kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.581.000   -14.000   -0,54%
  • USD/IDR 17.992   80,00   0,45%
  • IDX 6.010   -61,64   -1,02%
  • KOMPAS100 774   -11,44   -1,46%
  • LQ45 592   -8,80   -1,46%
  • ISSI 208   -2,25   -1,07%
  • IDX30 328   -4,71   -1,41%
  • IDXHIDIV20 419   -5,32   -1,25%
  • IDX80 88   -1,32   -1,47%
  • IDXV30 114   -0,94   -0,82%
  • IDXQ30 107   -1,23   -1,13%

Garuda Indonesia (GIAA) Rights Issue 124,35 Miliar Saham Baru, Awas Risiko Dilusinya


Kamis, 01 Oktober 2026 / 17:56 WIB
Garuda Indonesia (GIAA) Rights Issue 124,35 Miliar Saham Baru, Awas Risiko Dilusinya
ILUSTRASI. Pesawat Airbus maskapai Citilink (DOK/Citilink)


Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Langkah PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) melakukan rights issue sebagai bagian dari restrukturisasi dinilai bisa membantu penyehatan kinerja perseroan ke depan.

GIAA bakal menggelar Penambahan Modal dengan Memberikan HMETD alias rights issue sebanyak 124,35 miliar saham. 

Aksi korporasi ini merupakan tindak lanjut dari Rancangan Restrukturisasi Penyehatan GIAA untuk inbreng lahan PT Angkasa Pura Indonesia (API) kepada PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMFI).

Sesuai Rancangan Restrukturisasi Penyehatan, inbreng lahan API merupakan tahap awal dari rangkaian penyehatan perusahaan. 

Baca Juga: Rupiah Diproyeksi Melemah Jumat (2/10), Level Rp 18.000 Jadi Perhatian Pasar

Setelah pelaksanaan inbreng lahan tersebut, saham GMFI yang dimiliki API akan dialihkan kepada InJourney dan selanjutnya kepada PT Danantara Asset Management (DAM) melalui pembagian dividen dalam bentuk selain uang atau dividend in specie.

Manajemen GIAA bilang, perusahaan bermaksud untuk menerbitkan sebanyak-banyaknya 124.352.806.609 saham Seri E dengan nilai nominal sebesar Rp 25. 

“Harga pelaksanaan Rencana PMHMETD III akan ditetapkan dan diumumkan kemudian di dalam prospektus Rencana PMHMETD III,” tulis manajemen dalam prospektus tanggal 30 September 2026.

Berdasarkan analisis dampak inbreng saham GMFI terhadap kinerja keuangan, ekuitas konsolidasi GIAA mengalami perbaikan menjadi negatif US$ 52,15 juta pada 30 Juni 2026 atas inbreng Saham GMFI ke Perseroan. 

Lebih lanjut, ekuitas tersendiri (standalone) perseroan mengalami perbaikan menjadi US$ 646,15 juta pada 30 Juni 2026.

Manajemen GIAA mengatakan, dana hasil rights issue ini setelah dikurangi biaya emisi akan digunakan untuk dua hal utama.

Pertama, perolehan saham GMFI oleh GIAA yang dilakukan melalui penyertaan modal DAM pada perseroan secara non-tunai (inbreng) diharapkan secara langsung dapat memperbaiki kondisi keuangan dan membantu menunjang kegiatan operasional.

Sisanya, akan digunakan oleh GIAA sebagai modal kerja untuk mendukung kegiatan usaha dalam realisasi rencana transformasi, yang mana pada tahun 2026 difokuskan pada stabilisasi dan pemulihan ketahanan operasional.

Baca Juga: Japfa Comfeed (JPFA) Divestasi Vaksindo Rp 1,8 Triliun, Neraca Bakal Makin Sehat

“Mulai tahun 2027 dan seterusnya, Garuda Indonesia Group akan secara bertahap melakukan perbaikan struktural yang mencakup aspek sumber daya manusia, proses, dan kapabilitas digital,” tuturnya.

Dalam rights issue ini, DAM bermaksud untuk melaksanakan HMETD yang akan dimilikinya dengan melakukan Rencana Inbreng. 

