kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45928,35   -6,99   -0.75%
  • EMAS1.321.000 0,00%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Harga Saham Melejit Sejak IPO, Sejumlah Taipan Ini Mengantongi Cuan Jumbo


Jumat, 01 September 2023 / 06:35 WIB
Harga Saham Melejit Sejak IPO, Sejumlah Taipan Ini Mengantongi Cuan Jumbo


Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Wahyu T.Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bursa Efek Indonesia (BEI) kedatangan 64 emiten baru tahun ini. Ada sejumlah taipan yang sukses meraup cuan lewat aksi Initial Pulic Offering (IPO).

Salah satu perusahaan baru yang mencuri perhatian adalah PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN). Perusahaan tambang tembaga dan emas ini langsung masuk peringkat keenam dalam hal kapitalisasi pasar terbesar di BEI, dengan nilai sekitar Rp 325,78 triliun.

Kenaikan nilai pasar ini disebabkan oleh kenaikan harga saham AMMN yang signifikan. Sampai hari Kamis (31/8), harga saham AMMN mencapai Rp 4.530 per saham, naik sebesar 167,25% dari harga penawaran awal saat IPO sebesar Rp 1.695.

Perusahaan yang masuk BEI pada tanggal 7 Juli 2023 ini sering dikaitkan dengan keluarga Panigoro yang juga memiliki PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC). Namun, MEDC hanya memiliki kepemilikan saham sebesar 21,09% di AMMN dan bukan pengendali utama.

Pengendali utama AMMN adalah AP Investment, yang terkait dengan Grup Salim. Agoes Projosasmito, yang terhubung dengan Grup Salim, menjadi komisaris utama AMMN.

Baca Juga: 64 Perusahaan Sudah IPO Tahun Ini, Masih Ada 27 yang Antre Masuk Bursa

Prajogo Pangestu adalah salah satu tokoh kaya di Indonesia yang juga mendapatkan keuntungan dari IPO. Ia memiliki 85% saham PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN). Saham CUAN melonjak tajam sebesar 931,81%, dari harga IPO Rp 220 menjadi Rp 2.270 per saham.

Tokoh lain yang mendapatkan keuntungan dari IPO adalah Ram Jethmal Punjabi, yang memiliki 84,19% saham PT Tripar Multivion Plus Tbk (RAAM). Harga saham RAAM telah naik sebesar 203,41% dari harga IPO Rp 234 menjadi Rp 710 per saham.

Beberapa konglomerat dan grup bisnis besar lainnya juga telah membawa entitas bisnis mereka menjadi perusahaan publik. Misalnya, Garibaldi "Boy" Thohir dengan PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), Harita Grup dengan PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL), dan Grup Bakrie dengan PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) meski kinerja saham VKTR tak semoncer emiten baru lainnya.

aca Juga: Holding Geothermal Segera Dibentuk! PGEO Siap Menjadi Pimpinan Holding

Research & Consulting Manager Infovesta Utama Nicodimus Kristiantoro mengamati mayoritas konglomerat atau grup bisnis besar terbilang sukses menggelar IPO. Nama besar di balik aksi korporasi ini menjadi penambah daya tarik bagi calon investor untuk mengoleksi saham pendatang baru.

"Taipan atau grup besar akan lebih mudah menjaring minat investor, dibandingkan emiten yang nama dan pemiliknya jarang terdengar ke publik," ujar Nico.

Meski begitu, seberapa tinggi harga sahamnya bisa terbang akan kembali berpulang pada kondisi fundamental dan prospek bisnis emiten itu sendiri. Di samping fundamental dan prospek bisnis, Nico menyoroti dua katalis penting yang umumnya membuat saham IPO sukses.

Pertama, euforia yang bisa menarik minat investor untuk merangsang pergerakan sahamnya dalam jangka pendek. Kedua, strategi valuasi agar bisa menawarkan harga yang menarik (undervalued).

Nico memandang, saham yang naik tinggi seperti AMMN memiliki keduanya. "Pada saat IPO harga murah dibandingkan industri peers-nya, dan euforia cukup tinggi karena emitennya besar," kata Nico.

Baca Juga: Auto Rejection Simetris Berlaku Pekan, Pergerakan Saham Bakal Lebih Volatil

Analis Ekuator Swarna Sekuritas David Sutyanto menambahkan, perusahaan milik konglomerat umumnya dipersepsikan punya fundamental yang cukup stabil dengan dukungan dari grup bisnisnya. Meski begitu, di sisi lain saat ada sentimen negatif yang melanda, bisa jadi emitennya akan ikut terseret.

Pengamat Pasar Modal dan Founder WH-Project William Hartanto menimpali, rekam jejak dari konglomerat atau grup bisnis emiten juga memegang peran penting. Dia mencontohkan saham CUAN milik Prajogo Pangestu.

Emiten Prajogo yang sudah ada di bursa, yakni PT Barito Pacific Tbk (BRPT) dan PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) merupakan emiten big cap dengan reputasi yang baik. Begitu juga dengan Grup Salim yang terpandang di pasar saham.

Baca Juga: Ini Daftar Penjamin Emisi Paling Sukses Memboyong IPO, Harga Sahamnya Terbang Semua

Selanjutnya, faktor lain yang mendongkrak harga saham setelah IPO adalah terkait likuiditas dan saham beredar. Jumlah saham yang terbatas di bawah 25% umumnya mudah naik.

"Sisanya kembali ke minat pelaku pasar. Semakin bagus histori grupnya, semakin menarik sahamnya," sebut William.

Di antara saham-saham baru milik taipan itu, William merekomendasikan buy AMMN. Hanya saja, waspadai fluktuasi harga dan aksi profit taking. Sedangkan David menyarankan untuk mencermati saham AMMN dan CUAN.

Nico turut menyematkan rekomendasi buy untuk saham AMMN dan CUAN. Target harga masing-masing ada di level Rp 4.700 dan Rp 2.690 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×