Reporter: Alya Fathinah | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Eskalasi konflik di Timur Tengah dalam sebulan terakhir tak lagi sekadar memicu sentimen pasar, tetapi mulai mengganggu pasokan minyak global secara nyata. Kondisi ini membuka peluang bagi saham-saham sektor energi, meski risiko volatilitas harga masih tinggi.
Dalam 30 hari terakhir, gangguan di kawasan tersebut diperkirakan telah memangkas pasokan minyak global sebesar 8 juta hingga 11 juta barel per hari (mbpd) atau setara 9% hingga 11% dari total permintaan dunia.
Analis BRI Danareksa Sekuritas, Andhika Audrey, menilai arah pasar ke depan sangat bergantung pada durasi dan intensitas gangguan, terutama di Selat Hormuz sebagai jalur utama distribusi minyak dunia.
Baca Juga: Rupiah Melemah ke Level Terendah, Proyeksi Masih di Kisaran Rp 17.000 per Dollar AS
Dalam skenario optimistis dua hingga enam minggu ke depan, aliran minyak diperkirakan pulih sebagian di kisaran 20%–40%. Pemulihan ini berpotensi menekan kehilangan pasokan bersih menjadi sekitar 1–4 mbpd didukung pengalihan rute distribusi dan pelepasan cadangan minyak strategis (strategic petroleum reserve/SPR). Harga minyak Brent pun diperkirakan bergerak di kisaran US$ 80–US$ 90 per barel.
Namun, jika gangguan berlanjut dalam skenario moderat selama 6–16 minggu, pemulihan diperkirakan terbatas di level 5%–20%. Dalam kondisi ini, potensi kehilangan pasokan bisa mencapai 6–11 mbpd dengan harga Brent berpeluang naik ke kisaran US$ 100–US$ 115 per barel.
Adapun dalam skenario berkepanjangan lebih dari tiga hingga enam bulan, risiko pasar menjadi jauh lebih ekstrem. Aliran minyak berpotensi turun di bawah 5%, sehingga memicu kehilangan pasokan hingga 12–17 mbpd. Kondisi ini dapat mendorong kelangkaan pasokan global dan mengerek harga Brent ke kisaran US$ 110–US$ 135 per barel.
Di tengah situasi tersebut, saham sektor energi dinilai masih menarik dalam jangka pendek. Emiten seperti PT Medco Energi Internasional Tbk, PT Elnusa Tbk, PT Energi Mega Persada Tbk, dan PT Raharja Energi Cepu Tbk menjadi sorotan seiring sensitivitas kinerjanya terhadap pergerakan harga minyak.
Andhika menilai MEDC layak dicermati dalam tiga bulan ke depan, didukung proyeksi pertumbuhan produksi pada 2026 yang mencapai 165.000–170.000 barel per hari, atau meningkat sekitar 5,7%–8,9% dibandingkan tahun sebelumnya. Kinerja perseroan juga berpotensi terdongkrak jika harga minyak tetap tinggi.
Ia juga menambahkan, emiten batubara berpeluang menjadi pihak yang paling diuntungkan apabila gangguan pasokan energi berlangsung lebih lama.
Sementara itu, Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi, menilai emiten hulu seperti MEDC dan ENRG akan diuntungkan dari kenaikan harga jual rata-rata (average selling price/ASP) yang berpotensi memperlebar margin.
"Sektor jasa penunjang migas seperti ELSA dan RATU diuntungkan secara tidak langsung melalui peningkatan volume kontrak seiring naiknya capex eksplorasi dari produsen migas," ujar Wafi kepada Kontan, Jumat (10/4/2026).
Pandangan serupa disampaikan Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta.
Ia melihat emiten energi saat ini cukup agresif melakukan pengeboran dan eksplorasi, yang berpotensi meningkatkan permintaan jasa drilling dan seismik. Namun, volatilitas nilai tukar rupiah tetap menjadi faktor risiko karena dapat meningkatkan beban operasional.
“Meski begitu, prospeknya masih positif karena didorong kenaikan average selling price yang berdampak pada pertumbuhan pendapatan,” kata Nafan, Minggu (12/4/2026).
Dari sisi rekomendasi, Nafan menyarankan Accumulative Buy untuk ELSA dengan target harga Rp 865 per saham serta MEDC dengan target Rp 1.950 per saham dan rekomendasi Add untuk RATU dengan target Rp 8.250.
Adapun Wafi merekomendasikan buy untuk MEDC dengan target harga Rp 1.800 per saham, ELSA dengan target harga Rp 900 per saham, ENRG dengan target harga Rp 2.000 per saham, dan RATU dengan target harga Rp 6.000 per saham. Sementara itu, Andhika memberikan rekomendasi buy untuk MEDC dengan target harga Rp 2.000 per saham.
Baca Juga: Simak Jadwal Pembagian Dividen Rp 1,03 Triliun dari Bank OCBC (NISP)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













