Reporter: Yuliana Hema | Editor: Ahmad Febrian
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) sukses mempertahankan tren profitabilitas selama tiga kuartal beruntun. Di tengah tekanan pada layanan on-demand services (ODS) Gojek, pertumbuhan bisnis teknologi finansial (fintech) GoPay menjadi salah satu penopang kinerja
Pada kuartal III-2026, GOTO membukukan laba bersih Rp 441 miliar, berbalik dari rugi Rp 255 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Pendapatan bersih tumbuh 17% secara tahunan menjadi Rp 5,6 triliun.
Sedangkan EBITDA yang disesuaikan meningkat 84% menjadi Rp 950 miliar. Secara kumulatif, GOTO mencatatkan laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 1,16 triliun.
Analis Phintraco Sekuritas, Aditya Prayoga menilai, perbaikan kinerja tersebut mencerminkan penguatan kontribusi segmen fintech GoPay. Pertumbuhan bisnis ini membantu mengimbangi tekanan yang masih membayangi layanan mobilitas atau mobility.
Di sisi lain, bisnis Gojek menghadapi tantangan dari penerapan batas komisi 8% pada layanan transportasi roda dua GoRide. Kuartal III-2026 menjadi periode penuh pertama penerapan kebijakan tersebut yang turut menekan profitabilitas layanan.
Meski Go Ride sempat mencatatkan EBITDA yang disesuaikan negatif pada Juli, kinerjanya berangsur membaik dan bergerak menuju titik impas.
Analis NH Korindo Sekuritas Indonesia, Leonardo Lijuwardi menilai, kinerja GOTO perlu dilihat sebagai satu kesatuan ekosistem yang terdiri dari Gojek dan GoPay. Pertumbuhan kedua bisnis tersebut saling melengkapi dalam menjaga kemampuan grup menghasilkan laba.
Baca Juga: Segmen DOC dan Livebird Topang Kinerja Japfa (JPFA) di Tengah Tekanan Beban Bunga
"Ketika salah satu lini bisnis menghadapi tekanan, pertumbuhan lini bisnis lainnya dapat membantu menjaga kinerja grup," kata Leonardo, Senin (2/11).
Konsistensi GOTO mencetak laba selama tiga kuartal berturut-turut menunjukkan bahwa ekosistem bisnisnya mampu menghadapi berbagai tantangan.
Sejalan dengan perkembangan tersebut, GOTO memperlebar rentang pedoman EBITDA yang disesuaikan untuk bisnis on-demand services menjadi Rp 1,4 triliun-Rp 1,6 triliun, dari sebelumnya Rp 1,4 triliun-Rp 1,5 triliun.
Sementara itu, pedoman EBITDA yang disesuaikan untuk bisnis teknologi finansial dinaikkan menjadi Rp 1,9 triliun-Rp 2 triliun. Perubahan tersebut turut mendorong kenaikan pedoman EBITDA grup menjadi Rp 3,5 triliun-Rp 3,7 triliun untuk 2026.
Bagi GOTO, tantangan berikutnya adalah menjaga pertumbuhan kedua lini bisnis agar tren profitabilitas dapat berlanjut. Dengan basis 72,5 juta konsumen serta jutaan mitra pengemudi dan merchant, penguatan aktivitas transaksi dan penggunaan layanan menjadi faktor penting dalam menopang kinerja jangka panjang.
GTV inti fintech meningkat 96% menjadi Rp 187 triliun. Adapun total pinjaman yang disalurkan GOTO mencapai Rp 12,05 triliun pada periode tersebut.
Aditya menilai, pertumbuhan transaksi, ekspansi penyaluran pinjaman, serta peningkatan efisiensi operasional menjadi faktor penting. Ketiganya mendukung perbaikan laba GOTO di tengah tantangan regulasi.
GOTO menaikkan target adjusted EBITDA tahun 2026 menjadi Rp 3,5 triliun–Rp 3,7 triliun. Sebelumnya, perseroan memasang target Rp 3,2 triliun–Rp 3,4 triliun.
Sejalan dengan keputusan manajemen GOTO, BNI Sekuritas juga merevisi naik proyeksi adjusted EBITDA GOTO sebesar 9% menjadi Rp 3,7 triliun. Angka tersebut sejalan dengan batas atas target terbaru perusahaan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














