kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45895,84   4,26   0.48%
  • EMAS1.325.000 0,00%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Harga Komoditas Fluktuatif, Simak Kinerja Tiga Mata Uang Komoditas Ini


Selasa, 28 November 2023 / 04:50 WIB
Harga Komoditas Fluktuatif, Simak Kinerja Tiga Mata Uang Komoditas Ini
ILUSTRASI. Di tengah fluktuasi harga komoditas, commodity currency memperlihatkan pelemahan.


Reporter: Nur Qolbi | Editor: Wahyu T.Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Di tengah fluktuasi harga komoditas, mata uang negara-negara yang merupakan produsen komoditas atau commodity currency memperlihatkan pelemahan. AUD-USD tercatat melemah 3,04% secara year to date (YtD) menjadi 0,6606 per AUD pada Senin (27/11), dari 0,6813 pada akhir tahun 2022.

Pada periode yang sama, NZD-USD melemah 3,97% YtD ke 0,6098 per NZD dari 0,6350. Selanjutnya, USD-CAD tercatat menguat 0,52% ytd menjadi 1,3624 per USD dari 1,3554 pada akhir tahun sehingga CAD dengan kata lain melemah terhadap USD. 

Sebagai informasi, commodity currency adalah mata uang yang nilainya sangat dipengaruhi oleh harga komoditi ekspor yang dihasilkan oleh negara yang menggunakan mata uang tersebut.

Presiden Komisioner HFX International Berjangka Sutopo Widodo mengatakan, saat ini, kinerja mata uang tersebut bukan hanya dipengaruhi oleh pergerakan komoditas. Kebijakan moneter bank sentral dan kondisi ekonomi global maupun negara yang bersangkutan juga memberikan efek. 

Baca Juga: Rupiah Diprediksi Lanjut Menguat di Perdagangan Selasa (28/11)

Sutopo mencatat, CAD yang diperdagangkan di sekitar level 1,36 per USD pada akhir November 2023, menandai level tertinggi dalam satu bulan. Penguatan ini terjadi di tengah penurunan inflasi AS dan penciptaan lapangan kerja yang menandakan perekonomian yang lebih lemah sehingga mendorong sikap dovish The Fed. 

Selain itu, inflasi di Kanada turun lebih besar dari perkiraan menjadi 3,1% pada bulan Oktober 2023. Realisasi ini lebih rendah dari perkiraan Bank of Canada yang sekitar 3,5% pada pertengahan tahun depan. Angka ini menandakan disinflasi.

Di sisi lain, penjualan retail meningkat pada bulan September 2023 dan melampaui perkiraan dengan pertumbuhan sebesar 0,6%. Hal ini meningkatkan minat risiko dan mendorong loonie

Baca Juga: Harga Emas Tembus di Level US$ 2.000, Cermati Pemicunya

Sementara itu, perubahan harga minyak sedikit menekan CAD, tetapi pasar sedang menunggu keputusan OPEC+ pada 30 November 2023  terkait besaran produksi.

"Jika mereka masih mempertahankan sikap atau justru menekankan perpanjangan pemotongan produksi, harga minyak bisa kembali ke US$ 80 barel yang artinya akan mendorong CAD lebih kuat," tutur Sutopo saat dihubungi Kontan.co.id, Senin (27/11). 

Selanjutnya, AUD menguat hingga di atas US$ 0,655, mendekati level tertinggi dalam lebih dari tiga bulan. Penguatan ini terjadi karena Gubernur Reserve Bank of Australia (RBA) Michele Bullock memperingatkan bahwa permintaan domestik semakin berkontribusi terhadap inflasi sehingga memerlukan respons “substansial” dari suku bunga. 

Pasar sekarang melihat peluang 60% untuk kenaikan suku bunga lagi menjadi 4,6% pada tahun depan, naik dari 40%. Pada bulan November lalu, RBA menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 4,35% karena inflasi terbukti lebih persisten daripada yang diantisipasi beberapa bulan lalu. 

Baca Juga: Mengapa Negara-Negara Dunia Ingin Membuang Dolar? Ini Penjelasannya

Dari segi data, aktivitas manufaktur dan jasa Australia mengalami kontraksi lebih lanjut di bulan November 2023 karena memburuknya kondisi permintaan. Secara eksternal, investor terus menelaah prospek kebijakan moneter Federal Reserve di tengah beragamnya data perekonomian AS. 

Sementara NZD berada di sekitar US$ 0,606 pada hari Senin (27/11) setelah mencatat harga tinggi US$ 0,609 pada sesi sebelumnya. Hal ini terjadi di tengah kekhawatiran bahwa Reserve Bank of New Zealand dapat mempertahankan suku bunga tidak untuk pertemuan ke-empat berturut-turut pada pekan ini, menyusul tanda-tanda berkurangnya tekanan inflasi. 

Di AS, sejumlah data ekonomi penting yang akan dirilis minggu ini, antara lain, PCE AS, PMI Manufaktur ISM, serta pendapatan dan belanja pribadi. Sementara itu, beberapa pembicara The Fed, termasuk Ketua The Fed Jerome Powell diperkirakan akan menyampaikan pidatonya akhir pekan ini.

Menurut Sutopo, CAD mungkin tidak akan bergerak leluasa karena akan dipengaruhi pada perubahan harga minyak. "Sepanjang pemulihan ekonomi belum berjalan dengan baik di China serta persediaan minyak masih melimpah di pasar," ucap Sutopo. 

Baca Juga: Kas Tambun, Pacu Belanja di Ujung Tahun

AUD dan NZD juga bergantung pada berita ekonomi positif China. CAD mungkin lebih kuat dibanding AUD dan NZD karena faktor ekonomi Kanada yang lebih kuat dibanding Australia dan Selandia Baru.

Secara keseluruhan, ketiga mata uang ini diprediksi masih akan melemah terhadap USD. Sutopo memperkirakan dolar Kanada akan diperdagangkan pada 1,39 pada awal tahun depan. Lalu, dolar Australia diperkirakan diperdagangkan pada 0,64 dan dolar Selandia Baru diperkirakan pada 0,59 di awal tahun depan.

Macro Strategist Samuel Sekuritas Lionel Priyadi juga menilai, pelemahan tiga mata uang tersebut sepanjang tahun ini disebabkan oleh anjloknya harga komoditas. Hal ini didorong oleh melemahnya permintaan dari China dan negara-negara maju

Baca Juga: Inflasi AS dan Eropa Diprediksi Melandai

Untuk saat ini, kalau mau memegang mata uang, Lionel menyarankan sebaiknya hold USD, Euro, GBP. Pasalnya, ketiga mata uang ini cenderung menguat karena tingkat suku bunga tinggi

"Namun, ketiganya mungkin akan melemah karena rate cut agresif di 2024 dan 2025 sehingga kenaikannya sudah terbatas. Window mata uang ini paling lama sampai awal kuartal III-2024," ucap Lionel. 

Oleh sebab itu, Lionel lebih menyarankan untuk membeli obligasi dibanding mata uang. Pasalnya, penurunan suku bunga The Fed diperkirakan mulai tahun 2024 sehingga harga obligasi pasti naik, sejalan dengan penurunan yield. Lionel memperkirakan, yield obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun akan mengarah ke 6,3%-6,8% pada 2024 tapi belum definitif.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×