kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Geliat properti di Bandung Selatan


Sabtu, 06 Januari 2018 / 09:30 WIB

Geliat properti di Bandung Selatan


KONTAN.CO.ID - Bandung yang masuk dalam daftar lima kota terbesar di Indonesia, menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengembang properti. Apalagi ekonomi Kota Kembang kian mekar dalam beberapa tahun terakhir.

Alhasil, permintaan properti, terutama residensial di Ibu Kota Jawa Barat ini pun cukup tinggi. Meski sudah terbilang padat, para pengembang masih terus mengembangkan proyek di  Bandung.

Salah satu kawasan yang kini menjadi incaran mereka adalah Bandung Selatan, yang relatif belum banyak digarap pengembang. Baru-baru ini, PT Agung Podmoro Land Tbk (APLN) turut menjajal pasar properti Bandung Selatan dengan mengembangkan Podomoro Park di Kecamatan Buahbatu.

APLN akan membangun Podomoro Park di atas lahan seluas 100 hektare (ha). Di atas lahan tersebut akan dibangun proyek rumah tapak. Lalu sekitar 10 ha diperuntukkan untuk proyek komersial yang mendukung kawasan perumahan tersebut.

Mengusung konsep green natural living, sekitar 50% lahan Podomoro Park akan didedikasikan untuk kawasan terbuka hijau dan danau. Proyek ini akan dirilis kuartal I-2018.

Wibisono, Investor Relations APLN, mengatakan, pengembang perumahan di Bandung Selatan belum terlalu banyak sehingga memberi kesempatan lebih besar pada perusahaannya. Apalagi setelah melakukan tes pasar, APLN mencatat tingginya animo pasar.

Podomoro Park bukan proyek pertama APLN di Bandung. Sebelumnya perusahaan ini sudah mengembangkan sejumlah proyek di kota Bandung. Sebut saja Pullman Bandung City Center, Parahyangan Residence di Bandung Utara, Braga City Walk dan Festival Citylink.

“Bandung salah satu kota terpadat di Indonesia, apalagi ada pembangunan jalur kereta cepat Jakarta-Bandung. Nantinya waktu tempuh akan semakin cepat dan menambah daya tarik investor,” kata Wibisono.

Director Head of Reasearch and Consultancy Savills Indonesia Anton Sitorus mengatakan, sebagai target investasi properti, kota Bandung cukup menjanjikan. Secara keseluruhan, permintaan properti sektor residensial memang lebih besar dibanding dengan sektor lainnya.

Hal tersebut yang nantinya akan memicu kenaikan harga. Sebab, pasokan lebih sedikit dibandingkan permintaan.

“Pertumbuhan populasi dengan pertumbuhan properti tidak sebanding sehingga backlog rumah akan selalu ada. Makanya, harga properti sampai kota manapun di Indonesia akan tumbuh tinggi,” papar Anton.

Ditambah lagi, Bandung sebagai kota besar menjadi target urbanisasi. Ini akan menjadi penggerak kenaikan pembelian maupun penyewaan rumah. Bahkan mulai banyak pengembang yang membangun apartemen lantaran ketersediaan lahan yang semakin terbatas.

Setiap pembeli properti, menurut Anton, akan melihat potensi kenaikan harga. Tetapi kondisi pasar dalam tiga tahun belakangan memang berat, di mana harga properti belum mampu naik signifikan.

Anton menilai, pasar properti di Bandung cukup menjanjikan. Target pasarnya, antara lain para mahasiswa mengingat Bandung menjadi salah satu kota pendidikan di Indonesia. Pembangunan jalan tol baru menambah potensi daya tarik Bandung.

Selain itu, arus transportasi Jakart-Bandung yang tinggi menunjukkan kota ini menjadi tujuan wisata warga Ibu Kota. Kondisi alamnya yang masih sejuk, ditambah pengembangan objek wisata yang terus digalakkan membuat magnet Bandung semakin kuat.

Bergeser ke selatan

Ketua Umum Asosiasi Real Estate Broker Indonesia (AREBI) Hartono Sarwono mengatakan, kawasan Bandung Utara, Tengah, Timur dan Barat memang lebih dulu dikembangkan lantaran didukung oleh infrastruktur seperti jalan, terminal dan stasiun kereta api. Namun, pembangunan yang sudah mulai padat di wilayah tersebut membuat pengembang bergeser ke Selatan.

