kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45928,35   -6,99   -0.75%
  • EMAS1.321.000 0,00%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Diantara Emiten Kompas100 dengan ROE Tinggi Ini, Saham Apa yang Dijagokan Analis?


Selasa, 14 November 2023 / 05:44 WIB
Diantara Emiten Kompas100 dengan ROE Tinggi Ini, Saham Apa yang Dijagokan Analis?


Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Sejumlah emiten dari indeks Kompas100 tercatat memiliki return on equity (ROE) dan return on assets (ROA) yang cukup tinggi.

Misalnya, melansir RTI, Senin (13/11), PT Baramulti Suksessarana Tbk (BSSR) mencatatkan ROE 74,12% dan ROA 37,16%. PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) mencatatkan ROE 32,05% dan ROA 25,19%. PT Bukit Asam Tbk (PTBA) mencatatkan ROE 26,2% dan ROA 14%.

PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) mencatatkan ROE 22,96% dan ROA 20,84%. Lalu, PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) memiliki ROE 103,79% dan ROA 29,51%. 

Kemudian, PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) mencatatkan ROE 16,17% dan ROA 5%. PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk (HMSP) mencatatkan ROE 29,55% dan ROA 14,84%. 

Pengamat pasar modal Teguh Hidayat mengatakan, persentase ROE dan ROA yang makin besar menunjukan bahwa labanya berarti juga makin besar jika dibandingkan dengan ekuitas dan aset perusahaan tersebut.

“Makin tinggi persentase ROE, makin besar profitabilitas perusahaan. Artinya perusahaannya makin menguntungkan bagi pemegang saham,” ujarnya kepada Kontan, Senin (13/11).

Baca Juga: ROE Emiten Tambang Anggota Indeks Kompas100 Tinggi, Begini Kata Analis

ROE suatu perusahaan dilihat tinggi dan menarik jika jumlahnya sudah di atas 10%. Sebab, inflasi domestik per tahun itu rata-rata 2% - 3% dan suku bunga Bank Indonesia (BI) sebesar 6%. 

“Kalau ROE emiten sebesar 10% saja, itu sudah di atas dari rata-rata inflasi, suku bunga BI, dan bunga deposito,” ulasnya.

Secara historis, kata Teguh, sektor konsumer memiliki ROE yang lebih besar dari sektor lain, terutama HMSP dan UNVR. Hal itu disebabkan perusahaan yang sudah mapan, sehingga laba yang didapatkan bisa langsung dibagikan ke pemegang saham sebagai dividen.

Laba emiten konsumer cenderung mengalami peningkatan karena adanya inflasi, di mana harga-harga produk konsumer mengalami kenaikan harga tiap tahunnya. Sehingga, meskipun volume penjualan sama, tetai harga jual produknya cenderung naik dari waktu ke waktu.

“Dengan ekuitas yang tetap, tetapi laba yang cenderung bertumbuh, otomatis ROE dan ROA emiten konsumer bisa tinggi,” kata Teguh.

Selain sektor konsumer, sektor perbankan juga memiliki ROA dan ROE yang tinggi dan stabil. Sebagai contoh, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) saat ini memiliki ROE 14,71% dan ROA 2,08%. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) juga memiliki ROE 19,13% dan ROA 3,17%.

“Meskipun tidak setinggi sektor konsumer, ROA dan ROE emiten sektor perbankan cenderung stabil. Asalkan, kinerja perekonomian domestik juga baik,” ujar Teguh.

Sektor lain yang saat ini memiliki ROA dan ROE yang tinggi adalah sektor pertambangan. Hal ini disebabkan harga komoditas yang mengalami peningkatan sejak tahun 2022, salah satunya adalah batubara.

Namun, kenaikan ROA dan ROE sektor pertambangan ini sifatnya musiman. Sehingga, Teguh melihat, sektor petambangan belum menarik, meskipun mencatatkan ROA dan ROE yang tinggi.

Baca Juga: Sejumlah Konstituen Kompas100 Punya ROE Tinggi, Begini Rekomendasi Sahamnya

Rekomendasi saham

Teguh mengatakan, tak ada sektor emiten yang kinerja ROA dan ROE yang selalu rendah. Sebab, hal itu disebabkan oleh kondisi emiten dan kondisi perekonomian secara keseluruhan yang juga bisa fluktuatif. Hal itu saat ini terjadi kepada sektor konstruksi.

Sebagai contoh, PT Adhi Karya Tbk mencatatkan ROE 0,37% dan ROA 0,08%. PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) mencatatkan ROE -33,94% dan ROA -5,22%.

“Kinerja sektor konstruksi lagi kurang baik, karena proyek terhenti selama pandemi. Ketika proyek pembangunan lagi tinggi dan profit, ROA dan ROE mereka pasti ikut terkerek juga,” ujarnya.

Teguh pun merekomendasikan beli saham INDF, HMSP, dan GGRM dengan target harga masing-masing Rp 7.000, Rp 1.200 - Rp 1.300, Rp 24.000 - Rp 25.000 per saham.

Lalu, dari sektor perbankan, Teguh merekomendasikan beli saham BBNI dan BBRI dengan target harga sama-sama di Rp 5.500 per saham.

“Rekomendasi buy karena semua saham itu blue chip dan biasanya di akhir tahun akan ada window dressing utk saham blue chip,” ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×