Reporter: Rashif Usman | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sektor konsumer siklikal mencatatkan performa positif pada awal 2026. Berdasarkan data statistik Bursa Efek Indonesia (BEI) per Jumat (23/1/2026), indeks sektor konsumer siklikal telah menguat 15,96% secara year to date (YtD).
Kinerja tersebut menjadi yang tertinggi dan melampaui penguatan 10 sektor lainnya di pasar saham.
Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand menilai lonjakan drastis sektor konsumer siklikal di awal tahun 2026 dipicu oleh rotasi sektoral masif dari sektor teknologi dan perbankan menuju sektor yang lebih sensitif terhadap ekonomi riil.
Sektor teknologi yang sempat menjadi primadona pada 2025 mulai dinilai memiliki valuasi jenuh, sehingga likuiditas mengalir deras ke sektor siklikal yang memiliki fundamental solid namun sempat tertinggal pada periode sebelumnya.
Baca Juga: Catat Pertumbuhan Solid, PINTU Catat Pengguna Melonjak 38% di 2025
"Fenomena January Effect yang diperkuat oleh optimisme terhadap pemulihan daya beli masyarakat serta normalisasi aktivitas ekonomi pasca transisi politik menjadi katalisator tambahan yang mendorong indeks," kata Abida kepada Kontan, Jumat (23/1/2026).
Selain itu, sentimen makroekonomi utama yang memengaruhi sektor ini meliputi berakhirnya ketidakpastian politik di Amerika Serikat pasca government shutdown yang memicu kembalinya minat investor global terhadap aset pasar negara berkembang.
Di dalam negeri, kebijakan Bank Indonesia yang mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) pada level 4,75% memberikan kepastian moneter di tengah inflasi yang terkendali pada level 2,92%.
Kemudian, dukungan fiskal pemerintah melalui belanja negara senilai Rp3.842,7 triliun, termasuk alokasi masif Rp 335 triliun untuk program Makanan Bergizi Gratis (MBG) menjadi pendorong vital bagi konsumsi domestik dan daya beli masyarakat.
Baca Juga: Buma Internasional Grup (DOID) Suntik Modal ke 29Metals, Begini Rekomendasi Sahamnya
Adapun Abida berpendapat, sejumlah saham yang mendorong kenaikan indeks ini meliputi PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) dan PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (ACES).
Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo menambahkan kenaikan sektor ini dikarenakan adanya aksi korporasi emiten yang dilakukan seperti PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) dan PT MD Pictures Tbk (FILM) yang melakukan right issue.
"Kedua saham tersebut juga memiliki bobot yang cukup tinggi terhadap sektor indeks konsumer siklikal," terang Azis kepada Kontan, Jumat (23/1/2026).
Kendati begitu, Azis cenderung melihat pergerakan yang moderat dan rawan koreksi mengingat aksi korporasi sudah di lakukan dan kenaikan saham sudah sangat signifikan. Tetapi untuk trading jangka pendek investor bisa memanfaatkan momentum teknikal.
Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi memiliki pandangan berbeda. Ia menilai reli sektor ini terutama ditopang oleh sub-sektor ritel perhiasan emas dan ritel kelas atas.
Baca Juga: Austindo Nusantara Jaya (ANJT) Beri Penjelasan ke Bursa Soal Kredit Rp 4,84 Triliun
"Kenaikan harga emas dan momentum Imlek dan persiapan Lebaran jadi pendorong utama optimisme pasar," ucap Wafi kepada Kontan, Jumat (23/1/2026).
Kenaikan sektor ini juga ditopang oleh perilaku inflation hedging serta ketahanan daya beli konsumen kelas atas. Di tengah pelemahan nilai tukar rupiah, konsumen cenderung mengalihkan aset ke emas atau barang tahan lama, yang pada akhirnya menguntungkan emiten dengan segmen pasar menengah hingga atas.
Menurutnya, saham-saham seperti HRTA, MAPI, dan ACES menjadi motor penggerak utama.
penguatan diperkirakan masih berlanjut hingga semester I-2026 dengan dukungan momentum hari raya, meski investor perlu mewaspadai potensi perlambatan daya beli pada paruh kedua tahun ini.
Potensi Penguatan Konsumer
Abida menerangkan potensi penguatan indeks konsumer siklikal hingga akhir tahun 2026 diproyeksikan positif dengan target IHSG yang diperkirakan mampu menembus level 10.000 dalam skenario optimistis.
Secara sektoral, laba tahunan di industri konsumsi diskresioner diprediksi akan terus berakselerasi dengan pertumbuhan rata-rata mencapai 24% selama lima tahun ke depan, didorong oleh peningkatan pendapatan per kapita dan pergeseran pola belanja masyarakat ke arah ekonomi berbasis pengalaman.
Rekomendasi Saham
Azis merekomendasikan trading buy saham BUVA dengan target Rp 2.000-Rp 2.300 dan support Rp 1.766-Rp 1.725 per saham.
Baca Juga: Aksi Buyback Ramai pada Januari 2026, Cermati Saham Rekomendasi Analis
Abida menyarankan buy saham MAPI dan ACES di target harga masing-masing Rp 1.400 dan Rp 550 per saham.
Wafi juga membagikan rekomendasi untuk mencermati saham HRTA, MAPI dan ACES dengan target harga masing-masing Rp 2.500, Rp 2.100 dan Rp 500 per saham.
Selanjutnya: Penanganan Banjir di Bekasi Tak Bisa Instan, Begini Penjelasan Menteri PU
Menarik Dibaca: 5 Manfaat Rutin Minum Kopi Setiap Hari untuk Kesehatan Tubuh
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
- BI Rate
- Film
- inflasi
- Bursa Efek Indonesia
- ACES
- JPFA
- January Effect
- ASII
- rekomendasi saham
- MAPI
- BRI Danareksa Sekuritas
- AMRT
- BUVA
- valuasi saham
- Belanja Negara
- Kiwoom Sekuritas Indonesia
- Program Makanan Bergizi Gratis
- PT Astra International
- Sektor Konsumer Siklikal
- IHSG 2026
- Rotasi Sektoral
- Abida Massi Armand
- kinerja saham 2026
- saham konsumer siklikal













