kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.860.000   3.000   0,11%
  • USD/IDR 17.127   21,00   0,12%
  • IDX 7.458   150,91   2,07%
  • KOMPAS100 1.029   19,80   1,96%
  • LQ45 746   12,57   1,71%
  • ISSI 269   4,55   1,72%
  • IDX30 400   7,29   1,85%
  • IDXHIDIV20 490   9,98   2,08%
  • IDX80 115   1,84   1,62%
  • IDXV30 135   1,86   1,40%
  • IDXQ30 129   2,36   1,86%

Emas Anjlok 12% di Maret 2026, WGC: Investor Asia Justru Banyak Borong


Sabtu, 11 April 2026 / 15:16 WIB
Emas Anjlok 12% di Maret 2026, WGC: Investor Asia Justru Banyak Borong
ILUSTRASI. Harga Emas Turun (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Avanty Nurdiana | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga emas turun 12% pada Maret menjadi US$ 4.608 troy ons, menjadi penurunan secara bulanan terlemah sejak Juni 2013. Emas melemah terhadap semua mata uang utama, tetapi masih mencatat kenaikan secara tahunan.

Menurut Analis Kuantitatif Senior World Gold Council, Johan Palmberg dalam rilis menjelaskan, dalam model atribusi bulanan WGC, GRAM, yang menangkap sentimen pasar dipicu oleh arus keluar ETF emas global, pelepasan posisi beli bersih (long unwind) di COMEX, dan pembalikan tren harga. "Kontribusi yang lebih terbatas berasal dari penguatan dolar AS dan imbal hasil (yield),” kata dia dalam riset. 

Selama bulan Maret, ETF emas global mengalami arus keluar sebesar US$ 12 miliar (84 ton). Penjualan terbesar berasal dari Amerika Utara sebesar US$ 14 miliar (-87 ton) dan Eropa sebesar US$ 0,1 miliar (-7 ton). Justru di Asia terjadi arus masuk sebesar US$ 1,9 miliar (10 ton) menjadi kontributor positif. “Ini mencerminkan kuatnya aksi beli saat harga turun (dip-buying) di Asia menghasilkan arus dana yang lebih besar, meskipun tonasenya lebih kecil,” kata Johan. 

Baca Juga: Daya Intiguna Yasa (MDIY) Siap Lanjutkan Ekspansi Toko Baru di Tahun 2026

Posisi beli bersih investor (managed money) di COMEX turun US$ 2 miliar (19 ton) pada bulan Maret, tapi masih menunjukkan bias beli (long bias) yang kuat.

Sebagian aksi jual pada ETF emas juga kemungkinan berasal dari investor retail. Secara global, ETF emas mencatat arus keluar bersih sekitar 80 ton sejak awal Maret hingga tanggal 24, dengan kontribusi terbesar berasal dari pasar AS.

Aksi jual yang didorong oleh Commodity Trading Advisors (CTA) kemungkinan memperkuat tekanan penurunan harga. Berdasarkan estimasi dan laporan di pasar, CTA tercatat memiliki posisi beli (long) yang signifikan menjelang pertengahan Maret. Namun, CTA dilaporkan melakukan pelepasan secara agresif ketika rata-rata harga emas (moving average) menembus 50/55 hari pada 16 Maret untuk pertama kalinya dalam tujuh bulan terakhir.

Ketiga, pengurangan beban utang (deleveraging) lintas aset yang lebih luas kemungkinan besar akan berdampak pada emas. Tingginya utang margin (margin debt) dibandingkan kapitalisasi pasar diduga memicu aksi jual besar-besaran di pasar saham, dengan hampir seluruh sektor di S&P 500 (kecuali energi) mencatat pelemahan.

Dalam konteks ini, emas juga tidak luput dari tekanan likuidasi. Investor multi-aset diduga melakukan pengurangan beban utang (deleveraging). Upaya pengurangan leverage oleh investor multiaset, termasuk CTA yang memiliki eksposur terhadap saham, kemungkinan besar memicu peningkatan penjualan emas seiring dengan pemangkasan posisi untuk memenuhi kebutuhan likuiditas dan menurunkan risiko portofolio (VaR). 

Johan juga menambahkan jika dinamika pasar obligasi turut memperkuat tekanan harga emas. Obligasi AS mengalami aksi jual menyusul kejutan inflasi jangka pendek, yang mendorong kenaikan imbal hasil nominal tenor 2 tahun serta ekspektasi inflasi pasar (breakeven rate).

