kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.680.000   -30.000   -1,11%
  • USD/IDR 17.882   6,00   0,03%
  • IDX 6.374   105,97   1,69%
  • KOMPAS100 836   13,50   1,64%
  • LQ45 634   8,05   1,29%
  • ISSI 220   3,58   1,65%
  • IDX30 354   2,96   0,84%
  • IDXHIDIV20 429   0,94   0,22%
  • IDX80 95   1,52   1,62%
  • IDXV30 118   0,42   0,35%
  • IDXQ30 112   0,52   0,46%

Emiten Jasa Pertambangan Masih Prospektif, Ini Saham Pilihan Analis


Rabu, 12 Agustus 2026 / 18:58 WIB
Emiten Jasa Pertambangan Masih Prospektif, Ini Saham Pilihan Analis
ILUSTRASI. Kinerja emiten jasa pertambangan diperkirakan memiliki ruang untuk tumbuh hingga akhir 2026 meski ekspor batubara Indonesia menghadapi tekanan (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Dimas Andi | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja emiten jasa pertambangan diperkirakan masih memiliki ruang untuk tumbuh hingga akhir 2026 meski ekspor batubara Indonesia menghadapi tekanan dari sisi volume. Sejumlah faktor seperti aktivitas produksi klien, stripping ratio, utilisasi alat berat, hingga harga komoditas dinilai lebih menentukan prospek kontraktor tambang.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor batubara nasional sepanjang Januari-Juni 2026 mencapai US$ 12,04 miliar atau naik tipis 0,63% secara tahunan (year on year/yoy) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$ 11,96 miliar.

Di sisi lain, volume ekspor batubara nasional mengalami penurunan 6,37% yoy. Volume ekspor tercatat 184,20 juta ton pada semester I-2026, dibandingkan 172,45 juta ton pada semester I-2025.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Imam Gunadi mengatakan, penurunan volume ekspor batubara pada paruh pertama 2026 belum menjadi sinyal negatif secara langsung bagi emiten jasa pertambangan.

Menurut dia, kinerja kontraktor tambang tidak semata-mata ditentukan oleh volume ekspor batubara nasional. Faktor seperti volume produksi tambang milik klien, stripping ratio, pengupasan lapisan tanah atau overburden removal, serta utilisasi alat berat juga menjadi indikator penting.

Baca Juga: Emiten Translog Masih Melaju, Simak Prospek dan Rekomendasi Sahamnya

Selain itu, harga atau nilai per ton batubara masih dapat memberikan kompensasi terhadap penurunan volume yang dialami emiten jasa pertambangan.

Margin emiten jasa pertambangan pun dinilai masih relatif terjaga selama harga batubara tetap tinggi dan aktivitas produksi klien tidak mengalami penurunan signifikan.

Namun, margin tidak hanya ditentukan oleh harga batubara. Kenaikan biaya operasional, terutama bahan bakar, maintenance, suku cadang dan depresiasi alat berat, tetap menjadi komponen yang krusial bagi emiten jasa pertambangan.

"BPS sendiri mencatat harga produsen sektor pertambangan dan penggalian naik 8,03% quarter on quarter (qoq) pada kuartal II-2026, dengan subsektor batubara dan lignit naik 8,35%," ungkap dia, Rabu (12/8).

Imam memperkirakan prospek kinerja emiten jasa pertambangan cukup positif pada semester II-2026, namun bakal lebih selektif. Salah satu faktor penopangnya adalah permintaan batubara dari China yang relatif tetap kuat dalam jangka pendek.

Tingginya permintaan batubara dari China dapat menopang harga sekaligus menjaga keekonomian produksi tambang. Kondisi tersebut pada akhirnya berpotensi mendukung aktivitas pekerjaan kontraktor tambang.

Baca Juga: IHSG Berpeluang Lanjut Menguat, Investor Tunggu Inflasi AS dan Rebalancing MSCI

"Namun, kenaikan impor batubara dari China tidak seluruhnya mencerminkan pertumbuhan permintaan struktural," katanya.

Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan mengatakan, prospek sektor jasa pertambangan masih cukup positif pada paruh kedua tahun ini, tetapi investor perlu lebih selektif. Risiko terbesar bagi emiten justru berasal dari volume pekerjaan, terutama apabila pemerintah mempertahankan kebijakan pengetatan produksi melalui Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB).

Dampak kebijakan tersebut telah terlihat pada PT Pamapersada Nusantara (PAMA), anak usaha PT United Tractors Tbk (UNTR). Volume overburden PAMA turun 10% pada semester I-2026. Pada periode yang sama, produksi batubara klien juga turun 3% mengikuti penyesuaian RKAB.

"Pemerintah sendiri memang menggunakan penyesuaian RKAB untuk mengendalikan oversupply dan menjaga harga komoditas," terang dia, Rabu (12/8).

Diversifikasi Jadi Kunci

Ekky melanjutkan, diversifikasi ke komoditas mineral lain tetap penting bagi emiten jasa pertambangan, terutama emas, tembaga, dan nikel. Pelaku usaha juga dapat mengembangkan bisnis engineering, procurement, & construction (EPC) serta infrastruktur pertambangan.

Langkah tersebut bukan hanya bertujuan mengejar pertumbuhan, tetapi juga mengurangi ketergantungan emiten terhadap siklus batubara. Meski demikian, ekspansi tetap perlu dilakukan secara selektif karena komoditas seperti nikel juga menghadapi ketidakpastian terkait kuota RKAB.

Selain harga komoditas, sejumlah sentimen lain perlu diperhatikan oleh emiten jasa pertambangan. Faktor tersebut mencakup realisasi RKAB, dinamika cuaca, harga bahan bakar, pergerakan kurs, stripping ratio, perolehan kontrak baru, dan utilisasi alat berat.

Baca Juga: Harga Emas Bertahan di Atas US$ 4.400, Ini Saran Bagi Investor

Menurut Ekky, emiten yang berpotensi mencatatkan kinerja lebih baik hingga akhir tahun adalah perusahaan yang memiliki kontrak jangka panjang dengan visibilitas volume yang baik, basis pelanggan dan komoditas yang terdiversifikasi, utilisasi alat berat tinggi, serta neraca keuangan yang sehat.

"Kemampuan melakukan efisiensi biaya dan memperoleh kontrak dengan mekanisme penyesuaian tarif terhadap kenaikan biaya bahan bakar menjadi penting," tutur dia.

Rekomendasi Saham Jasa Pertambangan

Untuk pilihan saham, Ekky menjagokan PT United Tractors Tbk (UNTR) dengan rekomendasi beli dan target harga sekitar Rp 27.700 per saham sampai Rp 30.000 per saham.

Selain UNTR, saham PT Darma Henwa Tbk (DEWA) juga dinilai menarik, meski memiliki karakter yang lebih agresif, dengan target harga sekitar Rp 670-Rp 700 per saham.

PT Samindo Resources Tbk (MYOH) juga menarik untuk dicermati dari sisi valuasi dan dividen, meski ruang pertumbuhannya relatif lebih terbatas. Sementara itu, saham PT BUMA Internasional Grup Tbk (DOID) masih berada dalam posisi wait and see.

Imam turut merekomendasikan hold saham UNTR dengan target harga Rp 28.500 per saham. Target tersebut terutama ditopang oleh prospek pemulihan bisnis kontraktor tambang PAMA yang menjadi salah satu penopang utama kinerja UNTR.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×