Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Harga emas dunia menguat tipis pada perdagangan Senin (18/5/2026), ditopang pelemahan dolar Amerika Serikat (AS).
Namun, kenaikan harga emas tertahan lonjakan imbal hasil obligasi dan harga minyak yang memicu kekhawatiran inflasi akibat perang Iran.
Harga emas spot tercatat naik 0,2% menjadi US$ 4.548,14 per ons hingga akhir perdagangan AS, setelah sempat menyentuh level terendah sejak 30 Maret.
Sementara itu, kontrak berjangka emas AS pengiriman Juni ditutup melemah 0,1% ke posisi US$ 4.558 per ons.
Penguatan emas terjadi seiring pelemahan indeks dolar AS sekitar 0,3% terhadap mata uang utama dunia. Kondisi ini membuat emas menjadi lebih murah bagi investor yang memegang mata uang selain dolar AS.
Baca Juga: Harga Emas Naik Tipis dari Posisi Terendah 1,5 Bulan, Peluang Rebound Mulai Terlihat
Analis pasar American Gold Exchange, Jim Wyckoff, mengatakan pelemahan dolar menjadi faktor utama yang menopang harga emas di tengah tekanan pasar yang masih tinggi.
Meski demikian, ia menilai kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS berpotensi membatasi ruang penguatan logam mulia dalam jangka pendek.
“Indeks dolar AS turun ke titik terendah sesi dan itu menjadi sentimen positif bagi emas. Tetapi kenaikan imbal hasil obligasi bisa menahan bahkan menekan harga logam mulia dalam waktu dekat,” ujarnya.
Tekanan terhadap emas datang dari melonjaknya imbal hasil obligasi pemerintah global. Investor khawatir kenaikan harga energi akibat konflik Iran dapat memicu inflasi lebih tinggi dan mendorong bank sentral mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama.
Imbal hasil obligasi Treasury AS tenor 10 tahun bahkan naik ke level tertinggi sejak Februari 2025.
Kondisi tersebut membuat emas kehilangan sebagian daya tariknya. Pasalnya, emas tidak memberikan imbal hasil sehingga investor cenderung beralih ke aset berbunga ketika suku bunga dan yield obligasi meningkat.
Baca Juga: Harga Emas Naik, Didorong Pelemahan Dolar AS dan Kekhawatiran Inflasi yang Mereda
Di sisi lain, harga minyak dunia juga kembali melonjak sekitar 2% dan menyentuh level tertinggi dalam dua pekan terakhir. Kenaikan dipicu kekhawatiran terganggunya pasokan energi global akibat konflik di Timur Tengah.
Sebelumnya, harga minyak sempat turun setelah muncul laporan media Iran mengenai kemungkinan pelonggaran sanksi AS terhadap ekspor minyak Iran. Namun sentimen itu tidak bertahan lama karena pasar kembali fokus pada risiko pasokan.
Sejak perang AS-Israel melawan Iran pecah pada 28 Februari lalu, harga minyak mentah Brent telah melonjak sekitar 55%. Sebaliknya, harga emas spot justru turun sekitar 13,8% pada periode yang sama.
Di tengah volatilitas pasar, sejumlah bank investasi mulai memangkas proyeksi harga emas jangka pendek karena permintaan investor dinilai mulai melemah.
Baca Juga: Harga Emas Naik Tipis pada Rabu (29/4) Pagi
JPMorgan Chase menjadi salah satu lembaga besar pertama yang menurunkan proyeksi rata-rata harga emas tahun 2026 menjadi US$ 5.243 per ons, dari sebelumnya US$ 5.708 per ons.
Untuk logam mulia lainnya, harga perak spot naik 1,4% menjadi US$ 77,04 per ons. Sementara platinum turun tipis 0,1% menjadi US$ 1.972,10 per ons dan paladium melemah 0,2% ke level US$ 1.409,75 per ons.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












