kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45919,51   10,20   1.12%
  • EMAS1.350.000 0,52%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Emiten-Emiten Ini Mendapat Angin dari Harga Nikel yang Tengah Melonjak Lagi


Selasa, 23 April 2024 / 05:27 WIB
Emiten-Emiten Ini Mendapat Angin dari Harga Nikel yang Tengah Melonjak Lagi
ILUSTRASI. Aktivitas pekerja?PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) di Pulau Obi, Halmahera, Maluku Utara.


Reporter: Sugeng Adji Soenarso | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga nikel tengah melonjak lagi. Potensi kenaikan permintaan dari China dan keterbatasan pasokan menjadi pendorongnya.

Berdasarkan data Trading Economics, harga nikel berada di US$ 19.469 per ton pada Senin (22/4), pukul 13.42 WIB. Dalam sepekan harga nikel telah naik 9,39% dan sebulan terakhir melesat 12,60%.

Senior Investment Analyst Stockbit Anggaraksa Arismunandar mengatakan, kenaikan ini menandai level harga nikel tertinggi pada 2024, sekaligus pertama kalinya menembus level US$ 19.000 per ton sejak September 2023. Menurutnya, terdapat sejumlah faktor yang mendorong harga nikel.

Pertama, larangan perdagangan atas produk logam nikel buatan Rusia yang dikeluarkan oleh pemerintah AS dan Inggris. Kedua, keterlambatan persetujuan rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) pertambangan nikel di Indonesia yang berpotensi mengurangi pasokan.

"Lalu, kabar yang beredar di pasar bahwa otoritas China tengah berencana untuk melakukan pembelian produk Nickel Pig Iron (NPI) hingga 200.000 ton," tulisnya dalam riset, yang dikutip Kontan.co.id, Senin (22/4).

Baca Juga: Harga Batubara Tren Naik, Cek Saham Tambang Batubara Yang Perlu Beli & Jual

Anggaraksa menilai, membaiknya harga nikel setelah sempat tertekan hingga level US$ 15.000 per ton pada awal 2024 berpotensi berimbas pada kenaikan rata-rata harga jual (ASP). Sejumlah produsen nikel, seperti INCO, NCKL, dan MBMA akan menikmati momentum ini.

"Kenaikan ASP berujung pada kenaikan pendapatan secara tahunan, mengingat NCKL dan MBMA masih memiliki target kenaikan produksi tahunan yang cukup signifikan pada 2024," katanya.

Selain itu, lanjut Anggaraksa, produsen nikel asal Indonesia juga terbilang sangat kompetitif dengan struktur biaya yang lebih rendah. Per 2023, emiten seperti INCO dan NCKL memiliki biaya kas (cash cost) di kisaran US$ 10.000 per ton.

"Jika struktur biaya yang lebih rendah ini dapat dipertahankan, maka emiten-emiten produsen nikel di Indonesia dapat menikmati margin keuntungan yang lebih baik ketika harga nikel naik, serta dapat terus bertahan pada situasi harga nikel sedang melemah," imbuhnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×