kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Harga minyak tertekan kenaikan stok AS, perang dagang masih membayangi


Kamis, 17 Oktober 2019 / 14:03 WIB
Harga minyak tertekan kenaikan stok AS, perang dagang masih membayangi
ILUSTRASI. FILE PHOTO: A pump jack operates in the Permian Basin oil and natural gas production area near Odessa, Texas, U.S., February 10, 2019. Picture taken February 10, 2019. REUTERS/Nick Oxford/File Photo

Reporter: Yasmine Maghfira | Editor: Wahyu Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak kembali turun di awal perdagangan Kamis (17/10). Mengutip Bloomberg, pukul 10.40 WIB, harga minyak west texas intermediate (WTI) untuk pengiriman November 2019 di New York Mercantile Exchange turun 0,90% ke US$ 52,88 per barel. 

Penurunan tersebut sebetulnya sudah terjadi sejak pagi hari. Pukul 7.10 WIB, harga minyak WTI bahkan turun 1,07% ke US$ 52,79 per barel. Penyebab utama penurunan harga minyak di sesi awal perdagangan adalah rilis laporan American Petroleum Institute (API) yang menunjukkan adanya kenaikan persediaan minyak Amerika Serikat (AS) sebesar 10,5 juta barel pada pekan lalu.

Analis Asia Trade Point Futures Deddy Yusuf Siregar membenarkan bahwa turunnya harga minyak karena kenaikan persediaan minyak mingguan AS. Sebab, kenaikan tersebut di atas ekspektasi pelaku pasar.

Namun, Deddy mengatakan bahwa secara umum sebetulnya pergerakan harga minyak memang cenderung stagnan. Artinya, kisaran harga minyak tidak terlalu lebar.

"Maksudnya, harga minyak terus naik dan turun sampai saat ini karena pelaku pasar terus mencermati kondisi ekonomi global," ujar Deddy kepada Kontan pada Kamis (17/10).

Baca Juga: Harga minyak tertahan kenaikan stok sepekan lalu

Deddy mengungkapkan faktor utama harga minyak yang fluktuatif tersebut disebabkan oleh masih adanya ketidakpastian akan negosiasi perang dagang antara AS dan China. Ia menilai pelaku pasar masih memerhatikan tahap selanjutnya dari kesepakatan dua negara tersebut. Apalagi di fase pertama kemarin China memang menyetujui kesepakatan keduanya.

Akan tetapi, pemerintah China mulai bertanya apakah di bulan Desember mendatang akan ada pengenaan tarif impor baru atau tidak. Sehingga kondisi ketidakpastian tersebut membuat pelaku pasar masih ragu apakah nantinya kesepakatan AS dan China berdampak positif atau negatif.

Ditambah lagi, data ritel AS yang juga turun membuat pasar yakin sekaligus mewaspadai kemungkinan The Fed akan menurunkan suku bunganya kembali pada pertemuan FOMC pekan depan.

Di sisi lain, masih ada sentimen dari Timur Tengah yaitu Turki yang belum menanggapi secara positif ajakan AS untuk melakukan gencatan senjata. Ditambah lagi, IMF merevisi pertumbuhan ekonomi dunia di tahun 2020 menjadi 3% yang tadinya 3,2%. Artinya, pertumbuhan minyak belum menunjukkan ekspansi. Apalagi pelaku pasar masih mengkhawatirkan kawasan Eropa akan mengalami resesi. Apalagi secara berturut-turut data ekonomi Jerman mengalami kontraksi.

Baca Juga: BP Statistical Review: Konsumsi energi primer semakin meningkat

Deddy juga menilai bahwa 31 Oktober nanti yang akan berpeluang terjadi opsi proses soft Brexit juga menjadi sentimen positif di tengah peliknya kondisi ekonomi global saat ini. 

Berdasarkan sentimen-sentimen tersebut, Deddy menilai harga minyak sampai akhir tahun ini masih sulit menyentuh angka US$ 70 per barel. Namun, ia memproyeksikan untuk perdagangan sampai akhir pekan ini pada Jumat (18/10), harga minyak berpotensi melemah dengan resistance US$ 53,40 per barel dan support US$ 52,30 per barel. Ia juga merekomendasi sell.

Sementara secara teknikal, Deddy memperkirakan sepekan besok harga minyak di bawah MA 50, 100, dan 200 yang berpeluang melemah. Indikator RSI di area 41 serta stochastic di area 37 juga menunjukkan pelemahan pada harga minyak. MACD juga berada di area negatif. Alhasil, terlihat potensi jual.

Deddy memperkirakan pekan besok masih potensi menurun dan merekomendasikan sell untuk pekan besok dengan harga di kisaran US$ 51,20 hingga US$ 54,50 per barel. 



Video Pilihan

TERBARU

×