Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Industri reksa dana diproyeksikan masih memiliki ruang pertumbuhan pada tahun 2026.
PT Henan Putihrai Asset Management (HPAM) menilai prospek kinerja dana kelolaan atau asset under management (AUM) tetap berada dalam jalur yang konstruktif, ditopang sejumlah katalis domestik.
Senior Vice President, Head of Retail, Product Research & Distribution Henan Putihrai Asset Management (HPAM) Reza Fahmi Riawan, mengatakan dukungan terhadap industri reksa dana datang dari potensi pertumbuhan ekonomi domestik yang tetap terjaga, tren penurunan suku bunga, serta semakin luasnya adopsi platform investasi digital.
“Kami memandang prospek industri reksa dana sepanjang 2026 tetap konstruktif,” ujar Reza kepada Kontan, Selasa (10/2/2026).
Baca Juga: IHSG Ditutup Melemah ke 8.259,2 di Sesi Pertama, Top Losers LQ45: BREN, AMMN, BRPT
Sebelumnya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat per 29 Januari 2026, Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksa dana mencapai Rp 714,04 triliun, tumbuh 5,73% mtm.
Nilai ini meningkat dibandingkan NAB per akhir Desember 2025 yang sebesar Rp 675,32 triliun atau tumbuh 4,80% mtm.
Tren kinerja NAB yang solid di awal Januari tersebut didukung oleh net subscription investor reksa dana yang kuat, yaitu mencapai Rp 41,18 triliun mtm. Adapun di akhir Desember, net subscription sebesar Rp 23,91 triliun mtm.
Reza menilai kenaikan tersebut dipicu kombinasi faktor makro dan perubahan perilaku investor.
Menurutnya, tren suku bunga yang lebih rendah membuat reksa dana menjadi alternatif investasi yang semakin menarik dibandingkan simpanan perbankan.
Stabilitas ekonomi domestik dan ekspektasi pertumbuhan yang tetap terjaga juga meningkatkan kepercayaan investor untuk kembali menempatkan dana di pasar keuangan.
Di sisi lain, perkembangan kanal distribusi digital serta edukasi yang semakin luas turut memperbesar basis investor ritel.
Adapun peluncuran produk-produk baru dinilai memberi tambahan pilihan bagi investor, meski faktor utama pendorong kenaikan AUM tetap berasal dari likuiditas yang memadai dan membaiknya risk appetite.
"Dengan kombinasi katalis positif dan risiko yang terkelola, kami melihat ruang pertumbuhan AUM industri masih terbuka," tuturnya.
Baca Juga: Jumlah Free Float Geoprima Solusi (GPSO) Meningkat di Tengah Rencana Akuisisi
Dari sisi jenis produk, Henan Asset melihat tren dana kelolaan terbesar masih didominasi reksa dana pasar uang dan reksa dana pendapatan tetap.
“Kedua jenis ini menawarkan kombinasi likuiditas, profil risiko yang relatif terjaga, serta potensi imbal hasil yang kompetitif, sehingga menjadi pilihan utama baik bagi investor baru maupun investor yang mengelola kebutuhan kas jangka pendek hingga menengah,” jelas Reza.
Di tengah ketidakpastian global, sebagian investor juga mulai melirik produk-produk yang dapat berfungsi sebagai diversifikasi portofolio untuk menjaga keseimbangan risiko.
Adapun untuk target ke depan, Henan Asset menegaskan fokus pada konsistensi kinerja produk, penguatan proses investasi, serta perluasan distribusi.
Dengan strategi tersebut, manajer investasi ini berharap dapat mencatatkan pertumbuhan dana kelolaan yang sehat dan berkelanjutan sepanjang 2026, sejalan dengan perkembangan industri dan meningkatnya kepercayaan investor.
Selanjutnya: Lewat Gaya Raya, Blibli Tawarkan Koleksi Modest Wear dari 20 Merek Lokal
Menarik Dibaca: Lewat Gaya Raya, Blibli Tawarkan Koleksi Modest Wear dari 20 Merek Lokal
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













