kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45963,73   -4,04   -0.42%
  • EMAS1.324.000 1,38%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Harga Minyak Dunia Naik 2%, Fokus ke OPEC+ dan Produksi Kazakhstan yang Dilanda Badai


Rabu, 29 November 2023 / 05:37 WIB
Harga Minyak Dunia Naik 2%, Fokus ke OPEC+ dan Produksi Kazakhstan yang Dilanda Badai
ILUSTRASI. Kilang minyak mentah


Reporter: Yudho Winarto | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak melonjak pada hari Selasa (28/11), ditutup naik sekitar 2%. Didukung oleh kemungkinan OPEC+ akan memperpanjang atau memperdalam pengurangan suplai, penurunan produksi minyak Kazakhstan akibat badai dan melemahnya dolar Amerika Serikat (AS).

Melansir Reuters, harga minyak mentah Brent ditutup naik US$1,70 atau 2,1% pada US$81,68 per barel. Sedangkan, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik US$1,55 atau 2,1% menjadi US$76,41.

OPEC+, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya termasuk Rusia akan mengadakan pertemuan tingkat menteri secara online pada hari Kamis (30/11) untuk membahas target produksi 2024.

“Pembicaraan ini akan sulit dan kemungkinan akan terjadi pembatalan kesepakatan sebelumnya daripada pemangkasan produksi yang lebih dalam,” kata empat sumber OPEC+.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Jatuh, Brent Menetap di Bawah US$80 Menjelang Pertemuan OPEC+

Pasar jatuh minggu lalu ketika OPEC+ mengundurkan tanggal awal pertemuannya untuk mengatasi perbedaan target produksi untuk produsen-produsen Afrika.

"Kami percaya fokus utama pasar adalah kelanjutan dari pemangkasan sukarela tambahan Arab Saudi sebesar 1 juta barel per hari," kata Walt Chancellor, analis energi di Macquarie dalam sebuah catatannya.

"Kami percaya perpanjangan pemangkasan ini hingga Q2/Q3 2024 dapat mewakili ambang batas untuk pertemuan ini yang dipandang bullish."

Carsten Fritsch dari Commerzbank mengatakan, salah satu kompromi yang mungkin dapat melibatkan Angola dan Nigeria menerima pengurangan target produksi selama beberapa bulan jika target untuk negara-negara lain juga diturunkan.

"Menurut para delegasi, Arab Saudi menuntut kuota produksi yang lebih rendah dari negara-negara OPEC+ lainnya. Meskipun Kuwait telah mengisyaratkan bahwa mereka bersedia melakukannya, beberapa negara tampaknya menentang langkah tersebut."

Baca Juga: Bukan AS atau China, Inilah Negara dengan Pertumbuhan Ekonomi Tercepat Menurut Ekonom

Uni Emirat Arab kemungkinan besar akan menentang hal ini mengingat, target produksi 2024 dinaikkan atas desakannya ketika OPEC+ mengadakan pertemuan sebelumnya pada awal Juni, tambahnya.

Minyak juga mendapat dukungan dari melemahnya dolar, perkiraan penurunan persediaan minyak mentah AS dan penurunan produksi Kazakhstan.

Di tempat lain, ladang minyak terbesar di Kazakhstan telah memangkas produksi minyak harian gabungan mereka sebesar 56%.

Persediaan minyak mentah AS turun 817.000 barel minggu lalu, menurut sumber-sumber pasar yang mengutip angka-angka dari American Petroleum Institute.

Data mingguan pemerintah AS mengenai stok akan dirilis pada hari Rabu (29/11) ini.

Sementara itu, dolar AS merosot ke level terendah tiga bulan pada hari Selasa setelah Gubernur Federal Reserve AS Christopher Waller mengisyaratkan kemungkinan penurunan suku bunga kebijakan Fed dalam beberapa bulan ke depan jika inflasi menurun lebih lanjut.

Baca Juga: Konflik Mata Uang Memperburuk Perdagangan Minyak Rusia dengan Asia

Dolar yang lebih lemah biasanya meningkatkan permintaan minyak, membuat minyak dalam denominasi dolar menjadi lebih murah bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain.

Di Timur Tengah, pasukan Israel dan pejuang Hamas menahan tembakan mereka melewati batas waktu gencatan senjata yang telah ditetapkan, yang diperpanjang pada menit-menit terakhir selama dua hari untuk membebaskan lebih banyak sandera.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×