kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.800.000   35.000   1,27%
  • USD/IDR 17.689   13,00   0,07%
  • IDX 6.182   -136,64   -2,16%
  • KOMPAS100 817   -15,65   -1,88%
  • LQ45 625   -5,67   -0,90%
  • ISSI 218   -7,07   -3,14%
  • IDX30 358   -2,33   -0,65%
  • IDXHIDIV20 447   -1,58   -0,35%
  • IDX80 94   -1,54   -1,61%
  • IDXV30 123   -1,32   -1,07%
  • IDXQ30 117   -0,27   -0,23%

Efek Kebijakan Komisi Ojol, GOTO Tetap Resilien Ditopang Bisnis Fintech


Kamis, 21 Mei 2026 / 09:34 WIB
Efek Kebijakan Komisi Ojol, GOTO Tetap Resilien Ditopang Bisnis Fintech
ILUSTRASI. Kebijakan komisi driver roda dua bisa menekan GoRide. Namun, analis ungkap GOTO punya penopang kuat yang justru untung besar. (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Yuliana Hema | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) menyatakan siap mengikuti kebijakan pembagian komisi baru sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto. Meski kebijakan tersebut berpotensi menekan bisnis on-demand services (ODS), kinerja perseroan dinilai masih akan ditopang oleh lini bisnis lainnya, terutama sektor fintech.

Dalam konferensi pers pada 19 Mei 2026, manajemen GOTO menyatakan siap menerapkan skema pembagian komisi sebesar 92% untuk mitra pengemudi dan 8% untuk aplikator pada layanan roda dua.

Sejalan dengan kebijakan tersebut, manajemen GOTO juga akan mengoptimalkan lini bisnis lain untuk menopang dampak perubahan skema komisi tersebut terhadap pendapatan perusahaan.

Analis BRI Danareksa Sekuritas, Kafi Ananta, menilai kebijakan itu memang akan memengaruhi pendapatan bisnis On Demand Services (ODS), khususnya layanan GoRide milik GOTO.

Namun, menurut Kafi, GOTO tidak hanya bergantung pada satu sumber pendapatan karena memiliki ekosistem bisnis yang terintegrasi dan terdiversifikasi.

Baca Juga: IHSG Rebound ke 6.351, Top Gainers LQ45: BUMI, HRTA dan INKP, Kamis (21/5)

“Sebagai ekosistem, GOTO memiliki sumber pendapatan yang terdiversifikasi. Tidak hanya bertumpu pada ODS, tetapi ada fintech, logistik, dan e-commerce service fee,” ujar Kafi, Kamis (21/5).

Menurutnya, bisnis fintech kini menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan dan profitabilitas GOTO dalam beberapa kuartal terakhir.

Kafi menyebut bisnis fintech GOTO masih memiliki ruang pertumbuhan besar mengingat penetrasi layanan keuangan digital di Indonesia masih sangat luas.

“Ada 27,5 juta pengguna bertransaksi per bulan di fintech GOTO. Angka itu signifikan, tetapi potensi pasarnya masih jauh lebih besar,” katanya.

Berdasarkan laporan kuartal I-2026, pendapatan bersih fintech GOTO tumbuh 58% secara tahunan menjadi Rp 1,9 triliun.

Pertumbuhan tersebut ditopang oleh akuisisi pengguna yang solid, pertumbuhan bisnis pembayaran, serta kenaikan nilai buku pinjaman secara berkelanjutan.

Di sisi lain, aplikasi GoPay mencatat nilai buku pinjaman sebesar Rp 9,9 triliun atau tumbuh 59% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya.

 

Kafi menilai pertumbuhan kredit tersebut tetap diimbangi kualitas pembiayaan yang terjaga melalui pengelolaan risiko berbasis data.

“Fintech telah menjadi growth and profitability engine untuk GOTO. Model bisnis GOTO juga menjadi semakin solid dan resilien,” ungkapnya.

Kafi optimistis GOTO tetap mampu mengoptimalkan lini bisnis lain meski layanan GoRide menghadapi penyesuaian komisi menjadi 8%.

Menurut dia, GOTO masih berada di jalur yang tepat untuk menjadi emiten teknologi dengan fundamental bisnis yang semakin kuat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×