kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.668.000   -5.000   -0,19%
  • USD/IDR 17.822   -47,00   -0,26%
  • IDX 6.177   4,80   0,08%
  • KOMPAS100 808   -9,54   -1,17%
  • LQ45 609   -7,52   -1,22%
  • ISSI 213   1,66   0,79%
  • IDX30 345   -4,23   -1,21%
  • IDXHIDIV20 421   -5,17   -1,21%
  • IDX80 92   -1,32   -1,42%
  • IDXV30 113   -1,72   -1,50%
  • IDXQ30 110   -1,54   -1,38%

Ekspansi Alfamart (AMRT) ke Filipina-Bangladesh: Cermati Rekomendasi Sahamnya


Sabtu, 20 Juni 2026 / 08:02 WIB
Ekspansi Alfamart (AMRT) ke Filipina-Bangladesh: Cermati Rekomendasi Sahamnya
ILUSTRASI. Cek rekomendasi saham dan target harga saham AMRT 12 bulan ke depan. (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Reporter: Rashif Usman | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat posisi di pasar global, PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) melalui entitas usahanya, Alfamart Retail Asia Pte. Ltd. (ARA), terus menjajaki dan mengevaluasi berbagai peluang ekspansi bisnis internasional. 

Melalui ARA, AMRT menjalankan serangkaian transaksi afiliasi yang melibatkan Glory Worldwide Investment Pte. Ltd. (GWI), Alfamart Trading Philippines, Inc. (ATP) dan Alfamart Trading Bangladesh Ltd (ATBL). Transaksi tersebut dirancang sebagai satu paket strategis untuk mengonsolidasikan aset serta aktivitas usaha terkait ke dalam ARA.

Langkah integrasi ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi operasional sekaligus memperkuat struktur permodalan ARA melalui masuknya GWI sebagai pemegang saham strategis.

"Pelaksanaan serangkaian transaksi tersebut merupakan bagian dari peta jalan AMRT untuk memperkuat peran ARA sebagai lini bisnis utama yang memiliki daya saing dan kapasitas pertumbuhan di pasar internasional," kata manajemen AMRT dalam keterbukaan informasi, Rabu (17/6/2026).

Baca Juga: Intip Rekomendasi Saham Emiten Properti di Era Suku Bunga Tinggi

Langkah pertama dalam transaksi restrukturisasi, Alfamart melakukan peningkatan modal atau Subscription Agreement. Lewat transaksi ini, ARA menerbitkan 49,75 juta saham baru dengan nilai sekitar US$ 40,63 juta.

Seluruh saham baru tersebut diambil oleh GWI, sehingga komposisi kepemilikan di ARA berubah signifikan. Jika sebelumnya AMRT menguasai 100% saham ARA, setelah transaksi kepemilikannya terdilusi menjadi 49%. Sebaliknya, GWI menjadi pemegang saham mayoritas dengan porsi 51%. 

Dana hasil peningkatan modal tersebut kemudian dialokasikan untuk transaksi kedua, yakni pembelian saham Alfamart Trading Philippines, Inc. (ATP). Melalui Share Purchase Agreement, ARA mengakuisisi 10% saham ATP dari GWI dengan nilai transaksi sekitar US$ 10,53 juta. Akuisisi ini meningkatkan kepemilikan ARA di entitas ritel Alfamart di Filipina dari sebelumnya 35% menjadi 45%. 

Tak hanya di Filipina, ARA juga akan mengambil alih saham AMRT di entitas bisnis Bangladesh. Dalam transaksi ketiga berupa Share Sale and Purchase Agreement, ARA membeli 70,02% saham Alfamart Bangladesh Limited (ATB) yang sebelumnya dimiliki oleh GWI. Nilai transaksi tersebut mencapai 220,75 juta Taka Bangladesh. Dengan akuisisi ini, ARA resmi menjadi pemegang saham mayoritas dan pengendali operasional bisnis AMRT di Bangladesh.

Berdasarkan laporan penilai independen, total nilai keseluruhan transaksi masih berada di bawah ambang batas 20% dari total ekuitas AMRT per akhir 2025 yang tercatat sebesar Rp 19,38 triliun. 

Baca Juga: IHSG Menguat 3,7% Sepanjang Pekan Ini, Simak Potensi Pergerakan IHSG di Pekan Depan

Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama, mengatakan ekspansi ke Filipina dan Bangladesh menunjukkan AMRT mulai memasuki fase pertumbuhan regional setelah bisnis domestiknya relatif matang. 

Dari sisi strategi, langkah ini positif karena membuka sumber pertumbuhan baru di pasar dengan populasi besar, tingkat urbanisasi yang masih berkembang, dan penetrasi modern retail yang belum setinggi Indonesia. 

Namun kontribusi terhadap kinerja keuangan kemungkinan belum signifikan dalam jangka pendek karena bisnis luar negeri masih membutuhkan investasi, penguatan jaringan distribusi, serta proses mencapai skala ekonomi. 

"Dampak yang lebih berarti berpotensi terlihat dalam jangka menengah hingga panjang apabila operasional di kedua negara mampu berkembang sesuai target," ujar Elandry kepada Kontan, Jumat (19/6/2026).

Disamping itu, Elandry bilang investor perlu melihat sentimen ini dari dua sisi. Positifnya, restrukturisasi tersebut memperkuat permodalan untuk ekspansi tanpa membebani neraca AMRT secara langsung dan menunjukkan upaya perusahaan membangun platform regional yang lebih terintegrasi. 

Di sisi lain, ekspansi lintas negara juga membawa execution risk, termasuk perbedaan regulasi, tingkat konsumsi masyarakat, persaingan lokal, serta potensi tekanan margin pada fase awal pengembangan bisnis. Maka dari itu, market sentimen kemungkinan cenderung positif, tetapi investor tetap akan menunggu bukti pertumbuhan pendapatan dan profitabilitas dari bisnis internasional tersebut.

 

Secara fundamental, AMRT masih didukung oleh bisnis inti yang solid, jaringan gerai yang luas, serta konsumsi domestik yang relatif defensif. Ekspansi regional menjadi tambahan katalis pertumbuhan jangka panjang. 

Untuk investor, Elandry melihat saham AMRT masih menarik untuk strategi akumulasi bertahap dengan target harga di kisaran Rp 2.500–Rp 3.000 dalam 12 bulan ke depan, dengan catatan pertumbuhan laba tetap terjaga dan kondisi konsumsi domestik tidak mengalami perlambatan yang signifikan. 

"Tapi, risiko utama yang perlu dicermati berasal dari perlambatan daya beli, kenaikan biaya operasional, serta potensi volatilitas pada fase awal ekspansi internasional," jelasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×