Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Harga Bitcoin kembali tertekan di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Penguatan dolar Amerika Serikat (AS), perkembangan harga minyak mentah, serta arus dana keluar dari produk investasi berbasis Bitcoin menjadi sejumlah faktor yang dicermati pelaku pasar dalam menentukan arah pergerakan aset kripto.
Berdasarkan data CoinMarketCap pada Selasa (13/10/2026) pukul 18.55 WIB, harga Bitcoin berada di kisaran US$ 83.213, turun sekitar 0,03% secara harian dan 3,39% dalam dalam sepekan, meski masih mencatatkan kenaikan 8,65% dalam sebulan terakhir.
Harga tersebut juga berada sekitar 34,7% di bawah rekor tertinggi sepanjang masa atau all-time high (ATH) sebesar US$ 126.198,07 yang tercatat pada 6 Oktober 2025.
Baca Juga: Bitcoin dan Ether Melemah Sepekan, Prospek Pemulihan Bergantung pada The Fed
Pergerakan ini berlangsung di tengah tekanan pasar yang dipengaruhi oleh perkembangan ekonomi dan geopolitik global.
Direktur Operasional Bittime Ryan Lymn mengatakan, pergerakan Bitcoin saat ini perlu dilihat dalam konteks ekonomi global yang lebih luas, terutama perubahan ekspektasi suku bunga, penguatan dolar AS, dan ketidakpastian geopolitik yang dapat memengaruhi selera risiko investor.
“Karena itu, penting bagi pelaku pasar untuk memahami bagaimana berbagai faktor tersebut saling berkaitan sebelum mengambil keputusan,” ujar Ryan dalam keterangannya, Selasa (13/10/2026).
Ryan menjabarkan tiga faktor utama yang perlu dicermati dari pergerakan Bitcoin.
Pertama, Penguatan dolar AS. Dalam laporan pada 12 Oktober 2026, Reuters menyoroti penguatan dolar AS ke dekat level tertinggi dalam 18 bulan, didukung permintaan terhadap aset yang dianggap lebih aman dan perhatian investor terhadap data inflasi AS.
Permintaan terhadap aset yang dianggap lebih aman di tengah ketidakpastian global dapat memengaruhi minat investor terhadap aset berisiko, termasuk Bitcoin.
Baca Juga: Bitcoin jadi Penggerak, Transaksi Kripto di Exchanger Lokal Kembali Ramai
Kedua, perkembangan harga minyak mentah turut menjadi perhatian pasar karena berpotensi memengaruhi ekspektasi inflasi dan arah kebijakan moneter.
Meski demikian, dampak perubahan harga energi terhadap Bitcoin tidak selalu berlangsung secara langsung atau konsisten.
Reuters juga melaporkan pada 13 Oktober 2026 bahwa harga minyak sedikit melemah setelah kenaikan pada hari sebelumnya, sementara pasar masih mempertimbangkan risiko gangguan pasokan energi di tengah ketegangan geopolitik.
“Perubahan harga energi dapat memengaruhi ekspektasi inflasi dan pandangan pasar terhadap kebijakan moneter, meskipun dampaknya terhadap Bitcoin tidak selalu langsung atau konsisten,” imbuhnya.
Ketiga adalah arus dana pada produk investasi Bitcoin. Arus dana keluar dari produk spot Bitcoin exchange-traded fund (ETF) di Amerika Serikat dapat menjadi salah satu indikator perubahan permintaan terhadap produk investasi berbasis Bitcoin.
Baca Juga: Transaksi Kripto RI Naik 12,87%, Bitcoin Masih Jadi Aset Paling Diminati
Namun, pergerakan dana ETF tidak mencerminkan keseluruhan aktivitas investor di pasar kripto.
Ryan menyebut, indikator makroekonomi dan arus investasi perlu dicermati secara bersamaan untuk memahami dinamika pasar.














