Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Harga emas dunia merosot lebih dari 1% pada perdagangan Selasa (19/5/2026), tertekan penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah AS di tengah kekhawatiran inflasi yang masih tinggi.
Mengutip Reuters, harga emas spot turun 1,4% menjadi US$ 4.503,98 per ons pada pukul 13.45 waktu setempat. Sepanjang sesi perdagangan, harga emas bahkan sempat menyentuh level terendah sejak 30 Maret lalu.
Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Juni ditutup melemah 1% ke posisi US$ 4.511,20 per ons.
Tekanan terhadap emas datang seiring kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun yang mendekati level tertinggi dalam lebih dari satu tahun.
Baca Juga: Harga Emas Anjlok Lebih dari 2% di Tengah Ketidakpastian AS–Iran
Di saat yang sama, dolar AS juga menguat karena pelaku pasar mulai mengantisipasi kemungkinan sikap lebih agresif atau hawkish dari bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), dalam menahan laju inflasi yang dipicu kenaikan harga energi.
Analis Marex, Edward Meir, mengatakan kenaikan suku bunga riil di berbagai negara menjadi faktor utama yang membebani pergerakan emas. Penguatan dolar AS juga memperburuk tekanan terhadap logam mulia tersebut.
Kenaikan imbal hasil obligasi membuat biaya peluang memegang emas semakin tinggi karena emas tidak memberikan imbal hasil.
Sementara itu, penguatan dolar AS membuat harga komoditas berbasis dolar menjadi lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain.
Di sisi lain, harga minyak mentah Brent masih bertahan di atas US$ 110 per barel akibat kekhawatiran pasokan global. Kondisi ini memicu kekhawatiran inflasi dunia akan terus meningkat seiring naiknya biaya energi dan bahan bakar.
Baca Juga: Harga Emas Naik Tipis Ditopang Dolar AS, Tertekan Minyak dan Yield Obligasi
Inflasi yang tinggi mendorong bank-bank sentral mempertahankan suku bunga di level tinggi untuk meredam tekanan harga. Meski emas dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi, logam mulia itu justru cenderung tertekan ketika suku bunga tinggi bertahan dalam waktu lama.
Pasar kini melihat peluang penurunan suku bunga The Fed hingga sebagian besar 2026 semakin terbatas. Bahkan, ekspektasi mulai bergeser ke arah suku bunga tetap atau kembali diperketat pada akhir tahun.
Kepala strategi komoditas Saxo Bank, Ole Hansen, menilai prospek jangka panjang emas masih cukup kuat. Namun, perkembangan makroekonomi dalam jangka pendek menciptakan tantangan yang lebih berat bagi harga emas.
Ia menambahkan, ketika tekanan dari lonjakan harga energi mulai mereda, permintaan emas dari bank sentral berpotensi kembali menjadi pendorong utama pasar.
Pelaku pasar kini menantikan risalah rapat kebijakan terbaru The Fed yang dijadwalkan dirilis Rabu waktu AS untuk mencari petunjuk arah kebijakan suku bunga berikutnya.
Baca Juga: Harga Emas Anjlok: Waspada Tekanan Dolar AS dan Minyak Kembali ke US$ 100!
Tidak hanya emas, harga logam mulia lainnya juga melemah. Harga perak spot turun 4,1% menjadi US$ 74,53 per ons setelah sempat menyentuh level terendah dalam sekitar dua pekan.
Platinum terkoreksi 2,2% menjadi US$ 1.936,10 per ons dan palladium anjlok 4,2% ke posisi US$ 1.359,26 per ons.
Meski demikian, J.P. Morgan masih memproyeksikan harga platinum dapat mencapai US$ 2.400 per ons pada kuartal IV-2026. Bank investasi tersebut juga memperkirakan harga palladium berpotensi naik ke level US$ 1.600 per ons pada periode yang sama.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













