Sumber: Reuters | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Indeks utama Wall Street dibuka menguat pada awal perdagangan Rabu (30/9/2026), karena angka inflasi yang lebih rendah dari perkiraan meningkatkan harapan bahwa Federal Reserve mungkin tidak akan menaikkan suku bunga dalam waktu dekat.
Mengutip Reuters, Rabu (30/9/2026), pada bel pembukaan perdagangan, indeks Dow Jones Industrial Average naik 74,9 poin, atau 0,15% ke level 51.424,84. S&P 500 naik 18,1 poin, atau 0,24%, ke level 7.688,99, sementara Nasdaq Composite naik 95,3 poin, atau 0,36%, ke level 26.892,796.
Laporan Departemen Perdagangan menunjukkan indeks harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) naik 0,3% pada bulan Agustus, dibandingkan dengan kenaikan 0,4% yang diperkirakan oleh para ekonom dalam survei Reuters.
Baca Juga: Rupiah Tertekan, Asing Makin Selektif Pilih Saham di Tengah Risiko Kurs
Secara tahunan, angka tersebut berada di level 3,4% dibandingkan dengan perkiraan sebesar 3,7%. Angka inflasi inti naik 0,2% secara bulanan, dibandingkan dengan perkiraan kenaikan 0,3%. Secara tahunan, angkanya tercatat sebesar 3%, di bawah perkiraan 3,3%.
"Pasar sebelumnya telah membentuk pola *bullish*, yang berarti pola harga mengisyaratkan bahwa katalis positif apa pun dapat memicu kenaikan harga, dan itulah yang sebenarnya terjadi," ujar Sam Stovall, kepala strategi investasi di CFRA Research.
Sebagian besar saham berkapitalisasi sangat besar (megacap) dan saham pertumbuhan (growth stocks) mencatat kenaikan tipis dalam perdagangan pre market; Amazon.com dan Apple naik sedikit, sementara Alphabet naik 1,4%. Saham-saham sektor cip juga secara umum menguat: Intel, AMD, dan Broadcom semuanya mencatat kenaikan.
Berdasarkan data yang dihimpun LSEG, para pelaku pasar kini memperkirakan adanya peluang sekitar 37% untuk kenaikan suku bunga pada bulan Oktober, turun dari perkiraan peluang sekitar 45% sebelum data tersebut dirilis.
Secara terpisah, angka final PDB kuartal kedua menunjukkan ekonomi AS tumbuh sebesar 2,2%, dibandingkan dengan perkiraan pertumbuhan sebesar 1,5%.
Baca Juga: Menakar Prospek Telkom (TLKM) di Bawah Nakhoda Baru
Komentar dari setidaknya empat pejabat Federal Reserve (The Fed), termasuk Presiden The Fed Minneapolis Neel Kashkari, dijadwalkan akan disampaikan pada hari ini.
September yang Penuh Gejolak Berakhir
Bulan September diwarnai oleh volatilitas tinggi di pasar obligasi dan kenaikan harga minyak mentah akibat konflik yang terus berlanjut antara AS dan Iran; hal ini memicu kekhawatiran inflasi dan berdampak negatif terhadap aset berisiko di seluruh dunia.
Meskipun sempat melemah pada bulan September, indeks acuan S&P 500 dan Nasdaq berada di jalur yang tepat untuk mencatat kenaikan kuartalan kedua berturut-turut, berdasarkan posisi penutupan perdagangan terakhir.
Situasi berbeda terjadi pada indeks Dow yang berbasis harga; indeks yang mencakup 30 perusahaan blue-chip AS ini diperkirakan akan mencatat penurunan kuartalan dan sedang menuju penurunan bulanan pertamanya sejak Maret.
Pada hari Rabu, imbal hasil obligasi Treasury AS tenor 10 tahun turun 2,9 basis poin menjadi 5,22%, sehari setelah mencapai level tertinggi sejak Juni 2007.
Harga minyak mentah naik pada hari itu, dengan kontrak berjangka minyak mentah Brent untuk pengiriman Desember bergerak lebih tinggi.
Peringatan dari para pemimpin perusahaan AI terbesar awal bulan ini mengenai potensi risiko eksistensial dari teknologi tersebut juga sempat mengguncang sektor perdagangan saham terkait AI, yang selama ini menjadi faktor utama pendorong kenaikan Wall Street hingga mencapai rekor tertinggi tahun ini.
Baca Juga: IHSG Oktober 2026 Berpeluang Rebound, Simak Proyeksinya
Meta Platforms, perusahaan induk Facebook, mencatatkan kinerja paling menonjol bulan ini berkat popularitas agen AI Muse yang ditujukan bagi konsumen; sahamnya diperkirakan akan melonjak hampir 30% sepanjang bulan September. Pada hari Rabu, sahamnya turun 0,9%.
Ujian berikutnya bagi sektor perdagangan saham AI mungkin datang dari laporan keuangan raksasa cip memori, Micron Technology, yang akan dirilis setelah penutupan perdagangan.
Di antara saham-saham lain yang bergerak signifikan, saham Boeing naik 2,5% setelah Pentagon menyatakan bahwa produsen pesawat tersebut terpilih untuk membangun jet tempur siluman generasi berikutnya bagi Angkatan Laut AS.
Boeing mengungguli pesaingnya, Northrop Grumman, dalam perebutan kontrak pengembangan senilai US$20 miliar tersebut. Saham Northrop turun 4%.
Saham Moderna turun 7,9% setelah perusahaan sekuritas Citigroup menurunkan peringkat saham perusahaan bioteknologi tersebut dari "netral" menjadi "jual".
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












