Reporter: Alya Fathinah | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga logam mulia masih berada dalam tekanan dan berpotensi melanjutkan pelemahan di tengah meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah serta ekspektasi suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama.
Mengutip Bloomberg, Kamis (30/4/2026) pukul 07.24 WIB, harga emas spot ada di level US$ 4.560,59 per ons troi, naik 0,28% dari sehari sebelumnya. Dalam sepekan terakhir, harga emas turun 2,84%.
Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo menilai, tekanan terhadap harga emas saat ini dipicu oleh meningkatnya ekspektasi bahwa bank sentral akan mempertahankan suku bunga tinggi dalam jangka waktu lebih lama.
Baca Juga: Rupiah Kembali Sentuh Rekor Terlemah, Begini Prediksinya untuk Kamis (30/4/2026)
"Ekspektasi suku bunga tinggi membuat opportunity cost memegang emas meningkat, terutama di tengah kenaikan imbal hasil obligasi AS dan penguatan dolar," ujar Sutopo kepada Kontan, Rabu (29/4/2026).
Ia mencatat, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun (US Treasury) telah naik ke kisaran 4,35%, sementara indeks dolar AS bertahan di atas level 98,5.
Kondisi ini mengurangi daya tarik emas dan perak sebagai aset tanpa imbal hasil.
Di sisi lain, ketegangan geopolitik di kawasan Selat Hormuz juga memperburuk sentimen pasar.
Gangguan distribusi energi global mendorong harga minyak tetap tinggi dan memicu kekhawatiran inflasi yang lebih persisten.
"Tekanan inflasi ini membuat bank sentral, termasuk Federal Reserve, cenderung mempertahankan kebijakan moneter ketat (hawkish) lebih lama," kata Sutopo.
Baca Juga: GOTO Cetak Laba Perdana, Saham Makin Menarik Dikoleksi? Analis Pasang Target Rp110
Sutopo menambahkan, kenaikan harga logam mulia yang terjadi dalam perdagangan harian lebih mencerminkan technical rebound jangka pendek setelah memasuki area jenuh jual (oversold).
"Penguatan yang terjadi cenderung didorong aksi berburu harga murah (bargain hunting), bukan perubahan tren," ujar Sutopo.
Dalam jangka pendek, pergerakan harga emas diperkirakan masih tertekan. Namun, dalam jangka menengah hingga panjang, emas dinilai masih berada dalam tren naik (bullish).
Meski demikian, Sutopo mengingatkan potensi koreksi harga emas tetap terbuka lebar, terutama jika tensi geopolitik mereda.
Ia mencontohkan, secara historis emas pernah mengalami koreksi dalam, seperti pada 2020 yang turun sekitar 19% dari US$ 2.075 ke US$ 1.680 per ons troi.
Bahkan pada periode 2011–2013, harga emas terkoreksi hingga 45% dari US$ 1.920 ke US$ 1.050 per ons troi.
"Emas masih berpotensi akan koreksi sebesar itu lagi, 30% hingga 45% apabila perang mereda. Tahun ini bisa saja terjadi," kata Sutopo.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













