Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Prospek PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) hingga akhir 2026 diperkirakan masih positif, didukung oleh percepatan produksi dari Tambang Emas Pani di Kabupaten Pohuwato, Gorontalo yang menjadi salah satu penopang utama kinerja perseroan.
Diketahui, ekspansi Tambang Emas Pani disebut terus berjalan sesuai rencana, didukung peningkatan produksi dari operasi heap leach serta kemajuan pengembangan fasilitas pengolahan Carbon-in-Leach (CIL) berkapasitas 12 juta ton per tahun.
Perusahaan terus membangun momentum operasional sejak pencapaian produksi emas perdana pada 14 Februari 2026 lalu.
Produksi emas juga tercatat meningkat menjadi 15.594 ounces pada kuartal II 2026 dari 1.818 ounces pada kuartal I 2026, seiring berlanjutnya ramp-up operasi heap leach.
Baca Juga: Laba Semester 1 2026 Naik 34%, Harga Saham Blue Chip Ini Masih Di Bawah, Bel/Juali?
Pembangunan fasilitas CIL terus berjalan sesuai rencana. Persiapan lahan semakin maju, dengan pengecoran beton pertama ditargetkan pada awal kuartal IV 2026.
Infrastruktur pendukung juga dibangun secara paralel, termasuk fasilitas tailings (limbah sisa pengolahan) dan tambahan pasokan listrik bersama PLN untuk mendukung peningkatan kapasitas operasi Tambang Emas Pani.
Managing Director of Research Samuel Sekuritas Indonesia Harry Su mengatakan, kondisi tersebut membuat manajemen optimistis dapat mengejar target produksi sekitar 100.000 ons emas pada 2026, dengan mayoritas produksi diperkirakan terealisasi pada semester II 2026.
“Margin juga berpotensi membaik seiring kenaikan volume penjualan dan penurunan all-in sustaining cost (AISC),” ujar Harry saat dihubungi Kontan, Jumat (3/9/2026).
Selain itu, Harry bilang kemajuan proyek CIL berpotensi memperkuat kapasitas produksi EMAS dalam jangka menengah.
Potensi EMAS masuk ke dalam indeks VanEck Global Gold Miners juga dapat menjadi katalis tambahan. Menurut Harry, potensi tersebut dapat mendorong masuknya aliran dana asing ke saham EMAS.
Baca Juga: Simak Prospek Merdeka Gold Resources (EMAS) Saat Produksi Emas Pani Melonjak
Meski prospeknya positif, investor tetap perlu mencermati sejumlah risiko yang dapat menekan kinerja EMAS. Dari sisi makro, koreksi harga emas akibat penguatan dolar Amerika Serikat (AS) atau kenaikan imbal hasil (yield) menjadi salah satu risiko utama.
Dari sisi operasional, kata Harry, risiko yang perlu diperhatikan meliputi keterlambatan pembangunan fasilitas CIL dan perizinan tailings storage facility, kenaikan belanja modal (capex), serta realisasi produksi yang lebih rendah dari target.
Analis UBS Sekuritas Indonesia, Igor Putra, mencermati panduan belanja modal EMAS untuk 2026 berada di kisaran US$ 200 juta-US$ 250 juta, yang akan didanai melalui utang.
Sementara itu, kebutuhan capex untuk pembangunan fasilitas CIL diperkirakan mencapai US$ 800 juta.
“Namun, angka tersebut berpotensi meningkat menjadi sekitar US$ 900 juta pada akhir 2027 atau awal 2028, terutama akibat pekerjaan tanah dan pembangunan infrastruktur yang dilakukan lebih awal (front-loaded),” ungkap Igor.