Adapun pemegang HMETD lainnya dapat melaksanakan HMETD yang dimilikinya melalui penyetoran secara tunai sesuai dengan ketentuan PMHMETD III.

Terkait aksi korporasi ini, GIAA akan menyelenggarakan RUPSLB pada 6 November 2026 dan pengumuman hasil RUPSLB pada 10 November 2026.

“Jangka waktu antara tanggal persetujuan RUPSLB sampai dengan tanggal pernyataan efektif dari OJK adalah tidak lebih dari 12 bulan,” papar manajemen.

Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Amand melihat, inbreng lahan ini baru tahap awal dari rancangan restrukturisasi penyehatan.

“Sehingga tahapan lanjutan seperti tambahan dukungan modal dari pemegang saham, renegosiasi sewa pesawat, dan penataan armada menjadi kunci pemulihan,” ujarnya kepada Kontan, Kamis (1/10/2026).

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata menilai, aksi rights issue ini dapat memperkuat aset dan ekuitas GIAA, tetapi bukan sepenuhnya sana segar. Sebab, Danantara akan mengambil haknya melalui inbreng saham GMFI senilai sekitar Rp 5,66 triliun, sementara investor publik menyetor tunai. 

Secara substansi, transaksi ini lebih merupakan restrukturisasi kepemilikan GMFI setelah masuknya aset lahan Angkasa Pura, bukan suntikan kas langsung Rp5,66 triliun ke operasional Garuda. 

Baca Juga: Pasar Saham Anjlok, Aset Kripto Memimpin Pemulihan Imbal Hasil

Pemegang saham yang tidak menebus haknya berpotensi terdilusi maksimum sekitar 23,4% apabila seluruh saham baru diterbitkan. Perlu dicatat, Rp25 adalah nilai nominal saham, bukan otomatis harga pelaksanaan rights issue yang sampai saat ini belum diumumkan. 

“Balance sheet GIAA mungkin terlihat lebih kuat, tetapi likuiditas dan profitabilitasnya tidak otomatis langsung sehat,” ujarnya kepada Kontan, Kamis.

Abida melihat, kinerja GIAA di akhir 2026 hingga tahun 2027 akan terdorong dengan dukungan nyata Danantara dalam rangkaian penyehatan, perbaikan ekuitas dari konsolidasi GMFI, pemulihan permintaan penerbangan, serta musim libur akhir tahun. 

“Sedangkan, sentimen negatif yang memengaruhi kinerja GIAA ke depan adalah ekuitas yang masih tertekan, beban sewa pesawat dan utang berdenominasi dolar di tengah rupiah lemah, serta harga avtur yang mengikuti minyak yang masih tinggi,” katanya.

Liza berpandangan, prospek GIAA masih tergolong high-risk turnaround. Pendapatan perseroan di semester I 2026 memang naik sekitar 16%, tetapi perusahaan tetap rugi bersih US$ 120,72 juta. 

Sentimen positif penggerak kinerja Garuda dapat datang dari penambahan pesawat yang beroperasi, perbaikan utilisasi dan rute, penguatan GMFI, serta kemungkinan sinergi dgn Pelita Air. 

Namun, GIAA masih menghadapi risiko harga avtur, pelemahan rupiah, biaya leasing dan pemeliharaan (maintenance), serta beban masa lalu yang besar.

Pemulihannya harus datang dari efisiensi rute, renegosiasi kewajiban, serta produktivitas armada dan arus kas operasi, bukan hanya via rights issue atau dipasangkan dengan BUMN yang lebih sehat. 

“Dukungan negara tetap dapat diberikan untuk melindungi bisnis, karyawan, dan investor publik. Namun, harus tetap disertai KPI, batas tambahan modal dan konsekuensi yang jelas apabila manajemen kembali gagal memenuhi target,” paparnya.

Dengan kondisi tersebut, baik Abida maupun Liza belum memberikan rekomendasi untuk GIAA.

Baca Juga: Pemerintah Tebar Stimulus Rp 31 Triliun, Saham Consumer Ini Berpotensi Terdongkrak

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×