kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.773.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.739   71,00   0,40%
  • IDX 6.162   67,10   1,10%
  • KOMPAS100 813   8,13   1,01%
  • LQ45 620   4,04   0,66%
  • ISSI 218   3,97   1,85%
  • IDX30 355   2,58   0,73%
  • IDXHIDIV20 437   -1,89   -0,43%
  • IDX80 94   1,08   1,17%
  • IDXV30 121   0,41   0,34%
  • IDXQ30 115   -0,63   -0,54%

Emiten Poultry Panen Cuan di Awal 2026, Pelemahan Rupiah Jadi Ancaman


Minggu, 24 Mei 2026 / 11:09 WIB
Emiten Poultry Panen Cuan di Awal 2026, Pelemahan Rupiah Jadi Ancaman
ILUSTRASI. Peternak memberi makan Day Old Chick (DOC) di kandangnya (KONTAN/Baihaki)


Reporter: Muhammad Alief Andri | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja emiten sektor perunggasan menunjukkan pertumbuhan solid pada kuartal I-2026. PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN), PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA), dan PT Malindo Feedmill Tbk (MAIN) masing-masing mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 12,7% secara tahunan (YoY), 23,6% secara yoy, dan 17% yoy.

Kinerja positif tersebut ditopang oleh tingginya harga ayam hidup (live bird) dan day old chick (DOC), seiring pembatasan kuota impor grand parent stock (GPS), serta efisiensi operasional yang mampu menahan kenaikan beban pokok penjualan.

Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi, menilai kualitas pertumbuhan kinerja emiten poultry pada awal tahun ini tergolong solid dan bahkan melampaui ekspektasi pasar.

Baca Juga: Harga Emas Tinggi Tak Jamin Untung, Emiten Produsen Emas Hadapi Tekanan

“Kinerja Kuartal I-2026 solid dan di atas ekspektasi. Penopangnya harga live bird dan DOC yang tinggi serta efisiensi operasional yang mampu menekan kenaikan COGS (cost of goods sold) di bawah pertumbuhan pendapatan,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (22/5/2026).

Senada, Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo, juga melihat kinerja sektor poultry masih kuat di tengah tekanan biaya bahan baku.

“Kinerja emiten poultry pada Kuartal I-2026 masih solid, didukung membaiknya harga ayam hidup, permintaan domestik yang stabil, serta efisiensi operasional,” jelasnya.

Meski demikian, pelemahan nilai tukar rupiah menjadi tantangan utama bagi sektor ini, mengingat ketergantungan pada bahan baku impor untuk pakan ternak.

Wafi menjelaskan, komponen pakan menyumbang sekitar 50% dari total biaya produksi, dengan mayoritas bahan baku seperti bungkil kedelai dan feed additive masih diimpor dalam dolar AS.

“Dampaknya signifikan terhadap struktur biaya dan margin. Emiten terintegrasi seperti CPIN dan JPFA relatif lebih mampu menyerap tekanan dibandingkan MAIN,” tambahnya.

Azis juga menilai hal serupa. Menurutnya, pelemahan rupiah berpotensi meningkatkan biaya pakan dan menekan profitabilitas emiten.

Baca Juga: IHSG Diproyeksikan Menguat di Perdagangan Senin (24/5), Ini Saham Rekomendasi Analis

Memasuki Kuartal II-2026, prospek kinerja emiten poultry diperkirakan masih tumbuh, namun dengan tekanan pada sisi margin.

“Kuartal II akan cenderung mixed. Permintaan masih terjaga, tetapi margin akan terkompresi akibat normalisasi harga ayam pasca high season serta kenaikan biaya bahan baku berbasis dolar AS,” kata Wafi.

Azis menambahkan, pertumbuhan kinerja masih berlanjut, namun lebih moderat dibandingkan kuartal sebelumnya, dengan profitabilitas yang sangat dipengaruhi volatilitas kurs dan harga bahan baku.

Dari sisi harga jual, ruang penyesuaian dinilai terbatas karena sensitivitas industri terhadap daya beli masyarakat.

“Kemampuan pass-through terbatas. Harga live bird memang masih tinggi karena suplai terkendali, tetapi ruang menaikkan harga ke peternak sempit,” ujar Wafi.

Ia menilai, CPIN memiliki posisi paling kuat untuk melakukan penyesuaian harga berkat statusnya sebagai pemimpin pasar dengan jaringan distribusi yang terintegrasi.

Azis juga menyebut, emiten besar masih dapat menjaga margin melalui efisiensi dan optimalisasi segmen hilir, meskipun tekanan biaya meningkat.

Dari sisi fundamental, Wafi menilai CPIN sebagai emiten paling resilien dengan rasio utang rendah, posisi kas kuat, serta integrasi bisnis hulu hingga hilir.

“CPIN paling resilien dengan DER (debt to equity ratio) 0,32 kali, kas Rp7,43 triliun, dan ROE (return on equity) 28%. JPFA juga cukup kuat dari sisi diversifikasi segmen, sementara MAIN relatif lebih rentan terhadap tekanan biaya,” jelasnya.

Sementara itu, Azis melihat JPFA sebagai emiten yang paling mampu menjaga stabilitas kinerja, didukung integrasi bisnis yang kuat serta kontribusi segmen hilir yang lebih besar.

“JPFA relatif paling resilien karena memiliki diversifikasi pendapatan dan eksposur hilir yang cukup besar,” ujarnya.

Baca Juga: Cakra Buana (CBRE) Bakal Rights Issue, Andry Hakim dan Gabriel Rey Jadi Standby Buyer

Untuk rekomendasi, Azis memberikan rating buy untuk JPFA dengan target harga Rp3.100 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×