kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.680.000   -30.000   -1,11%
  • USD/IDR 17.882   6,00   0,03%
  • IDX 6.374   105,97   1,69%
  • KOMPAS100 836   13,50   1,64%
  • LQ45 634   8,05   1,29%
  • ISSI 220   3,58   1,65%
  • IDX30 354   2,96   0,84%
  • IDXHIDIV20 429   0,94   0,22%
  • IDX80 95   1,52   1,62%
  • IDXV30 118   0,42   0,35%
  • IDXQ30 112   0,52   0,46%

Daya Beli Meredup dan Geopolitik Tekan Rupiah, Intip Proyeksi untuk Kamis (13/8)


Rabu, 12 Agustus 2026 / 15:50 WIB
Daya Beli Meredup dan Geopolitik Tekan Rupiah, Intip Proyeksi untuk Kamis (13/8)
ILUSTRASI. Proyeksi pergerakan rupiah setelah ditutup melemah 0,09% ke Rp 17.877 per dolar AS pada hari ini (12/8/2026) (ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga)


Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Mata uang rupiah ditutup melemah pada perdagangan Rabu (12/8/2026), tertekan oleh berlanjutnya eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta sikap wait and see pelaku pasar menantikan rilis data inflasi Amerika Serikat (AS).

Mengutip data Bloomberg, rupiah ditutup melemah 16 poin atau 0,09% ke level Rp 17.877 per dolar AS.

Sementara menurut kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia, rupiah berada di level Rp 17.876 per dolar AS atau melemah 0,29% dari posisi hari sebelumnya di Rp 17.824 per dolar AS.

Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi, menuturkan bahwa indeks dolar AS bergerak menguat di perdagangan Rabu (12/8) seiring memanasnya konflik antara AS dan Iran yang meminimalkan aktivitas pelayaran di Selat Hormuz.

Baca Juga: Harga Minyak Kembali Menguat, Brent Berpeluang Tembus US$ 100

"Selat Hormuz merupakan titik ketidakpastian utama bagi pasar minyak, mengingat jalur tersebut memasok sekitar 20% pasokan minyak dunia sebelum pecahnya konflik," kata Ibrahim dalam keterangannya, Rabu (12/8/2026).

Ketegangan semakin meningkat setelah kelompok Houthi turut melancarkan serangan terhadap kapal-kapal di Laut Merah dan Selat Bab el-Mandeb, sehingga memicu ancaman gangguan pasokan energi global.

Di sisi lain, kewaspadaan investor makin meningkat menjelang rilis data Indeks Harga Konsumen (CPI) AS pada Rabu malam, yang berpotensi menentukan arah kebijakan suku bunga acuan The Fed.

Menurut Ibrahim, pasar swap saat ini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga acuan sebesar seperempat poin pada pertemuan September mendatang berada di kisaran 50-50, tergantung pada rilis indikator inflasi tersebut.

Dari faktor domestik, pergerakan rupiah turut terbebani oleh tekanan pada sektor ritel nasional akibat pelemahan daya beli masyarakat, yang tercermin dari penurunan penjualan ritel sebesar 3,0% secara tahunan pada Juni 2026.

Selain itu, sentimen pasar juga diwarnai oleh rilis data utang pemerintah pusat per semester I-2026 yang mencapai Rp 10.293,69 triliun atau setara 41,26% terhadap PDB, serta rebalancing Indeks MSCI yang akan diumumkan pada Kamis (13/8) dini hari.

Ibrahim memproyeksikan mata uang rupiah masih berada dalam tren pelemahan.

Untuk perdagangan Kamis (13/8/2026), mata uang rupiah diperkirakan akan bergerak fluktuatif, namun ditutup melemah di rentang Rp 17.870 hingga Rp 17.940 per dolar AS.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×