kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Harga minyak kembali turun tertekan sinyal membengkaknya pasokan AS


Kamis, 17 Oktober 2019 / 16:28 WIB
Harga minyak kembali turun tertekan sinyal membengkaknya pasokan AS
ILUSTRASI. FILE PHOTO: A pump jack operates in the Permian Basin oil and natural gas production area near Odessa, Texas, U.S., February 10, 2019. Picture taken February 10, 2019. REUTERS/Nick Oxford/File Photo

Reporter: Yasmine Maghfira | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak kembali turun di perdagangan Kamis (17/10). Melansir Bloomberg pukul 15.59 WIB, minyak Brent pengiriman Desember US$ 59,15 per barel turun 0,45% dari sesi sebelumnya.

Minyak West Texas Intermediate (WTI) pengiriman November 2019 di New York Mercantile Exchange ke US$ 52,98 per barel ke 0,71% dari sesi sebelumnya.

Analis Monex Investindo Faisyal menyampaikan, pemicu awal harga minyak kembali turun dikarenakan hasil laporan American Petroleum Institute (API) yang menunjukkan adanya kenaikan persediaan minyak Amerika Serikat (AS) sebesar 10,5 juta barel pada pekan lalu.

Baca Juga: Harga minyak tertekan kenaikan stok AS, perang dagang masih membayangi

Namun, Faisyal menjelaskan, kalau penyebab utamanya bukan hasil API, melainkan masih tidak stabilnya kondisi ekonomi global saat ini. Terutama karena pasar masih mewaspadai keberlanjutan kesepakatan perang dagang antara AS dan China yang sudah berlangsung kurang lebih selama 15 bulan.

Faisyal menilai kesepakatan fase pertama tersebut kemungkinan bisa batal karena China menuntut lebih.

"Akibatnya, semakin memburuknya hubungan kedua negara itu dapat memicu kekhawatiran perlambatan ekonomi global," ujar Faisyal kepada Kontan.co.id, Kamis (17/10).

Dengan melambatnya perekonomian global tentu akan berpengaruh terhadap tingkat permintaan global yang membuat harga minyak semakin tereduksi turun.

Faisyal menyatakan sentimen tersebut masih berlanjut terhadap potensi pelemahan harga minyak pada perdagangan Jumat (18/10) ataupun hingga pekan depan.

Baca Juga: Harga minyak tertahan kenaikan stok sepekan lalu

Akan tetapi, penurunan harga minyak masih berlanjut jika data Administrasi Informasi Energi AS (EIA) yang akan rilis nanti malam betul adanya seperti ekspektasi pasar yang menilai adanya kenaikan persediaan minyak hingga 3 juta barel.

Faisyal menilai jika data EIA terkonfirmasi dan bahkan hasilnya lebih dari ekspektasi pasar, maka harga minyak akan semakin terkoreksi.

Sementara, untuk pekan depan sentimen yang terus dicermati pasar adalah perkembangan negosiasi antara AS dan China, serta laporan aktivitas produksi AS yang biasanya rilis pada akhir pekan.

"Jika data tersebut menunjukkan kenaikan angka produksi dan hubungan AS dan China tidak membaik, tentu akan terus menekan harga minyak semakin dalam," tambah Faisyal.

Baca Juga: Harga minyak merambat naik setelah turun lebih dari 3% sejak awal pekan

Kendati demikian, pasar memang berekspektasi data EIA atau ekonomi mingguan AS menunjukkan kenaikan produksi minyak. Namun, walau pelaku pasar memperkirakan hal tersebut tetap saja menjadi sentimen negatif bagi harga minyak.

Faisyal memproyeksi harga minyak pada esok hari masih berpotensi melemah jika produksi minyak dari data EIA benar naik. Ia memperkirakan harga minyak melemah dengan support US$ 51,40 per barel dan resistance US$ 54,80 per barel.

Sementara, untuk pekan depan ada tambahan sentimen dari rilis data produksi minyak Shell yang diperkirakan akan meningkat juga. Maka, hal itu akan membuat harga minyak semakin tertekan.

Baca Juga: Neraca dagang September 2019 mengalami defisit, ini pendapat ekonom

Faisyal memproyeksi pekan depan harga minyak masih potensi lemah dengan support di level US$ 50,50 dan resistance US$ 55,80 karena pergerakan minyak masih menunjukkan posisi jual. Faisal merekomendasi pada perdagangan besok sampai pekan depan untuk sell komoditas minyak.

Selain itu, berdasarkan kondisi perekonomian global saat ini, Faisyal memproyeksi harga minyak WTI sampai akhir tahun ini hanya menyentuh level US$ 44 per barel.

Rendahnya proyeksi tersebut diiringi kondisi kebijakan dari OPEC yang berencana menurunkan produksi. Jika OPEC tidak merealisasikan kebijakan tersebut, maka harga minyak berpotensi terus terseret.



Video Pilihan

TERBARU

Close [X]
×