Reporter: Wafidashfa Cessarry | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID — JAKARTA. Harga emas dunia kembali menguat pada awal tahun 2026, didorong meningkatnya ketidakpastian global.
Mengutip Trading Economics pada Jumat (2/1/2026), emas naik 0,28% secara harian ke level US$ 4.360 per ons troi pada hari perdagangan pertama tahun 2026, memperpanjang momentum kenaikan dari kinerja tahunan terkuatnya dalam lebih dari empat dekade.
Analis Doo Financial Futures Lukman Leong menilai penguatan emas di awal tahun ini dipicu oleh aksi bargain hunting serta meningkatnya tensi geopolitik, khususnya di Laut China Selatan.
Selain itu, ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga The Fed juga ikut menopang harga emas sebagai aset lindung nilai.
“Bargain hunting, investor buy on dip, dan tensi geopolitik yang meningkat di Laut China Selatan,” kata Lukman kepada Kontan, Jumat (2/1/2026).
Baca Juga: Prospek Komoditas 2026: Emas, Perak, dan Tembaga Jadi Unggulan
Lukman melihat prospek emas sepanjang 2026 masih cenderung positif. Faktor geopolitik dan kebijakan moneter Amerika Serikat dinilai tetap menjadi sentimen utama, ditambah antisipasi investor terhadap potensi pecahnya gelembung AI di pasar ekuitas dapat menjadi faktor tambahan yang mendorong permintaan aset lindung nilai.
Ia memperkirakan harga emas pada kuartal I-2026 bergerak di kisaran US$ 4.300–US$ 4.600 per ons troi, dengan peluang melanjutkan kenaikan menuju sekitar US$ 5.000 hingga akhir tahun.
Sementara itu, Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menilai eskalasi konflik geopolitik global berpotensi mendorong harga emas naik lebih lanjut pada kuartal pertama 2026.
Ia menyoroti meningkatnya ketegangan perang Rusia dan Ukraina yang kembali memanas, termasuk serangan drone dan respons militer lanjutan, yang memperbesar ketidakpastian kawasan Timur Tengah dan Eropa.
Baca Juga: Strategi Investasi 2026, Emas Dinilai Bukan Lagi Mesin Return Utama
Ibrahim juga mencermati ketegangan di Amerika Latin setelah keterlibatan Amerika Serikat di Venezuela, yang dinilai menambah risiko geopolitik global. Kondisi tersebut berpotensi memicu kenaikan harga energi dan inflasi, sehingga mendorong investor beralih ke emas sebagai aset lindung nilai.
Dalam kondisi tersebut, harga emas dunia dinilai berpeluang menembus level psikologis US$ 5.000 per ons troi pada kuartal pertama tahun ini.
“Bisa saja di kuartal pertama akan terjadi perang dan ini akan membuat harga emas dunia itu menuju level US$ 5.000-an,” ujar Ibrahim.
Selanjutnya: Persetujuan RKAB 2026 Belum Terbit, Tata Kelola Minerba Disorot
Menarik Dibaca: Cara Mudah Mencari Tambahan Penghasilan untuk Kebutuhan yang Mendesak
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













