Reporter: Veri Nurhansyah Tragistina | Editor: Avanty Nurdiana
JAKARTA. Niat emiten menggeber ekspansi di tahun ini tak sesuai harapan. Ini karena, adanya ketidakpastian politik akibat pemilihan umum (pemilu) dan bisnis emiten.
Perubahan strategi setidaknya terlihat dari keputusan beberapa emiten besar memangkas belanja modal alias capital expenditure (capex). Berdasarkan catatan KONTAN, ada empat emiten yang baru-baru ini mengurangi capex di tahun ini.
Salah satunya, PT Timah Tbk (TINS). Awalnya, produsen timah pelat merah itu menganggarkan belanja modal Rp 1,4 triliun untuk menopang ekspansi tahun ini. Sukrisno, Direktur Utama TINS menuturkan, anggaran capex ditetapkan dengan asumsi harga jual timah tahun ini bisa US$ 25.000-US$ 26.000 per ton. Namun, hingga semester I 2014, harga jual timah baru US$ 23.000 per ton.
TINS pun memprediksikan, harga jual di tahun ini maksimal US$ 24.000 per ton. "Jadi, kami kemungkinan akan turunkan capex jadi Rp 800 miliar, sisanya di-carry over tahun depan," kata Sukrisno belum lama ini.
PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) juga menurunkan anggaran belanja modal 2014 yang telah ditetapkan US$ 400 juta. Capex itu awalnya untuk membangun pabrik di Padang dan ekspansi ke Myanmar.
Namun, SMGR ternyata tak bisa merealisasikan rencana melebarkan sayap bisnisnya ke Myanmar dalam waktu dekat. Imbasnya, dana US$ 100 juta-US$ 200 dari capex tidak akan diserap di tahun ini.
SMGR akan mengalihkan capex tersebut ke kuartal I tahun depan. Strategi pengurangan capex dengan alasan berbeda ditempuh oleh induk usaha bisnis perkebunan Grup Salim, PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP). Perusahan ini mengurangi belanja modal tahun ini sebesar 20%-30% menjadi Rp 2,1 triliun hingga Rp 2,4 triliun. Awalnya, capex SIMP tahun ini Rp 3 triliun.
Johnny Ponto, Direktur SIMP sebelumnya menuturkan, keputusan tersebut strategi efisiensi dari sisi operasional. Di tahun ini, pengembangan yang dilakukan SIMP cenderung tak terlalu agresif. Sebelumnya SIMP akan menanam 15.000 hektar, maka penanaman yang dilakukan saat ini kurang dari jumlah tersebut.
Bunga Tinggi
Emiten terakhir yang merevisi target ekspansi adalah PT Mitra Pinasthika Mustika Tbk (MPMX). Anak usaha Grup Saratoga itu akan memangkas target penambahan armada anak usaha rental mobil, yakni PT Mitra Pinasthika Mustika Rent (MPM Rent). Awalnya, MPM Rent akan menambah armada baru 4.500 unit di tahun ini. Rencana ini diharapkan mendongkrak jumlah armada MPM Rent dari 13.500 unit menjadi 18.000 unit. Namun, tingginya suku bunga memaksa MPM Rent hanya akan menambah armada menjadi 16.500 unit di tahun ini.
David Sutyanto, Analis First Asia Capital mengatakan, banyaknya emiten yang merevisi rencana ekspansi secara umum didorong oleh tiga faktor. Pertama, ketidakpastian politik akibat pemilu yang membuat emiten lebih waspada untuk mengembangkan bisnis. Kedua, biaya modal alias cost of fund yang dikeluarkan emiten kian mahal lantaran tingginya suku bunga acuan. Akibatnya, ruang gerak emiten mencari pendanaan terutama dari perbankan kian terbatas.
Ketiga, kondisi bisnis secara sektoral. "Di pertambangan misalnya emiten tentu akan menahan ekspansi lantaran harga jual yang masih buruk," jelas David. Kendati begitu, Dia menilai, secara rata-rata, pertumbuhan laba emiten di Indonesia bisa naik 10%-15% di tahun ini.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













