kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.655.000   -15.000   -0,56%
  • USD/IDR 17.985   -35,00   -0,19%
  • IDX 5.986   70,43   1,19%
  • KOMPAS100 782   11,35   1,47%
  • LQ45 595   10,44   1,79%
  • ISSI 206   0,99   0,48%
  • IDX30 337   5,69   1,72%
  • IDXHIDIV20 416   7,36   1,80%
  • IDX80 89   1,44   1,65%
  • IDXV30 113   2,29   2,08%
  • IDXQ30 108   1,76   1,65%

Emiten bank BUMN kabarnya bakal suntik Bukopin, simak kata analis berikut ini


Kamis, 11 Juni 2020 / 19:05 WIB
ILUSTRASI. Nasabah mencoba layanan chatbot digital Virtual Interactive Online Assistant (VIOLA) usai peluncuran di Bank Bukopin Jakarta, Kamis (12/12). VIOLA merupakan layanan digital Bukopin yang ditujukan kepada masyarakat untuk mengakses informasi transaksi perba


Reporter: Kenia Intan | Editor: Yudho Winarto

Presiden Direktur CSA Institute Aria Santoso menambahkan, lembaga yang memiliki likuiditas besar menolong yang kekurangan likuiditas merupakan salah satu solusi agar kepercayaan terhadap lembaga keuangan di industri perbankan tetap terjaga.

Ia juga menjelaskan, kondisi fundamental bank BUMN, seperti Non Performing Loan (NPL) dan Net Interest Margin (NIM), tidak akan terpengaruh selama tidak ada penurunan NIM kepada debitur. Asal tahu saja, bank yang dibantu tersebut tidak terhitung sebagai debitur.

Sentimen positif jangka panjang

Teguh tidak memungkiri, jika skema ini terealisasi maka akan menjadi sentimen negatif bagi saham BUMN besar dalam jangka pendek. Sebab di pasar, aksi tersebut terkesan bank besar menggelontorkan dana  untuk perusahaan dengan aset yang tidak menarik. 

Akan tetapi, untuk jangka panjang, langkah bank-bank BUMN bisa menguntungkan. Sebab ketika dikelola dengan manajemen perusahaan besar, bank-bank kecil memiliki potensi bertumbuh ke depannya.

Tidak jauh berbeda, Aria mengungkapkan bahwa prospek saham-saham plat merah masih menarik. Ia menilai, kredit yang sudah diambil alih pastinya memiliki risiko yang sudah terukur.

Baca Juga: Lakukan restrukturisasi, Bank Mandiri tambah pencadangan hingga Maret 2021

" Untuk masalah yang masih menjadi beban tak teralihkan akan diposisikan sebagai risiko kerugian di bank yang lama," jelasnya.

Adapun ia melihat saham seperti BBRI, BMRI, dan BBNI masih menarik dijadikan pilihan investasi. Adapun BMRI buy Rp 4.400 dengan target harga Rp 6.000. BBRI buy Rp 2.750 dengan target Rp 3.600, dan BBNI buy 4.000 degan target Rp 5.500.

Sekadar informasi, berdasar data dari RTI Business, mayoritas saham Bukopin dimiliki oleh PT Bosowa Corporindo hingga 2,73 miliar atau setara 23,95%.

Sementara itu, Kookmin  Bank Co., Ltd.  memiliki 2,56 miliar saham atau setara 22%. Negara Republik Indonesia tercatat punya 1,04 juta saham atau 8,92% saham. Masyarakat memiliki 5,32 juta saham atau setara 45,69%

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×