Reporter: Alya Fathinah | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penurunan tajam harga minyak dunia dinilai lebih mencerminkan koreksi jangka pendek seiring meredanya risiko geopolitik setelah kesepakatan awal antara Amerika Serikat dan Iran.
Namun, arah pergerakan harga selanjutnya masih akan sangat bergantung pada hasil pertemuan kedua negara yang dijadwalkan pada 10 April mendatang.
Analis komoditas sekaligus founder Traderindo.com, Wahyu Laksono menilai koreksi harga minyak saat ini sebagai unwinding of war premium atau penghapusan premi risiko perang daripada sekadar kepanikan sesaat.
Pasar sebelumnya telah memfaktorkan skenario terburuk seperti serangan ke infrastruktur energi Iran, sehingga ketika gencatan senjata diumumkan, harga terjun bebas untuk mencari titik keseimbangan baru
Menurut Wahyu, untuk melihat seberapa kuat dan kredibel dampak kesepakatan tersebut masih perlu menunggu perkembangan lanjutan, terutama dari pertemuan langsung AS dan Iran.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Turun di Bawah US$100, Tekanan Inflasi Global Mulai Mereda
"Meskipun Iran berkomitmen membuka kembali Selat Hormuz, status distrust atau ketidakpercayaan tetap tinggi. Ini adalah gencatan senjata taktis, bukan perdamaian permanen," ujar Wahyu kepada Kontan, Rabu (8/4/2026).
Namun, secara jangka pendek dapat dikatakan bahwa kesepakatan gencatan senjata AS - Iran memiliki dampak cukup kuat untuk meredam laju bullish harga minyak yang dapat terlihat dari koreksi harga minyak hari ini.
Di sisi lain, ia menilai pemulihan rantai pasok global tidak bisa terjadi dalam waktu singkat. Meski jalur strategis Selat Hormuz dibuka selama dua pekan, pelaku industri pelayaran dinilai belum tentu berani langsung melintasi jalur tersebut.
Selain itu, potensi antrean kapal akibat penumpukan sebelumnya serta pemulihan produksi energi juga membutuhkan waktu. Dengan kondisi tersebut, stabilisasi pasar minyak diperkirakan memerlukan waktu hingga berbulan-bulan untuk kembali ke kondisi sebelum konflik Iran.
Baca Juga: Harga Minyak & Emas Dunia Berpeluang Kembali Menguat Bersamaan Dalam Waktu Dekat
Wahyu menambahkan, potensi rebound harga minyak masih terbuka lebar, mengingat hasil pertemuan AS–Iran pada 10 April akan menjadi penentu arah kelanjutan gencatan senjata.
Sebaliknya, kemungkinan harga minyak kembali menembus level US$ 100 per barel juga masih tinggi apabila konflik kembali memanas, terutama jika jalur Selat Hormuz kembali ditutup dan dapat mengganggu pasokan energi global.
Wahyu memproyeksi dalam skenario konflik memanas, harga minyak berpotensi rebound menuju level resistance di kisaran US$ 100 - US$ 110 per barel. Sebaliknya, jika kesepakatan damai berlanjut dan distribusi energi kembali normal, harga minyak berpeluang turun ke level support di kisaran US$ 90 - US$ 80 per barel.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Stabil, Pasar Cermati Ketegangan Iran-AS dan Data Ekonomi AS
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













