Penulis: Muhammad Alief Andri | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Saham-saham badan usaha milik negara (BUMN) berpeluang melanjutkan penguatan setelah Danantara mulai membeli saham di pasar modal.
Meski berpotensi menjadi katalis positif bagi pergerakan harga, investor tetap perlu mencermati fundamental dan valuasi emiten di tengah ketidakpastian pasar pasca pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai, aksi beli Danantara dapat memperkuat sentimen positif terhadap saham-saham BUMN, terutama jika dilakukan secara konsisten dan diikuti perbaikan kinerja emiten.
“Kehadiran Danantara dapat memberikan sentimen positif karena menunjukkan adanya dukungan terhadap saham-saham BUMN yang dinilai memiliki valuasi menarik dan prospek bisnis jangka panjang,” ujar Nafan kepada Kontan, Kamis (22/10/2026).
Baca Juga: Bos Danantara Buka Suara soal MSCI Klaim Fundamental Emiten RI Masih Kuat
Meski demikian, menurut dia, keberlanjutan penguatan harga saham tidak bisa hanya mengandalkan aksi beli Danantara.
Pertumbuhan laba, kebijakan dividen, serta persepsi investor asing terhadap transparansi dan tata kelola pasar modal Indonesia juga akan memengaruhi arah pergerakan saham ke depan.
Dari sisi pilihan saham, Nafan menilai saham perbankan BUMN seperti PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) layak dicermati karena memiliki basis bisnis yang kuat.
BMRI menarik dari sisi diversifikasi bisnis dan profitabilitas, sedangkan prospek BBRI bergantung pada pemulihan daya beli dan kualitas kredit mikro. Adapun BBNI memiliki peluang pertumbuhan dari segmen korporasi dan komersial.
Di luar perbankan, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) dapat dicermati berkat peluang pertumbuhan bisnis data dan layanan digital.
Baca Juga: Bos Danantara Sebut Emiten di Indonesia Punya ROE di Atas 15% dengan Valuasi Menarik
Sementara itu, PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM) memiliki eksposur terhadap komoditas emas dan nikel, dengan prospek yang dipengaruhi pergerakan harga komoditas serta permintaan industri.
Nafan mengingatkan investor agar tidak hanya mengejar saham yang harganya sudah naik, tetapi juga mempertimbangkan valuasi dan kemampuan emiten menghasilkan laba.
Rasio harga terhadap nilai buku atau price to book value (PBV), rasio harga terhadap laba atau price to earnings ratio (PER), tingkat pengembalian ekuitas atau return on equity (ROE), serta kualitas aset perlu menjadi pertimbangan.
“Kehadiran Danantara dapat menjadi katalis positif dalam jangka pendek hingga menengah, tetapi untuk membentuk tren kenaikan yang lebih berkelanjutan, saham-saham BUMN tetap membutuhkan dukungan fundamental yang solid,” jelasnya.
Menurut Nafan, katalis saham BUMN ke depan mencakup konsistensi aksi beli Danantara, perbaikan kinerja keuangan, prospek dividen, dan potensi penurunan suku bunga.
Adapun risiko yang perlu dicermati antara lain ketidakpastian MSCI, arus keluar dana asing, pelemahan rupiah, serta volatilitas pasar global.
Baca Juga: Kapolri, Danantara, dan DPR Kunjungi BEI, Bahas Sanksi Transaksi Saham
Ia menambahkan, dampak aksi beli Danantara terhadap harga saham akan bergantung pada nilai transaksi dibandingkan dengan rata-rata perdagangan harian, konsistensi pembelian, dan respons investor lain.
Karena itu, aksi beli tersebut sebaiknya dipandang sebagai katalis tambahan, bukan jaminan kenaikan harga saham secara berkelanjutan.
Untuk strategi perdagangan, Nafan merekomendasikan TLKM dan ANTM dengan pendekatan buy on weakness.
