Reporter: Vivit Dewi | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga aset kripto masih berada dalam tekanan di tengah ketidakpastian ekonomi global dan arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat (AS). Kondisi ini turut membayangi prospek pemulihan harga bitcoin dan ether hingga akhir tahun.
Berdasarkan CoinMarketCap pada Jumat (9/10/2026) pukul 16.32 WIB, bitcoin berada di level US$ 82.580, terkoreksi 4,38% dalam sepekan. Sementara itu, ether turun lebih dalam sebesar 8,81% ke level US$ 2.504.
CEO dan Founder FLOQ Yudhono Rawis menyebut, tekanan terhadap aset kripto datang dari sejumlah faktor eksternal. Lonjakan harga minyak akibat ketegangan geopolitik ikut mendorong imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) dan dolar AS menguat, sehingga minat investor terhadap aset berisiko berpotensi berkurang.
Baca Juga: Rahayu Saraswati Akan Masuk Jajaran Komisaris Victoria Care (VICI)
Sentimen pasar juga dibayangi risalah rapat The Fed yang memunculkan kekhawatiran suku bunga AS bakal bertahan tinggi atau bahkan kembali naik. Situasi ini membuat pemulihan aset kripto menghadapi tantangan, terutama jika tekanan jual masih berlanjut.
“Koreksi ini masih bisa dianggap sebagai bagian dari volatilitas pasar kripto. Namun, ada sejumlah risiko yang perlu diwaspadai. Jika tekanan jual berlanjut, risiko koreksi lebih dalam perlu diperhitungkan. Jika yield obligasi tetap tinggi dan arus dana ETF terus melemah, pemulihan harga bisa tertahan,” ujar Yudhono kepada Kontan, Jumat (9/10/2026).
Tekanan terhadap ether bahkan lebih besar dibandingkan bitcoin. Menurut Yudhono, kondisi ini turut dipengaruhi arus keluar dana dari produk exchange-traded fund (ETF) Ether serta likuidasi posisi trading berleverage. Di sisi lain, bitcoin cenderung menjadi pilihan investor ketika minat terhadap aset berisiko menurun.
Meski demikian, koreksi harga belum serta-merta menandakan perubahan tren jangka panjang. Investor tetap perlu mencermati perkembangan inflasi AS, arah kebijakan The Fed, dan arus dana ETF yang dapat memengaruhi pergerakan harga selanjutnya.
Di tengah kondisi pasar yang belum stabil, Yudhono menyarankan investor menyesuaikan strategi dengan profil risiko dan tujuan investasi. Investor dengan orientasi jangka panjang dapat mempertimbangkan pembelian secara bertahap melalui strategi dollar-cost averaging (DCA), sehingga tidak mengalokasikan seluruh modal pada satu level harga.
Sementara itu, investor yang belum masuk pasar dapat menunggu hingga tekanan jual mereda dan harga menunjukkan pergerakan yang lebih stabil. Adapun investor yang telah memiliki aset kripto perlu mengevaluasi kembali alokasi portofolio dan alasan awal berinvestasi.
“Dalam kondisi pasar yang masih dipengaruhi ketidakpastian makroekonomi, menjaga likuiditas, menghindari penggunaan leverage berlebihan, dan tidak mengambil keputusan karena panik menjadi hal yang penting,” kata Yudhono.
Untuk prospek hingga akhir tahun, Yudhono memproyeksikan harga bitcoin berada di kisaran US$ 80.000–US$ 90.000 pada kuartal IV 2026. Adapun ether berpotensi bergerak di kisaran US$ 3.000–US$ 3.500.
Baca Juga: Rupiah Menguat di Level Rp 17.899, Analis Proyeksi Pekan Depan Bergerak Volatil
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














