Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Harga minyak dunia mengalami penurunan sekitar 2% pada hari Selasa, mencapai level terendah dalam dua bulan terakhir.
Pelemahan ini dipicu oleh data ekonomi yang mengecewakan dari Amerika Serikat dan Jerman, yang menimbulkan kekhawatiran akan melambatnya permintaan energi.
Selain itu, prospek peningkatan produksi minyak dari beberapa negara turut menekan harga di pasar global.
Baca Juga: Harga Minyak Anjlok Karena Kekhawatiran Pertumbuhan Permintaan dan Penguatan Dolar
Kontrak berjangka minyak mentah Brent turun sebesar US$ 1,76 atau 2,4% menjadi US$ 73,02 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melemah US$ 1,77 atau 2,5% ke level US$ 68,93 per barel.
Penutupan ini merupakan yang terendah bagi Brent sejak 23 Desember dan bagi WTI sejak 10 Desember.
Pelemahan harga minyak sejalan dengan laporan bahwa kepercayaan konsumen di AS pada Februari mengalami penurunan terbesar dalam tiga setengah tahun terakhir.
Ekspektasi inflasi selama 12 bulan ke depan juga mengalami lonjakan, memperburuk kekhawatiran pasar. Para analis menilai bahwa rencana Presiden Donald Trump untuk menaikkan tarif impor telah meningkatkan tekanan inflasi, yang dapat mendorong Federal Reserve mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Baca Juga: Harga Minyak Anjlok Hampir 3% Pagi Ini (15/10) Akibat Proyeksi Permintaan OPEC
Kebijakan ini berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi sekaligus menekan permintaan energi.
Trump menegaskan bahwa tarif terhadap impor dari Kanada dan Meksiko, yang akan diberlakukan mulai 4 Maret, tetap berjalan sesuai jadwal. Kebijakan ini berpotensi mengurangi pasokan minyak dari kedua negara, yang secara teori dapat mendukung kenaikan harga.
Namun, analis dari Ritterbusch and Associates memperingatkan bahwa tarif yang diterapkan justru semakin dipandang sebagai faktor negatif bagi pertumbuhan ekonomi global, yang pada akhirnya dapat menekan permintaan minyak dunia.
Di Eropa, ekonomi Jerman tercatat mengalami kontraksi sebesar 0,2% pada kuartal terakhir 2024 dibandingkan kuartal sebelumnya.
Pemenang pemilu Jerman, Friedrich Merz, menegaskan bahwa ia tidak akan segera mereformasi kebijakan batas utang negara atau yang dikenal sebagai "rem utang," meskipun beberapa investor mendesak perubahan guna mendorong pemulihan ekonomi.
Baca Juga: Harga Minyak Anjlok, Lemahnya Permintaan China Mengimbangi Gangguan Pasokan di AS
Selain faktor ekonomi global, tekanan pada harga minyak juga datang dari potensi peningkatan produksi. Isyarat damai antara Rusia dan Ukraina memunculkan spekulasi bahwa sanksi terhadap Rusia dapat dicabut, yang berpotensi mengembalikan pasokan minyak Rusia dalam jumlah besar ke pasar internasional.
Rusia, sebagai produsen minyak terbesar ketiga di dunia setelah AS dan Arab Saudi, merupakan anggota OPEC+ yang berperan penting dalam keseimbangan pasokan global.
Di Timur Tengah, Irak, yang merupakan produsen terbesar kedua dalam OPEC, telah menandatangani kesepakatan dengan perusahaan minyak BP untuk membangun kembali empat ladang minyak dan gas di Kirkuk.
Selain itu, Irak menantikan persetujuan dari Turki untuk segera melanjutkan kembali aliran minyak dari wilayah Kurdistan. Sementara itu, Nigeria mencatat kenaikan produksi minyak menjadi 1,8 juta barel per hari, meningkat signifikan dari hanya 1 juta barel per hari pada tahun sebelumnya.
Baca Juga: Harga Minyak Anjlok, Penurunan Mingguan Lebih dari 7% Akibat Prospek Suram China
Di Amerika Serikat, Trump kembali menegaskan dukungannya terhadap proyek pipa Keystone XL yang akan mengalirkan minyak mentah dari Kanada ke AS. Ia berjanji akan memberikan persetujuan regulasi yang lebih mudah untuk mempercepat pembangunan proyek ini.
Pasar minyak juga tengah menanti laporan terbaru mengenai persediaan minyak mentah AS. Data dari American Petroleum Institute (API) dijadwalkan dirilis pada hari Selasa, sementara laporan resmi dari Badan Informasi Energi AS akan diterbitkan pada hari Rabu.
Para analis memperkirakan bahwa stok minyak mentah AS bertambah sekitar 2,6 juta barel dalam pekan yang berakhir pada 21 Februari. Jika proyeksi ini akurat, maka akan menjadi peningkatan stok selama lima minggu berturut-turut, sesuatu yang terakhir kali terjadi pada Maret 2024.
Sebagai perbandingan, dalam periode yang sama tahun lalu, stok minyak AS bertambah 4,2 juta barel, sementara rata-rata kenaikan dalam lima tahun terakhir berkisar di angka 2,3 juta barel.
Dengan berbagai faktor yang menekan harga minyak, investor dan pelaku pasar terus mencermati perkembangan ekonomi global serta dinamika pasokan energi di berbagai wilayah dunia.
Selanjutnya: Prakiraan Cuaca Kalimantan Tengah 26-27 Februari: Hujan Ringan, Waspada Potensi Petir
Menarik Dibaca: Jangan Lewatkan Gift Code Ojol The Game 26 Februari 2025 Terkini Berikut
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News