kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.769.000   -50.000   -1,77%
  • USD/IDR 17.586   33,00   0,19%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Harga Minyak Menguat pada Awal Pekan, Tersulut Ketegangan AS-China


Senin, 13 Oktober 2025 / 07:28 WIB
Harga Minyak Menguat pada Awal Pekan, Tersulut Ketegangan AS-China
ILUSTRASI. Harga minyak naik setelah pemerintahan Presiden AS Donald Trump mengisyaratkan keterbukaan terhadap kesepakatan dengan China. REUTERS/Dado Ruvic


Reporter: Herlina KD | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak menguat pada awal perdagangan pekan ini. Mengutip Bloomberg, Senin (13/10/2025) pukul 07.18 WIB, harga minyak west texas intermediate (WTI) untuk pengiriman November 2025 di New York Mercantile Exchange ada di US$ 59,62 per barel, naik 1,22% dari akhir pekan lalu yang ada di US$ 58,90 per barel.

Harga minyak naik setelah pemerintahan Presiden AS Donald Trump mengisyaratkan keterbukaan terhadap kesepakatan dengan China untuk meredakan ketegangan perdagangan baru antara kedua negara.

Mengutip Bloomberg, Trump pada Jumat pekan lalu mengumumkan tarif tambahan 100% terhadap China sera kontrol ekspor atas perangkat lunak penting mulai 1 November 2025.

Baca Juga: Harga Minyak Turun, Premi Risiko Memudar Pasca Kesepakatan Gaza

Langkah ini dilakukan menyusul aksi Beijing yang menambahkan biaya pelabuhan baru bagi kapal-kapal AS dan pembatasan ekspor tanah jarang dan material penting lainnya.

Pada Minggu (12/10/2025), Trump menunjukkan kesediaan untuk mencapai kesepakatan. Sementara Beijing mendesak Washington untuk bernegosiasi dan mengatakan tidak akan ragu untuk membalas ancaman.

"Kami akan baik-baik saja dengan China," kata Trump kepada Wartawan pada Senin (13/10/2025) dini hari.

"Pasar sudah memperhitungkan skenario terburuk, jadi nada yang lebih lunak dari Trump masih memberi ruang bagi minyak mentah untuk bernapas," kata Haris Khurshid, kepala investasi di Karobaar Capital LP seperti dikutip Bloomberg.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU

[X]
×