Reporter: Vivit Dewi | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kebijakan produksi OPEC+ menjadi perhatian pasar minyak seiring potensi bertambahnya pasokan global setelah gangguan produksi dan distribusi mulai mereda.
Berdasarkan data Bloomberg, harga Brent tercatat US$ 86,77 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) berada di US$ 80,51 per barel pada perdagangan Rabu (26/8/2026) pukul 14.09 WIB.
OPEC+ sebelumnya menyepakati penyesuaian produksi sebesar 188.000 barel per hari mulai September 2026. Keputusan tersebut melibatkan tujuh negara yang sebelumnya menerapkan penyesuaian produksi sukarela, yakni Arab Saudi, Rusia, Irak, Kuwait, Kazakhstan, Aljazair, dan Oman.
Baca Juga: DXY Tertekan, Ini Prospek Rupiah dan Mata Uang Asia hingga Akhir 2026
Penyesuaian tersebut merupakan bagian dari pengembalian bertahap pemangkasan produksi sukarela yang disepakati pada 2023.
Founder Traderindo, Wahyu Laksono mengatakan, potensi perubahan pasokan global membuat arah kebijakan OPEC+ menjadi semakin penting untuk diperhatikan.
"Jika pasokan Iran kembali normal ke pasar resmi, OPEC+ dihadapkan pada keputusan apakah akan memperpanjang penahanan kuota sukarela guna mempertahankan stabilitas harga atau melonggarkan keran produksi untuk merebut kembali pangsa pasar (market share)," kata Wahyu.
Kembalinya pasokan Iran ke pasar resmi akan menambah volume minyak yang tersedia secara global. Kondisi tersebut membuat keputusan OPEC+ menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi keseimbangan pasokan dan permintaan.
Jika OPEC+ mempertahankan pembatasan produksi, tambahan pasokan dari Iran berpotensi lebih mudah diserap pasar. Sebaliknya, peningkatan produksi OPEC+ secara bersamaan dengan pulihnya pasokan Iran dapat memperbesar suplai minyak global dan menambah tekanan terhadap harga.
Pilihan tersebut juga akan menentukan strategi OPEC+ dalam menjaga stabilitas harga sekaligus mempertahankan pangsa pasar. Penahanan produksi dapat membatasi tambahan pasokan, sedangkan peningkatan produksi memberikan ruang bagi negara-negara anggota untuk memperkuat posisi di pasar.
Di sisi lain, realisasi pasokan Iran masih bergantung pada normalisasi hubungan perdagangan dan perkembangan di Timur Tengah. Pemulihan aliran minyak secara penuh akan menjadi tambahan pasokan yang perlu diperhitungkan oleh OPEC+.
Wahyu menilai kebijakan OPEC+ menjadi salah satu faktor yang akan menentukan pergerakan pasar minyak hingga akhir 2026. Selain pasokan Iran, pasar juga akan mencermati normalisasi lalu lintas di Selat Hormuz, kondisi ekonomi global, serta pertumbuhan permintaan dari negara konsumen utama.
Baca Juga: AS Berencana Buyback Obligasi, Bagaimana Dampaknya ke Yield SBN?
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














