Reporter: Avanty Nurdiana | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Harga emas melonjak mendekati level tertinggi saat 14 April. Bulan lalu, harga emas berada di level tertinggi sejak 2012 yakni di US$ 1.768,90 per ons troi.
Jumat (15/5), harga emas untuk kontrak pengiriman Juni 2020 ditutup naik 0,88% di 1.756,30 per ons troi. Peningkatan harga emas juga diikuti kenaikan harga logam mulia lain seperti harga perak untuk pengiriman Juli 2020 yang naik 5,66% di US$ 17,07 per ons troi.
Baca Juga: Harga emas terangkat pada ekspektasi lebih banyak stimulus ekonomi yang dikeluarkan
Kenaikan harga emas disebabkan data pemerintah AS yang suram. Ini seakan menandakan betapa sulit ekonomi AS karena terimbas shutdown untuk menghindari penyebaran virus corona.
Harga emas kontrak pengiriman Juni membukukan penutupan tertinggi dalam sepekan sejak Oktober 2012 atau naik 2,47% seminggu ini. Beberapa data AS yang buruk menggenjot minat investor untuk kembali ke aset safe haven seperti emas.
Data tersebut adalah produksi pabrik Amerika Serikat yang anjlok di bulan April dan menjadi rekor terburuk sejak tahun 1919. Indeks penjualan ritel AS juga anjlok mencapai rekor dari sebulan sebelumnya.
Baca Juga: Harga emas 24 karat Antam naik Rp 7.000 per gram, Jumat 15 Mei 2020
"Semua orang pasti menyadarinya, tetapi itu hanya bukti bahwa ini realitas. Bahwa gambaran ekonomi cukup suram saat ini," terang Phil Streible, Kepala Strategi Pasar Blue Line Futures LLC seperti dikutip Bloomberg. Akibatnya, orang terus menumpuk menjadi emas karena gambaran ekonomi yang lemah akan terus mendorong suku bunga ke level yang lebih rendah.
Tak hanya harga emas kontrak, emas di pasar spot juga mencapai level tertinggi dalam 52 minggu, menuju penutupan tertinggi sejak November 2012. Yakni di US$ 1.743,67 per ons troi, atau naik 0,77% dari hari sebelumnya.
Tak hanya emas, perak juga banyak diburu dan rally dalam lebih dari dua bulan. Dua logam mulia telah terangkat setelah Ketua Federal Reserve AS Jerome Powell memberi peringatan pada awal pekan ini bahwa pandemi akan mengambil banyak korban pada ekonomi terbukti dari data pengangguran AS yang cukup buruk.
Baca Juga: Ini tiga faktor yang bisa menentukan laju pemulihan ekonomi Asia ala Morgan Stanley
Belum lagi, ulah Presiden AS Donald Trump yang kembali memanaskan hubungan dagang dengan China. Negara-negara yang berhasil memadamkan virus seperti Korea Selatan dan China kembali menghadapi peningkatan jumlah infeksi baru.
Di Texas, Amerika Serikat juga menghadapi hari paling mematikan dan terjadi lonjakan kasus baru sejak awal wabah. Itu terjadi dua minggu setelah langkah kontroversial untuk membuka kembali perekonomian negara.
Baca Juga: Harga emas naik tipis terdorong kekhawatiran munculnya gelombang kedua virus corona
"Ada ketakutan atas segala sesuatu mulai dari kepemimpinan politik melalui prospek kesehatan secara keseluruhan dan risiko keuangan dan politik ekonomi yang terkait," kata Rhona O'Connell, Kepala Analisis Pasar EMEA dan Asia INTL FCStone. Harga mengalami breakout karena kecemasan pasar meningkat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