Pengembangan kawasan Bandung Selatan memang belum sebanyak di daerah Bandung lainnya. Asep Ahmad Rosidin, direktur di sebuah agen properti Era Bandung, menjelaskan, setelah pengembang besar seperti PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) dan PT PP Properti Tbk (PPRO) masuk ke wilayah Bandung, harga tanah pun naik signifikan.

Memang kedua perusahaan tersebut mengembangkan properti di Bandung Timur. Namun, lokasinya mendekati wilayah Selatan.

Sementara di wilayah Selatan, papar Asep, masih banyak tanah kosong. Pengembang Grup Matahari Land, merupakan salah satu yang terbesar di belahan selatan Bandung. 

Daya tarik kawasan Selatan, lanjut Asep adalah tempat wisata alamnya. Di sana ada objek wisata Kawah Putih Ciwidey, Rancabali dan Rancaupas. Ketiga tempat wisata tersebut sedang digandrungi para wisatawan, baik yang datang dari Bandung maupun luar Bandung.

Efek Tol Soroja

Magnet kawasan Bandung Selatan bertambah setelah peresmian jalan Tol Soreang-Pasir Koja (Soroja). “Pembukaan tol ini menambah alternatif jalan dari Bandung ke arah Ciwidey atau dari Jakarta langsung ke Ciwidey tanpa melewati Bandung,” ujar Asep.

Memang, Tol Soroja yang baru diresmikan awal Desember ini sehingga belum memberi dampak signifikan pada harga tanah kawasan sekitarnya. Tetapi Asep yakin, dalam jangka panjang, minat investasi di Bandung Selatan akan semakin tinggi.

“Tahun depan saya prediksi pengaruhnya akan luar biasa, karena memang sekarang banyak investor yang mencari daerah sana, termasuk untuk hotel dan vila,” lanjut dia.

Lihat saja bagaimana dampak pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung terhadap kenaikan harga tanah di wilayah yang dilalui. Wilayah Walini yang menjadi titik kereta api cepat mengalami kenaikan harga tanah yang signifikan, yakni dari Rp 50.000 per m2 menjadi Rp 500.000 per m2.

Potensi lonjakan permintaan tanah di Bandung Selatan, menurut Asep, juga tak lepas dari pembangunan infrastruktur oleh pemerintah. Ditambah dengan perbaikan tempat wisata yang sudah ada dan pengembangan tempat wisata baru.

Pengembangan tempat wisata maupun industri memberi kontribusi besar pada ekonomi daerah sehingga akhirnya berimbas pada kenaikan penjualan properti. Potensi ini lah yang dilirik para pengembang  yang dengan sigap mencari lahan untuk dikembangkan menjadi penginapan baik hotel maupun vila.

Di sisi lain, permintaan properti baik untuk tempat tinggal maupun investasi juga tinggi. Asep mencatat, harga properti kisaran harga Rp 500 juta-Rp 700 juta per unit di kawasan Bandung Selatan banyak diminati oleh kalangan menengah.

Minat yang tinggi juga ditujukan untuk rumah dengan harga di kisaran Rp 300 juta-Rp 400 juta. “Untuk kawasan Selatan yang agak jauh dari kota seperti Bojongsoang masih banyak rumah di bawah Rp 500 juta. Itu daerah industri dan banyak peminat kalangan menengah bawah,” lanjutnya.

Tetapi, secara umum, tren kenaikan harga properti beberapa tahun terakhir memang terbatas. Asep yang juga menjabat sebagai Presiden Direktur perusahaan riset, World Market Research, menyatakan, kenaikan harga properti di Bandung dalam lima tahun terakhir hanya berkisar antara 10%-18% per tahun.

Kenaikan harga berbeda di masing-masing wilayah Bandung. Pertumbuhan pun melambat dari tahun ke tahun. Bahkan setahun terakhir, harga properti di Bandung menurut Asep cenderung stabil.

Kondisi ekonomi yang masih lesu belakangan ini mempengaruhi pasar properti. Dengan demikian, investor tidak bisa berharap kenaikan harga tinggi dalam waktu dekat. 

Anton Sitorus memperkirakan, kenaikan harga properti hanya sekitar 5%-7% per tahun dalam satu hingga dua tahun ke depan. Pertumbuhan tersebut lebih rendah dibanding kondisi normal di mana harga properti bisa naik 10% per tahun.

Toh Asep yakin harga properti akan kembali naik tahun depan. Sebab, saat ini sudah mulai terlihat pergerakan investor mencari dan melakukan penawaran properti.


Reporter: Wuwun Nafsiah
Editor: S.S. Kurniawan

Video Pilihan


Close [X]
×