Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Harga emas dunia melemah pada perdagangan Selasa (29/7/2026) karena penguatan dolar Amerika Serikat (AS) mengurangi daya tarik logam mulia.
Pelaku pasar kini memilih bersikap hati-hati menjelang pengumuman kebijakan suku bunga bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) yang dijadwalkan pada Rabu (30/7) waktu setempat.
Mengacu perdagangan hingga pukul 10.20 GMT, harga emas spot turun 1,3% menjadi US$ 4.021,18 per ons troi.
Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Agustus melemah 1,4% ke level US$ 4.021,50 per ons troi.
Penguatan dolar AS menjadi salah satu faktor utama yang menekan harga emas.
Baca Juga: Harga Emas Turun, Kekhwatiran Inflasi Menekan Prospek Penurunan Suku Bunga The Fed
Mata uang Negeri Paman Sam bertahan di dekat level tertinggi dalam empat pekan sehingga membuat emas yang diperdagangkan dalam dolar menjadi lebih mahal bagi pembeli dari luar AS.
Selain itu, investor juga mencermati hasil rapat kebijakan moneter The Fed yang berlangsung selama dua hari.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, sekitar 34% pelaku pasar memperkirakan bank sentral AS akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan kali ini.
Peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan September bahkan diperkirakan mencapai sekitar 81%.
Kepala Analisis Pasar StoneX, Rhona O'Connell, mengatakan harga emas masih bergerak dalam kisaran sempit dengan level penopang di sekitar US$ 4.000 per ons troi sejak akhir Juni.
"Hal itu menunjukkan pada titik tertentu akan terjadi pergerakan yang menembus kisaran tersebut," ujarnya.
Baca Juga: Harga Emas Turun Tertekan Dolar AS, Pasar Menanti Sinyal Suku Bunga The Fed
Menurutnya, pasar fisik emas masih relatif sepi, sementara investor profesional lebih banyak mencermati hubungan antara pergerakan harga minyak, arah suku bunga, dan penguatan dolar AS, yang menjadi faktor utama penentu pergerakan harga emas.
Dari sisi geopolitik, sentimen pasar juga dipengaruhi perkembangan hubungan AS dan Iran.
Presiden AS Donald Trump menyatakan pembicaraan dengan Iran berlangsung positif dan membuka peluang tercapainya kesepakatan untuk mengakhiri konflik. Namun, ia mengingatkan bahwa serangan dapat kembali dilakukan apabila negosiasi gagal membuahkan hasil.
Harapan tercapainya penyelesaian konflik tersebut turut menekan harga minyak yang bergerak di dekat level terendah dalam sepekan.
Pergerakan harga minyak menjadi perhatian karena kenaikan harga energi berpotensi mendorong inflasi dan memperkuat alasan bagi The Fed untuk mempertahankan suku bunga tinggi.
Baca Juga: Harga Emas Melemah, Tertekan Dolar AS dan Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed
Meski emas dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi, kenaikan suku bunga cenderung mengurangi daya tariknya karena emas tidak memberikan imbal hasil.
Di sisi lain, Trump kembali mendesak The Fed untuk memangkas suku bunga. Menurutnya, AS seharusnya memiliki tingkat suku bunga terendah di dunia guna mendukung pertumbuhan ekonomi.
Logam mulia lainnya juga mengalami pelemahan.
Harga perak spot turun 2% menjadi US$ 57,21 per ons troi, platinum terkoreksi 1,6% menjadi US$ 1.595,80 per ons troi, sedangkan paladium merosot 3,2% ke level US$ 1.250,25 per ons troi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














