kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.946.000   102.000   3,59%
  • USD/IDR 16.807   4,00   0,02%
  • IDX 8.147   24,12   0,30%
  • KOMPAS100 1.146   9,03   0,79%
  • LQ45 833   9,07   1,10%
  • ISSI 287   -1,72   -0,60%
  • IDX30 433   3,38   0,79%
  • IDXHIDIV20 520   5,37   1,04%
  • IDX80 128   1,27   1,00%
  • IDXV30 142   0,85   0,61%
  • IDXQ30 140   0,75   0,54%

Harga Komoditas Global Kompak Naik pada 2026, Ini Faktor Pendorongnya


Rabu, 04 Februari 2026 / 17:10 WIB
Harga Komoditas Global Kompak Naik pada 2026, Ini Faktor Pendorongnya
ILUSTRASI. Harga Logam (REUTERS/Heinz-Peter Bader) Lonjakan harga berbagai komoditas global sepanjang tahun 2026 dipicu oleh kombinasi permintaan yang kuat dan kondisi pasokan yang semakin ketat.


Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Lonjakan harga berbagai komoditas global sepanjang tahun 2026 dipicu oleh kombinasi permintaan yang kuat dan kondisi pasokan yang semakin ketat.

Melansir Trading Economics pada Rabu (4/2/2026) pukul 17.00 WIB harga emas naik 17,7% Ytd ke US$ 5.080 per ons troi. Perak naik 26% Ytd menjadi US$ 89,8 per ons troi. Lithium naik 35% menjadi CNY 160.500 per ton.

Kemudian minyak sawit mentah/CPO naik 4% menjadi MYR 4.217 per ton. Gandum juga naik 4% menjadi US$ 526 per semak.

Sedang timah naik 24% menjadi US$ 50.122 per ton, Rhodium dan magnesium naik masing-masing 15,3%, dan masih banyak lagi.

Baca Juga: Ini Skenario Terburuk Jika Pasar Saham Indonesia Turun Jadi Frontier Market

Analis mata uang dan komoditas Doo Financial Futures Lukman Leong menilai, penguatan harga komoditas terjadi dengan latar belakang yang berbeda-beda pada masing-masing sektor. 

Untuk industri logam misalnya, kenaikan harga didorong oleh permintaan yang padat di tengah keterbatasan pasokan.

Sementara itu, emas masih ditopang oleh faktor-faktor struktural yang sama, seperti pelemahan nilai mata uang (debasement trade), diversifikasi cadangan devisa, serta meningkatnya ketegangan geopolitik global. 

Perak juga mendapat dukungan kuat dari permintaan sektor energi terbarukan, khususnya panel surya, yang bahkan memicu lemahnya pasokan dan defisit ekspor dari Tiongkok.

Untuk komoditas lain, Lukman menjelaskan bahwa kenaikan harga litium didorong oleh pertumbuhan kendaraan listrik (kendaraan listrik/EV), tembaga oleh pembangunan pembangkit listrik dan infrastruktur energi, sedangkan minyak sawit mentah (CPO) lebih dipengaruhi faktor musiman, termasuk perayaan Imlek dan Idul Fitri.

“Secara umum memang belum terjadi gangguan pasokan global, tetapi pasokan berada dalam kondisi ketat,” kata Lukman kepada Kontan, Rabu (4/2/2026).

Meski demikian, Lukman menekankan bahwa dampak kenaikan harga sejumlah komoditas di atas terhadap pasokan global maupun harga komoditas domestik masih sulit dipastikan. 

“Pasar komoditas adalah pasar yang sangat dinamis antara pasar fisik dengan non-fisik, dimana banyak spekulan yang membentuk harga justru di pasar non fisik seperti derivatif dan ETF yang jarang menghasilkan pertukaran fisik,” ujarnya.

Ia menambahkan, meskipun sejumlah komoditas sering bergerak, tidak jarang pula pergerakan harga terjadi secara individual, sehingga prospek komoditas secara keseluruhan sulit diprediksi dan perlu dilihat per aset komoditas.

Ke depan, Lukman mengatakan beberapa komoditas masih berpotensi melanjutkan tren bullish, seperti tembaga, emas, perak, timah, litium, dan magnesium. 

Pun CPO yang diproyeksikan bergerak relatif stabil di kisaran MYR 4.000 per ton, dengan pergerakan harga yang sangat dipengaruhi oleh permintaan musiman.

Tembaga diperkirakan bisa mencapai US$ 15.000 per ton. Untuk timah, karena terlalu banyak pedagang spekulatif, harganya agak sulit diprediksi, tetapi idealnya berada di kisaran US$ 40.000 - US$ 45.000 per ton.

Sementara itu, harga emas diproyeksikan berada pada kisaran US$ 6.000 - US$ 7.000 per ons troi, dan perak di kisaran US$ 150–US$ 200 per ons troi.

Sedangkan untuk lithium, magnesium, dan rhodium, Lukman belum memberikan proyeksi harga mengingat ukuran pasar yang relatif kecil dan volatilitas yang sangat tinggi.

Baca Juga: IHSG Berpeluang Uji Level 8.200 pada Kamis (5/2), Ini Rekomendasi Analis

Selanjutnya: 7 Manfaat Konsumsi Buah Blackberry secara Rutin untuk Kesehatan Tubuh

Menarik Dibaca: 7 Manfaat Konsumsi Buah Blackberry secara Rutin untuk Kesehatan Tubuh

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
SPT Tahunan PPh Coretax: Mitigasi, Tips dan Kertas Kerja Investing From Zero

[X]
×