Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga emas dunia melemah pada perdagangan Selasa (7/7/2026) setelah sempat menyentuh level tertinggi dalam dua pekan sehari sebelumnya.
Pelaku pasar memilih menahan transaksi sambil menunggu risalah rapat Federal Reserve (The Fed) yang akan dirilis Rabu (8/7), sebagai petunjuk arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat (AS).
Berdasarkan data Reuters, harga emas spot turun 0,9% menjadi US$4.126,33 per ons troi. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Agustus terkoreksi 0,7% ke level US$4.137,60 per ons troi.
Kepala Global Institutional Markets ABC Refinery, Nicholas Frappell, mengatakan pergerakan harga emas saat ini lebih banyak dipengaruhi sikap wait and see investor.
Baca Juga: Harga Emas Tersungkur, Pasar Bertaruh The Fed Kembali Naikkan Suku Bunga
Menurutnya, pasar tengah membangun level support sembari menunggu kejelasan pandangan bank sentral AS terhadap arah suku bunga jangka pendek.
"Pasar sedang menunggu risalah rapat The Fed untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai arah kebijakan suku bunga dalam waktu dekat," ujarnya.
Fokus investor kini tertuju pada risalah rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) yang digelar pada 16-17 Juni lalu. Dokumen tersebut dinilai dapat memberikan petunjuk mengenai sikap para pejabat The Fed terhadap prospek inflasi dan peluang perubahan suku bunga dalam beberapa bulan ke depan.
Pada pertemuan perdananya sebagai Ketua The Fed, Kevin Warsh menghapus panduan eksplisit mengenai arah penyesuaian suku bunga dengan alasan bank sentral perlu lebih fleksibel dalam merespons perkembangan ekonomi.
Namun, Gubernur The Fed Christopher Waller memiliki pandangan berbeda. Ia menilai panduan kebijakan tetap dapat menjadi instrumen yang efektif untuk mempercepat transmisi kebijakan moneter jika digunakan pada kondisi yang tepat.
Emas sempat menguat hingga level tertinggi dalam dua pekan pada Senin (6/7/2026).
Baca Juga: Pejabat The Fed Dorong Pemangkasan Suku Bunga Secara Agresif Tahun Ini
Penguatan tersebut didorong meredanya kekhawatiran inflasi setelah tercapainya kesepakatan gencatan senjata, ditambah data ketenagakerjaan AS pekan lalu yang lebih lemah dari ekspektasi sehingga menurunkan peluang kenaikan suku bunga dalam waktu dekat.
Meski demikian, harga emas masih berada lebih dari 25% di bawah rekor tertinggi yang dicapai pada awal tahun.
Ketegangan geopolitik yang melibatkan AS, Israel, dan Iran telah mendorong penguatan dolar AS sekaligus memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga, sehingga menekan daya tarik emas sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil.
Mengacu pada CME FedWatch Tool, pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada September sekitar 56%, turun dari lebih dari 60% sebelum rilis data tenaga kerja AS.
Penurunan ekspektasi tersebut sedikit meredakan tekanan terhadap pasar emas, meski investor masih berhati-hati menunggu sinyal resmi dari The Fed.
Baca Juga: Drama Trump vs Powell: The Fed Diperkirakan Tahan Suku Bunga di Tengah Krisis Politik
Di sisi lain, Hong Kong resmi meluncurkan sistem kliring emas terpusat dan kembali mengaktifkan perdagangan kontrak berjangka emas. Langkah ini menjadi bagian dari upaya wilayah tersebut memperkuat posisinya sebagai pusat cadangan dan perdagangan emas di kawasan Asia.
Logam mulia lainnya juga bergerak melemah. Harga perak spot turun 2% menjadi US$60,85 per ons troi, platinum terkoreksi 1,2% ke US$1.611,38 per ons troi, sedangkan paladium turun 0,6% menjadi US$1.261,16 per ons troi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
- Investasi Emas
- The Fed
- Federal Reserve
- harga perak
- FOMC
- harga platinum
- harga paladium
- Dolar AS
- Harga emas hari ini
- Harga emas spot
- Ekonomi AS
- harga emas berjangka
- inflasi AS
- geopolitik
- suku bunga AS
- Harga Emas Dunia
- Christopher Waller
- CME FedWatch Tool
- Nicholas Frappell
- Perdagangan Emas
- Kevin Warsh
- Prospek Emas
- Risalah Rapat The Fed
- Hong Kong emas














