kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.711.000   2.000   0,07%
  • USD/IDR 17.818   -194,00   -1,08%
  • IDX 6.008   121,62   2,07%
  • KOMPAS100 794   18,85   2,43%
  • LQ45 597   10,61   1,81%
  • ISSI 206   5,10   2,54%
  • IDX30 339   4,60   1,38%
  • IDXHIDIV20 418   3,54   0,86%
  • IDX80 90   1,96   2,24%
  • IDXV30 113   2,76   2,50%
  • IDXQ30 109   1,12   1,03%

Ekonomi China menekan harga minyak


Kamis, 19 Juli 2012 / 06:21 WIB
ILUSTRASI. Pengembangan infrastruktur TI Mandiri: KONTAN/Baihaki/14/1/2010


Reporter: Rizki Caturini, Anna Marie Happy | Editor: Rizki Caturini

JAKARTA. Sinyal risiko perlambatan ekonomi di China yang semakin nyata, memadamkan laju harga minyak. Kekhawatiran penurunan permintaan minyak meningkat, setelah Perdana Menteri China, Wen Jiabao, mengatakan risiko pemutusan hubungan kerja di China makin tinggi.

Krisis utang Eropa, yang menahan laju pertumbuhan ekonomi dunia, juga mengancam permintaan minyak global. Prediksi itu muncul karena zona euro selama ini menggunakan 16% dari minyak yang diproduksi. Konsumsi zona euro cuma kalah dari Amerika Serikat (AS), yang menggunakan 21%, dan di atas China, yaitu 11%.

Sentimen positif dari pernyataan Gubernur Federal Reserves, Ben Bernanke, tentang kemungkinan kebijakan moneter untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi, gagal mengangkat harga minyak.

"Jika level US$ 90 per barel tidak bisa tembus, ada potensi minyak untuk terkoreksi lebih dalam," ujar Jonathan Barratt, CEO Barratt\'s Bulletin, seperti dikutip Bloomberg.

Kontrak pengiriman minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk Agustus 2012, Rabu (18/7), melemah 0,44% menjadi US$ 88,82 per barel. Jika dihitung dari rekor tertingginya di tahun ini, yaitu US$ 110,73, minyak sudah tergerus 24,66%.

Berpotensi naik

Harga minyak jenis Brent, kemarin, juga terkoreksi 0,38% menjadi US$ 103,60 per barel. Namun data versi Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC), harga minyak sudah kembali ke atas US$ 100 per barel.

Harga minyak yang dikutip OPEC, kemarin, US$ 101,29 per barel, naik 1,36% dari harga di hari sebelumnya.
Memang, minyak masih bisa mendidih lagi, setelah Iran mengancam akan menutup Selat Hormuz. Selat ini merupakan rute bagi pengiriman seperlima dari produksi minyak global. Ancaman itu merupakan reaksi Iran terhadap penjatuhan sanksi atas program nuklirnya.

Senior Analis Monex Investindo Futures, Ariana Nur Akbar, mengatakan, China sesungguhnya membutuhkan minyak dari Iran. Namun sanksi atas program nuklir Iran, menahan pasokan minyak. “Dengan sanksi penahanan minyak, persediaan minyak menjadi menipis dan harga minyak diprediksi akan naik,” kata dia.

Analis Soe Gee Futures, Nizar Hilmy menambahkan, belum adanya kepastian penggelontoran quantitative easing ketiga (QE3), membuat harga minyak akan terkoreksi. Meski begitu, sepekan ini, Nizar memprediksi harga minyak tetap naik. Dia memproyeksikan, harga minyak cenderung menguat dengan support senilai US$ 87,00 dan resistance US$ 90,00 per barel.

Ariana menambahkan, pergerakan moving average convergence-divergence (MACD) menunjukkan adanya potensi kenaikan. Stochastic di level 80 juga mengindikasikan kenaikan harga. Prediksi Ariana, harga minyak bergerak di antara support US$ 85,95 dan resistance US$ 93,09 per barel.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×