Baca Juga: FKS Food (AISA) Siap Bangkit Gelar Kuasi Reorganisasi Hapus Defisit Rp 2,7 Triliun

Menurut Johan, harga emas turun karena intervensi bank sentral serta spekulasi mengenai potensi aksi jual oleh bank sentral. Keputusan Bank Sentral Republik Turki (CBRT) untuk memanfaatkan sekitar 50 ton emas sebagai agunan, terutama melalui mekanisme perjanjian pertukaran aset sementara (swap), kemungkinan memicu spekulasi pasar terkait aksi jual.

Turki sebagai salah satu pembeli emas utama sejak 2017  menegaskan alasan mendasar mengapa emas tetap menjadi aset cadangan yang tidak tergantikan di tengah gejolak pasar.

Kondisi ini didorong oleh kebutuhan likuiditas, bukan perubahan strategi terhadap emas, didukung oleh data dari The Fed AS yang menunjukkan adanya peningkatan penjualan langsung (outright selling) US Treasuries oleh bank sentral, yang terjadi bersamaan sebagai upaya mengantisipasi risiko kenaikan harga energi.

Gangguan aktivitas pasar di beberapa wilayah Timur Tengah kemungkinan tidak memberikan dampak signifikan terhadap harga emas global pada bulan Maret. Gangguan perjalanan serta penurunan jumlah wisatawan menekan
permintaan perhiasan dan emas batangan kecil, khususnya dari pembeli asing. Harga lokal semakin dipengaruhi oleh meningkatnya potongan harga terhadap COMEX, meskipun penyesuaiannya relatif terbatas. 

Volume perdagangan di Dubai memang meningkat selama periode tersebut, tetapi belum mampu memengaruhi harga global. Aksi jual oleh investor dengan kekayaan tinggi (high-net-worth) juga kemungkinan bukan merupakan faktor utama yang mempengaruhi harga emas pada bulan Maret. Secara anekdotal, kelompok ini cenderung terus bergerak dan banyak yang menyimpan emas di
luar kawasan, terutama di brankas penyimpanan (vault) di Swiss.

Namun, laporan menunjukkan gangguan aktivitas pasar di wilayah Timur Tengah dinilai tidak memberikan dampak material terhadap harga emas global. 

Ke depan WGC memperkirakan harga emas mulai stabil didukung sejumlah faktor fundamental tetapi risiko tetap ada. Beberapa indikasi tersebut diantaranya: 

  • Dolar AS kesulitan mempertahankan penguatannya dan gagal menembus level tertinggi terbaru secara signifikan, sehingga mengurangi salah satu sumber tekanan jangka pendek.
  • Arus masuk ETF emas pada awal April terpantau positif di berbagai kawasan
  • Pasar opsi menunjukkan tingginya permintaan lindung nilai (hedging) jangka pendek, tetapi terdapat bias yang lebih konstruktif pada tenor yang lebih panjang. Hal ini mengindikasikan bahwa investor terus memandang emas secara positif dalam jangka menengah 
  • Pengetatan kebijakan kemungkinan akan bersifat retoris di AS, dan ekspektasi kenaikan suku bunga dapat segera berbalik arah (unwound). Setiap dorongan inflasi (CPI) dari sisi energi berpotensi menekan permintaan, sehingga membatasi dampaknya terhadap inflasi inti dan justru memperkuat peluang pergeseran kebijakan moneter ke arah yang lebih longgar (dovish) di kemudian hari
  • Laporan anekdotal juga menunjukkan mulai muncul permintaan dari segmen manajemen kekayaan (wealth management), sektor retail, dan permintaan fisik seiring harga mulai stabil di atas level teknikal utama. 
  • Namun, risiko masih membayangi. Jika konflik menyebabkan harga minyak bertahan jauh di atas US$ 100 per barel dalam jangka waktu lama, mengingat respons yang relatif tenang sebelumnya dilaporkan ditopang oleh bantalan kebijakan yang kini tidak lagi tersedia, maka hal ini berisiko memicu pengurangan beban utang (deleveraging) lintas aset lebih lanjut, lonjakan imbal hasil (yield blow-outs), atau bahkan mobilisasi emas oleh sektor resmi.

Baca Juga: Indocement (INTP) Hadapi Tantangan di 2026: Biaya Energi Naik & Rupiah Melemah

Dengan demikian, meskipun faktor fundamental tetap mendukung, pergerakan harga dalam jangka pendek kemungkinan sensitif terhadap kebutuhan likuiditas yang dipicu oleh konflik, bukan semata-mata oleh sinyal makroekonomi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×