kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.711.000   2.000   0,07%
  • USD/IDR 17.818   -194,00   -1,08%
  • IDX 6.008   121,62   2,07%
  • KOMPAS100 794   18,85   2,43%
  • LQ45 597   10,61   1,81%
  • ISSI 206   5,10   2,54%
  • IDX30 339   4,60   1,38%
  • IDXHIDIV20 418   3,54   0,86%
  • IDX80 90   1,96   2,24%
  • IDXV30 113   2,76   2,50%
  • IDXQ30 109   1,12   1,03%

Harga minyak mentah melonjak 2% setelah IEA menaikkan proyeksi permintaan minyak


Sabtu, 11 Juli 2020 / 06:21 WIB
ILUSTRASI. Harga minyak mentah


Sumber: Reuters | Editor: Anna Suci Perwitasari

Tetapi harga minyak tidak bisa langsung tancap gas setelah laporan infeksi virus corona baru di AS capai 60.500 kasus pada hari Kamis lalu. Ini menjadi jumlah harian tertinggi untuk negara mana pun sejak virus corona muncul di China tahun lalu.

"Sementara pasar minyak tidak diragukan lagi membuat kemajuan besar, dan di beberapa negara, percepatan jumlah kasus COVID-19 adalah pengingat yang mengganggu bahwa pandemi tetap tidak terkendali," kata IEA.

Selain itu, harga minyak juga mendapat tekanan setelah Libya National Oil Corporation mengumumkan telah mengangkat force majeure pada semua ekspor minyak setelah setengah tahun blokade oleh pasukan timur.

Baca Juga: Dow Jones dan S&P 500 menguat di atas 1%, progres obat Covid-19 jadi pendukung

"Ekspor Libya yang diperkirakan akan dimulai kembali bakal menambah kerentanan pembatasan produksi minyak yang dilakukan OPEC+," kata Jim Ritterbusch, President Ritterbusch and Associates.

Persediaan minyak tetap membengkak karena penguapan permintaan bahan bakar selama wabah awal.

"Jika kami mengambil gambaran pasar yang lebih besar, yang menonjol adalah bahwa kami belum melihat banyak penurunan di bagian persediaan global," kata JBC.

Persediaan minyak mentah AS naik hampir 6 juta barel minggu lalu, padahal analis telah memperkirakan penurunan. Ketegangan yang memuncak antara Amerika Serikat dan China juga menekan harga. 

Negeri Tirai Bambu mengatakan, akan memberlakukan tindakan timbal balik sebagai tanggapan terhadap sanksi AS terhadap pejabat China atas dugaan pelanggaran hak asasi manusia terhadap minoritas Muslim Uighur.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×