TLKM memiliki area masuk Rp 1.770 hingga Rp 2.000, dengan target harga bertahap Rp 2.060, Rp 2.250, dan Rp 2.450 serta level support Rp 1.770 dan Rp 1.730.
Sementara itu, ANTM memiliki area masuk Rp 2.330 hingga Rp 2.630, dengan target harga Rp 2.680, Rp 2.770, dan Rp 3.470. Level support yang dicermati berada di Rp 2.330 dan Rp 2.200.
Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana juga menilai aksi beli Danantara berpotensi memperbaiki sentimen terhadap saham-saham BUMN. Namun, ia mengingatkan bahwa penguatan harga tetap harus ditopang kinerja bisnis yang baik.
Baca Juga: Pos Indonesia Gagal Bayar, Begini Dampaknya ke BUMN Danantara Menurut Fitch
“Aksi beli Danantara dapat membantu memperbaiki sentimen, meningkatkan kepercayaan investor, dan memberikan tambahan permintaan terhadap saham-saham yang dinilai memiliki valuasi menarik,” ujar Hendra.
Hendra menilai BMRI, BBRI, dan BBNI menarik dicermati dari sektor perbankan, sedangkan TLKM menawarkan eksposur terhadap bisnis telekomunikasi dan digital.
Adapun ANTM berpotensi memperoleh sentimen positif ketika prospek harga emas dan nikel membaik, meski volatilitas komoditas membuat risikonya relatif lebih tinggi.
Ia menekankan bahwa valuasi murah belum tentu menjadi peluang jika tidak didukung kualitas aset dan kemampuan menghasilkan laba.
Investor juga perlu memperhatikan pertumbuhan kredit, biaya dana, margin bunga bersih, kebutuhan belanja modal, serta perkembangan harga komoditas sesuai sektor masing-masing emiten.
Menurut Hendra, besarnya pengaruh Danantara akan ditentukan oleh nilai transaksi relatif terhadap likuiditas saham, konsistensi pembelian, dan kondisi pasar. Jika tekanan jual asing masih besar, aksi beli satu institusi belum tentu mampu membalikkan tren pasar.
Baca Juga: Pasar Saham Goncang, Danantara Sebut Valuasi Saham BUMN Rendah dan Menarik Dibeli
“Investor perlu membedakan antara kenaikan yang didorong oleh sentimen dan kenaikan yang ditopang oleh perbaikan kinerja bisnis,” kata Hendra.
Untuk rekomendasi perdagangan, Hendra menetapkan BMRI dengan status trading buy dan target harga Rp 4.100, BBRI dengan target Rp 3.100, BBNI Rp 3.600, TLKM Rp 2.400, serta ANTM Rp 3.000.
Target tersebut merupakan sasaran analisis dan tetap perlu dicermati bersama momentum harga, volume transaksi, serta level support masing-masing saham.
Sementara itu, Chief Investment Officer Danantara Pandu Sjahrir menegaskan bahwa evaluasi terhadap pasar modal perlu disikapi dengan mendorong transparansi dan tata kelola, tanpa mengabaikan kondisi fundamental perusahaan tercatat.
“Kita juga perlu membedakan persoalan tata kelola pasar dengan fundamental perusahaan. Pasarnya silakan saja dibenahi, tetapi kekuatan bisnis perusahaan Indonesia tetap perlu dilihat secara objektif,” ujar Pandu melalui akun Instagram resminya, @pandusjahrir.
Baca Juga: Danantara Berencana Kantongi 5%-10% Saham BEI Pasca Demutualisasi, Ini Kata Dirut BEI
Pandu juga mengingatkan investor agar tidak menjadikan penurunan harga saham sebagai satu-satunya dasar untuk menilai suatu saham murah.
Menurut dia, kemampuan perusahaan menghasilkan laba, pertumbuhan bisnis, arus kas, utang, dan tata kelola perlu diperhatikan secara bersamaan.
“Jadi intinya nih, lihat kualitas bisnis dan harganya secara bersama. Bukan hanya sentimen pasar,” kata Pandu.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














