kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.675.000   11.000   0,41%
  • USD/IDR 17.842   -48,00   -0,27%
  • IDX 6.402   100,12   1,59%
  • KOMPAS100 829   5,89   0,72%
  • LQ45 632   5,12   0,82%
  • ISSI 223   5,51   2,54%
  • IDX30 354   2,79   0,80%
  • IDXHIDIV20 430   2,74   0,64%
  • IDX80 95   0,68   0,73%
  • IDXV30 119   1,18   1,00%
  • IDXQ30 112   0,79   0,71%

Harga nikel terbang lebih dari 1%


Senin, 20 Juni 2016 / 15:45 WIB


Reporter: Namira Daufina | Editor: Yudho Winarto

JAKARTA. Pergerakan harga logam industri termasuk nikel kembali berpendar. Koreksi dollar Amerika Serikat (AS) dan kenaikan permintaan yang disinyalir mulai menyusupi pasar global dinilai jadi penopang utama melesatnya harga nikel.

Mengutip Bloomberg, Senin (20/6) 11.14 am Shanghai, harga nikel kontrak pengiriman tiga bulan di London Metal Exchange melesat 1,8% di level US$ 9.225 per metrik ton dibanding hari sebelumnya.

Selain karena permintaan yang dinilai meningkat, harga nikel juga terangkat oleh pasokan yang dikhawatirkan menyusut. Menurut Bloomberg survey, kekhawatiran akan Brexit tidak hanya menaikkan pamor aset safe haven tapi juga komoditas. Itu yang bisa jadi faktor kuat untuk menerbangkan harga nikel.

Pernyataan Presiden Filipina, Rodrigo Duterte yang menyampaikan apabila di Filipina ada tambang yang operasionalnya membahayakan lingkungan diwajibkan untuk memperbaharui proses operasi dengan yang lebih ramah lingkungan atau menutup tambangnya.

Jelas ini menjadi batu ganjalan bagi para produsen tambang karena seperti yang diketahui untuk beralih ke sistem ramah lingkungan dibutuhkan biaya yang tidak sedikit.

“komentar tersebut membuat harga nikel untuk jangka pendek masuk dalam tren bullish karena kekhawatiran menyusutnya produksi dan pasokan global,” kata Celia Wang, Researcher Shanghai based trading house Grand Flow Resources Co., seperti dikutip dari Bloomberg, Senin (20/6).

Belum lagi dari sisi permintaan, proyek Tsingshan di Indonesia diprediksi akan meningkatkan permintaan. Direncanakan Tsingshan Holding Group Co akan memulai tambang bajanya dengan kapasitas produksi 1 juta ton di Sulawesi Indonesia. Tentunya ini bisa menyerap pasokan nikel yang ada dan mendongkrak harga nikel.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×