Reporter: Dimas Andi | Editor: Noverius Laoli
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menambahkan, harga emas yang tertekan atau tidak lagi meningkat secara agresif jelas menjadi tantangan tersendiri bagi emiten produsen emas.
Dalam kondisi seperti ini, peningkatan volume produksi maupun penjualan kerap menjadi strategi untuk menjaga pertumbuhan pendapatan.
Namun, strategi tersebut tidak selalu mudah dijalankan karena keberhasilannya sangat bergantung pada tingkat efisiensi operasional masing-masing emiten yang bersangkutan.
“Jika peningkatan volume produksi diikuti oleh peningkatan variabel biaya yang besar, maka laba bersih emiten tetap akan tertekan,” ungkap dia, Kamis (11/6).
Sebaliknya, emiten emas yang mampu menjaga struktur biaya tetap efisien akan lebih mudah mempertahankan stabilitas pendapatan dan profitabilitasnya melalui peningkatan volume produksi.
Baca Juga: Cek Rekomendasi Saham Sektor Konsumer, Mana yang Paling Menarik?
Selain menjaga produktivitas dan efisiensi operasional, emiten produsen emas juga tetap perlu mempertimbangkan langkah-langkah strategis jangka panjang seperti eksplorasi dan pengembangan cadangan baru.
Tujuannya tentu untuk menjaga keberlanjutan produksi sekaligus memperpanjang umur tambang.
Momentum tingginya permintaan emas di tengah dinamika harga komoditas tersebut juga mesti dimaksimalkan emiten dengan menggelar ekspansi pengembangan fasilitas pengolahan dan pemurnian emas.
Hal ini guna meningkatkan nilai tambah produk dan memperkuat daya saing perusahaan.
Dari sekian emiten emas, Nafan merekomendasikan beli saham ANTM dengan target harga di level Rp 3.390 per saham. Dia juga menyarankan akumulasi beli saham BRMS dan HRTA dengan target harga masing-masing di level Rp 775 per saham dan Rp 2.970 per saham.
Baca Juga: Dipengaruhi Tingkat Produksi, Simak Rekomendasi Saham Amman Mineral (AMMN)
Di lain pihak, Wafi menyebut BRMS dan ANTM dapat dipertimbangkan oleh investor.
Kedua emiten tersebut berpotensi jadi emiten unggulan dari sektor emas pada tahun ini berkat kemampuan produksi yang tinggi dan diversifikasi bisnis sebagai buffer terhadap volatilitas harga komoditas.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













