Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Harga minyak dunia ditutup menguat tipis pada perdagangan Rabu (15/7/2026), seiring pelaku pasar mencermati penurunan persediaan minyak mentah Amerika Serikat (AS) yang lebih kecil dari perkiraan.
Di sisi lain, eskalasi konflik antara AS dan Iran belum mampu mendorong lonjakan harga karena investor menilai risiko gangguan pasokan masih terbatas.
Minyak mentah Brent ditutup naik 22 sen atau 0,26% ke level US$ 84,95 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 26 sen atau 0,33% menjadi US$ 79,60 per barel.
Baca Juga: Harga Minyak Bergerak Tipis, Pasar Cermati Perkembangan Pembicaraan AS–Iran
Data Badan Informasi Energi AS (EIA) menunjukkan persediaan minyak mentah AS turun 1,7 juta barel pada pekan lalu. Penurunan ini lebih kecil dibandingkan proyeksi pasar yang memperkirakan penyusutan mencapai 2,6 juta barel.
Selain itu, stok produk distilat justru meningkat 4,6 juta barel, jauh di atas ekspektasi kenaikan sebesar 100.000 barel. Kondisi tersebut mengindikasikan pasokan energi di AS masih relatif stabil sehingga membatasi kenaikan harga minyak.
"Pasokan minyak mulai menunjukkan tanda-tanda stabil," kata analis senior Price Futures Group, Phil Flynn.
Di saat yang sama, ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat setelah AS melancarkan serangan baru terhadap sejumlah instalasi militer Iran yang disebut digunakan untuk mendukung serangan terhadap kapal-kapal komersial di Selat Hormuz.
Washington juga kembali memberlakukan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Baca Juga: Harga Minyak Turun Tipis, Pasar Tunggu Kepastian Perdamaian AS dan Iran
Sebagai balasan, Garda Revolusi Iran menyatakan telah menyerang sejumlah target militer AS di kawasan, termasuk di Bahrain, Kuwait, dan Yordania. Iran juga mengancam akan menutup jalur-jalur ekspor lain yang menguntungkan AS dan sekutunya.
Konflik tersebut memperbesar kekhawatiran terhadap kelancaran pasokan energi global. Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang sebelum perang dilalui sekitar 20% perdagangan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia.
Analis juga menilai Iran berpotensi memanfaatkan kelompok Houthi di Yaman untuk mengganggu pelayaran di Bab el-Mandeb, jalur penting yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden.
Menurut analis UBS Giovanni Staunovo, blokade laut AS terhadap pelabuhan Iran turut memperkuat sentimen harga minyak. Dalam dua pekan terakhir, ekspor minyak mentah Iran diperkirakan masih berada di kisaran 1,5 juta hingga 2 juta barel per hari.
Baca Juga: Harga Minyak Naik, di Tengah Kekhawatiran Pasokan Seiring Meluasnya Konflik Iran
Sementara itu, Goldman Sachs memperkirakan ekspor minyak dari kawasan Teluk yang sempat pulih menjadi lebih dari 80% dari level sebelum perang setelah tercapainya nota kesepahaman AS-Iran pada Juni, kini kembali turun menjadi di bawah 50% atau sekitar 11 juta barel per hari dalam sepekan terakhir.
Bank investasi tersebut memperingatkan harga Brent berpotensi melampaui US$110 per barel pada kuartal IV tahun ini apabila pemulihan ekspor minyak dari kawasan Teluk terus terhambat.
Meski demikian, pelaku pasar masih berhati-hati dalam memberikan premi risiko yang besar terhadap harga minyak. Investor menilai perkembangan konflik di Timur Tengah masih berlangsung dinamis dan belum sepenuhnya berdampak pada gangguan pasokan energi global secara signifikan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_24062609492500.jpg)
