kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45931,36   3,72   0.40%
  • EMAS1.320.000 -0,38%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Diterpa Resesi, Mata Uang Inggris dan Jepang Bakal Terdepresiasi?


Selasa, 20 Februari 2024 / 19:48 WIB
Diterpa Resesi, Mata Uang Inggris dan Jepang Bakal Terdepresiasi?
ILUSTRASI. Mata uang Inggris dan Jepang berpotensi terdepresiasi karena ekonomi negara tersebut masuk jurang resesi.


Reporter: Akmalal Hamdhi | Editor: Wahyu T.Rahmawati

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Mata uang Inggris dan Jepang berpotensi terdepresiasi karena ekonomi negara tersebut masuk jurang resesi. Di sisi lain, dolar Amerika Serikat (AS) tetap tangguh karena prospek pemangkasan suku bunga terus ditunda.

Ekonomi Inggris mengalami stagnasi selama hampir 2 tahun. Perekonomian Inggris saat ini berada dalam posisi resesi berdasarkan data resmi yang dikeluarkan pemerintah setempat. Pernyataan Kantor Statistik Nasional (ONS), Produk Domestik Bruto (PDB) Inggris menurun sebesar 0,3% selama 3 bulan terakhir tahun 2023, pasca mengalami kontraksi 0,1% pada kuartal ketiga.

Jepang juga secara resmi masuk ke dalam resesi, yang mengakibatkan negara maju ini terdepak dari tiga besar ekonomi dunia. Menurut Reuters, pertumbuhan ekonomi Jepang mengalami penurunan selama dua kuartal berturut-turut yang disebabkan oleh melemahnya permintaan domestik, serta ketidakpastian rencana Bank of Japan (BoJ) untuk melonggarkan kebijakannya tahun ini.

Kinerja ekonomi yang sangat lemah ini menyebabkan Jepang kehilangan posisinya sebagai negara dengan perekonomian terbesar ketiga di dunia, digantikan oleh Jerman. Pada periode Oktober-Desember 2023, PDB Jepang turun 0,4% secara tahunan setelah sebelumnya turun 3,3% pada kuartal sebelumnya.

Baca Juga: Resesi Ekonomi Tingkatkan Risiko Pelemahan Mata Uang Jepang dan Inggris

Research & Education Coordinator Valbury Asia Futures Nanang Wahyudin mengatakan, Inggris dan Jepang tengah dihadapkan pada pelemahan nilai tukar mata uang terhadap dolar AS. Faktor domestik menjadi pemicunya, ditambah lagi prospek suku bunga The Fed yang diperkirakan akan menunda waktu pemangkasan suku bunga.

Seperti diketahui, akhir Desember 2023 lalu, The Fed diproyeksikan akan mulai pangkas suku bunga pada Maret 2024. Namun seiring membaiknya data ekonomi baik di sektor tenaga kerja dan manufaktur telah memberi sokongan bagi dolar.

“Dolar menguat terhadap rivalitas utama, dan menjadi menjadi beban bagi poundsterling dan yen,” ujar Nanang kepada Kontan.co.id, Selasa (20/2).

Kendati demikian, Nanang melihat kedua mata uang utama tersebut hingga akhir tahun ini berpotensi menguat seiring dengan faktor teknikal dan pemicu lainnya seperti potensi pelemahan dolar AS. Langkah pelonggaran yang dilakukan The Fed tahun ini akan berdampak melemahnya dolar, sehingga berimbas menguatnya mata uang termasuk GBP dan JPY.

Baca Juga: Jelang Hasil RDG Bank Indonesia, Rupiah Ditutup Melemah Pada Selasa (20/2)

Yen tengah berjuang untuk menguat ketika otoritas setempat siap meninggalkan  kebijakan suku bunga negatifnya tahun ini. Terlebih lagi kondisi pelemahan nilai yen yang berada di atas 150 berpotensi memicu intervensi oleh otoritas moneter Jepang.

Sedangkan poundsterling tengah berupaya bangkit dari serangkaian katalis dalam negeri yang berusaha pulih. Utamanya data manufaktur dan jasa PMI yang akan dipublikasikan besok Rabu (21/2) diperkirakan bakal membaik.

Nanang memperkirakan, nilai tukar Yen akan berada pada rentang 135.00 - 152.00 tahun ini, dengan tidak menutup kemungkinan bila Bank of Japan (BoJ) menaikkan suku bunga, maka mata uang Negeri Sakura tersebut bisa menguat di bawah level 130 per dolar AS.

Baca Juga: Jepang dan Inggris Resesi, Sri Mulyani Ungkap Dampaknya Bagi Ekonomi Global

Sedangkan poundsterling bakal didukung kebijakannya yang belum mengubah tingkat suku bunga. Nantinya ketika Fed sudah memulai melakukan pemangkasan, maka ruang penguatan GBP bisa kembali ke atas US$1.3000 di tahun 2024 ini.

Presiden Komisioner HFX International Berjangka Sutopo Widodo menambahkan bahwa angka PDB Inggris yang lemah mungkin tidak serta merta mengubah prospek suku bunga. Bank of England (BoE) dipandang tidak terlalu pesimistis terhadap kinerja perekonomian tahun ini.

Resesi ringan yang terjadi pada semester kedua tahun 2023 lalu, mungkin telah membatasi ruang untuk penciptaan lapangan kerja lebih lanjut. Namun sejauh ini hal tersebut belum meningkatkan pengangguran di Inggris secara signifikan, sehingga pertumbuhan upah kemungkinan besar tidak akan runtuh.

“Sehingga poundsterling kemungkinan ada pelemahan singkat, tetapi tidak dominan,” ujar Sutopo kepada Kontan.co.id, Selasa (20/2).

Baca Juga: Kompak, Rupiah Jisdor Melemah 0,18% ke Rp 15.659 Per Dolar AS Pada Selasa (20/2)

Sementara itu, Sutopo menilai, Yen sewaktu waktu bisa saja menguat karena mengingat kondisi geo-politik yang tidak kondusif membuat Yen sebagai pilihan untuk lindung nilai (safe haven). Dalam kasus ini, ada peluang penguatan signifikan bagi JPY sewaktu-waktu, namun bukan sebagai pembawa tren.

Adapun Yen adalah mata uang dengan kinerja terburuk tahun lalu akibat kebijakan moneter yang masih mempertahankan kebijakan suku bunga negatif yang mendorong Yen kembali ke kisaran 150 terhadap dolar AS. Minat pembeli Yen berkurang, seiring dengan sikap pembuat kebijakan Bank of Japan (BoJ) yang pasif.

“Yen secara fundamental masih tetap akan kurang diminati, sepanjang tidak ada perubahan sikap dari Bank Sentral Jepang,” imbuh Sutopo.

Menurut Sutopo, pasangan atau pairing mata uang GBPJPY, EURJPY mungkin dapat dicermati dalam perkembangan terbaru di pasar valuta asing. Kedua pairing tersebut hanya perlu menunggu sedikit lebih lama untuk menguji harga tinggi dekade dan kemudian dapat turun cukup jauh karena aksi ambil untung.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
EVolution Seminar Supply Chain Management on Sales and Operations Planning (S&OP)

[X]
×