Reporter: Rashif Usman | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja emiten konsumer dari grup Indofood mencatatkan kinerja apik sepanjang tahun 2025.
Dalam laporan keuangannya, PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) mencatatkan penjualan sebesar Rp 123,49 triliun di tahun 2025. Ini meningkat 6,65% year on year (yoy) dari posisi yang sama tahun sebelumnya Rp 115,78 triliun.
Sejalan dengan itu, laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk atau laba bersih mencapai Rp 10,68 triliun pada 2025. Angka ini naik 23,64% yoy dibandingkan Rp 8,64 triliun pada 2024.
Sementara itu, PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) mencatatkan penjualan neto sebesar Rp 74,85 triliun per tahun 2025. Perolehan itu meningkat 3,1% year on year (yoy) dari posisi tahun 2024 sebesar Rp 72,59 triliun.
Adapun, laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada entitas induk atau laba bersih yang diatribusikan ke pemilik entitas induk juga tumbuh lebih tinggi, yakni 30,3% yoy menjadi Rp 9,22 triliun pada 2025, dari Rp 7,08 triliun pada 2024.
Baca Juga: IHSG Melemah 0,91% ke 7.118,9 pada Kamis (2/4), Top Losers LQ45: BREN, ADMR, BRPT
Retail Research Analyst Sinarmas Sekuritas Cindy Alicia Ramadhania mengungkapkan kinerja INDF dan ICBP sepanjang 2025 tergolong solid, didorong oleh pertumbuhan pendapatan di hampir seluruh segmen usaha. Walaupun kinerja di tahun 2025 juga tidak lepas dari tantangan, seperti volatilitas harga bahan baku seperti gandum dan komoditas terkait serta pelemahan nilai tukar rupiah.
Dari sisi INDF, seluruh lini bisnis mencatatkan kenaikan penjualan, dengan segmen Consumer Branded Products (CBP) sebagai kontributor utama (sekitar 61% dari total pendapatan). Ini menunjukkan bahwa bisnis berbasis konsumsi sehari-hari masih cukup kuat.
ICBP juga mencatatkan pertumbuhan penjualan yang konsisten, dengan segmen mie instan sebagai penopang utama (kontribusi sekitar 73%).
Hal ini mencerminkan bahwa permintaan terhadap produk dengan harga terjangkau tetap tinggi, khususnya di tengah kondisi daya beli yang cenderung fluktuatif.
Secara sederhana, ketika daya beli konsumen melambat, konsumen cenderung beralih ke produk yang lebih murah (downtrading), dan mie instan menjadi salah satu pilihan utama.
Secara prospek, peluang dari dua emiten tersebut utamanya didorong oleh konsumsi dalam negeri. Selama kelas menengah masih kuat, produk Indofood yang harganya terjangkau ada potensi akan tetap dibeli, bahkan saat kondisi ekonomi sedang melambat.
Dari sisi ekspansi, ICBP masih memiliki ruang pertumbuhan yang menarik di pasar internasional.
"Inovasi produk menjadi kunci untuk mendorong pertumbuhan ke depan. Melalui pengembangan varian dan produk baru, Indofood berupaya menjaga relevansi dengan kebutuhan konsumen," kata Cindy kepada Kontan, Selasa (31/3/2026).
Namun, emiten grup Indofood ini juga bakal menghadapi sejumlah tantangan, seperti kenaikan harga bahan baku (gandum dan komoditas terkait).
Dalam kondisi geopolitik yang masih memanas, kenaikan harga ini dinilai sulit dihindari dan berada di luar kendali perusahaan. Akibatnya, tekanan terhadap margin berpotensi kembali terjadi jika perusahaan tidak dapat sepenuhnya mengalihkan kenaikan biaya ke harga jual.
Daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih juga menjadi faktor penghambat. Dalam kondisi ekonomi yang melemah, pertumbuhan volume penjualan cenderung terbatas, dan konsumen berpotensi beralih ke produk yang lebih terjangkau (downtrading).
"Persaingan yang semakin ketat, baik dari pemain lokal maupun global juga dapat membatasi ruang pertumbuhan," tambahnya.
Adapun risiko pelemahan rupiah akan berdampak langsung pada kenaikan biaya impor bahan baku, sehingga menambah tekanan pada struktur biaya perusahaan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













