada instrumen berisiko rendah seperti reksadana pasar uang atau pendapatan tetap.

Sementara itu, bagi investor dengan profil agresif dan horizon investasi jangka panjang, kondisi pasar yang sedang turun dapat dimanfaatkan untuk masuk secara bertahap melalui strategi dollar cost averaging (DCA).

Ia mengingatkan agar investor tidak menginvestasikan dana sekaligus dalam satu waktu, melainkan bertahap agar tetap memiliki ruang saat harga kembali turun. "Jangan langsung dihajar kalau makin turun nanti sudah tidak ada peluru lagi gitu," kata Sander.

Baca Juga: IHSG dan Rupiah Kompak Melemah, Begini Alokasi Aset yang Disarankan

Dari sisi prospek, Sander optimis industri reksadana di Indonesia masih memiliki ruang pertumbuhan yang besar. 

Hal ini tercermin dari rasio dana kelolaan (asset under management/AUM) industri investasi baru 4% dari Produk Domestik Bruto (PDB) yang masih relatif rendah dibandingkan negara-negara tetangga seperti Malaysia yang mencatat 36% dan Thailand 30% dari PDB.

"Untuk Indonesia masih yang paling rendah, jauh lebih rendah dibandingkan tetangga-tetangga. Jadi opportunity untuk growth-nya tuh menurut saya masih sangat besar," tutupnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU
Langganan Business Insight promo optimal
Kontan Academy
Inventory Management: From Chaos to Control Sales Coaching: Lead Better, Sell More!

[X]
×