Sumber: Reuters | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak melemah pada perdagangan hari ini karena kekhawatiran atas pemulihan yang lambat dalam permintaan bahan bakar global yang tertekan oleh pandemi virus corona. Di saat yang sama, datang peringatan prospek suram dari produsen minyak utama.
Selasa (15/9) pukul 14.40 WIB, harga minyak mentah jenis Brent kontrak pengiriman November 2020 turun 4 sen atau 0,1% menjadi US$ 39,57 per barel.
Setali tiga uang, harga minyak mentah berjangka jenis West Texas Intermediate (WTI) kontrak pengiriman Oktober 2020 juga melemah 2 sen atau 0,1% ke US$ 37,24 per barel.
Kedua kontrak acuan ini berakhir sedikit lebih rendah pada perdagangan hari sebelumnya.
Baca Juga: Harga minyak turun tipis, Selasa (15/9) pagi, terseret suramnya prospek permintaan
Namun, kerugian dibatasi oleh short-covering menjelang pertemuan penting akhir pekan ini dari Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya, yang dikenal sebagai OPEC +, untuk membahas kepatuhan dengan program pemotongan produksi yang ambisius untuk menopang harga.
"Sentimen di pasar minyak tetap suram karena prospek permintaan yang suram oleh produsen minyak dan karena kebangkitan kembali kasus Covid-19 di banyak negara memicu kekhawatiran atas kenaikan permintaan bahan bakar global yang lebih lambat," kata Chiyoki Chen, Kepala Analis Sunward Trading.
"Brent dan WTI kemungkinan akan bertahan di kisaran US$ 35 dan US$ 40 per barel sampai permintaan Amerika Serikat (AS) untuk minyak pemanas mulai meningkat karena puncak musim mengemudi telah berakhir," jelas dia.
Produsen dan pedagang industri minyak utama memperkirakan masa depan suram untuk permintaan bahan bakar dunia, karena serangan pandemi yang sedang berlangsung terhadap ekonomi global. Terlebih OPEC sudah menurunkan perkiraan permintaan minyaknya dan BP mengatakan permintaan mungkin telah mencapai puncaknya pada 2019.
Dalam laporan bulanannya, OPEC menyebut permintaan minyak dunia akan turun 9,46 juta barel per hari (bph) tahun ini. Jumlah tersebut lebih banyak dari perkiraan di bulan lalu yang hanya 9,06 juta barel per hari.
Di saat yang sama, kekhawatiran atas peningkatan pasokan global kembali datang setelah Komandan Libya Khalifa Haftar berkomitmen untuk mengakhiri blokade fasilitas minyak yang sudah berjalan lama.
"Beberapa investor beralih ke kas dalam posisi pendek yang menguntungkan menjelang pertemuan OPEC +," kata Hiroyuki Kikukawa, General Manager of Research Nissan Securities.
Baca Juga: Harga CPO sentuh rekor, analis ingatkan potensi pembalikan harga
Komite pemantauan bersama para menteri OPEC+ (JMMC) akan bertemu pada hari Kamis (17/9) untuk membahas kepatuhan dengan pemotongan dalam produksi. Tetapi para analis tidak mengharapkan pengurangan lebih lanjut meskipun harga Brent turun di bawah US$ 40 per barel dalam beberapa hari terakhir.
Harga minyak mentah sedikit mendapat tenaga setelah adanya kekhawatiran gangguan pasokan di AS karena badai Sally. Sejumlah perusahaan energi, pelabuhan, dan penyulingan berlomba pada hari Senin untuk tutup karena Badai Sally semakin kuat saat bergerak menuju Pantai Teluk AS tengah, badai signifikan kedua yang menutup aktivitas minyak dan gas dalam sebulan terakhir.
"Namun, dukungan terbatas karena harga minyak turun dengan cepat setelah badai pertama berlalu, dengan perusahaan energi dapat membuat persiapan yang tepat sebelumnya," kata Chen dari Sunward.
Sementara itu, produksi minyak mentah China pada Agustus naik dari tahun lalu, mencapai rekor tertinggi kedua, karena kilang bekerja untuk mencerna rekor impor yang dibawa awal tahun ini.
Selanjutnya: Harga komoditas pekan ini diprediksi bergerak mixed
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Excel for Business Reporting](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_28012616011400.jpg)