Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) mulai masuk ke pasar saham Indonesia dengan membeli saham secara bertahap.
Langkah ini dilakukan ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih tertekan dan investor asing terus menarik dananya dari Bursa Efek Indonesia (BEI).
Chief Investment Officer Danantara Pandu Sjahrir mengatakan, lembaga pengelola investasi negara tersebut telah mulai membeli saham di BEI sejak dua hari terakhir.
Namun, Pandu belum mengungkapkan saham yang dibeli maupun nilai investasi yang telah direalisasikan.
Baca Juga: Asing Mulai Borong Saham di BEI, Cermati Rekomendasi Analis
Menurut Pandu, Danantara memilih saham perusahaan yang memiliki prospek menarik dengan mempertimbangkan fundamental dan potensi keuntungan investasi.
Sejumlah saham badan usaha milik negara (BUMN) dinilai memiliki valuasi menarik dibandingkan dengan prospek pertumbuhannya.
"Danantara selalu berorientasi pada keuntungan," ujar Pandu dalam acara coffee morning di Wisma Danantara, Kamis (22/10/2026).
Masuknya Danantara ke pasar saham menjadi perhatian karena berlangsung di tengah tekanan besar terhadap pasar modal domestik. Hingga penutupan perdagangan Jumat (23/10/2026), IHSG terkoreksi 37,10% sejak awal tahun (ytd) ke level 5.439,25.
Tekanan juga datang dari arus dana asing. Pada perdagangan Jumat, investor asing mencatatkan penjualan bersih atau net sell sebesar Rp 1,62 triliun di pasar reguler.
Dengan demikian, akumulasi net sell asing di pasar reguler sejak awal 2026 mencapai Rp 120,57 triliun.
Di tengah kondisi tersebut, investasi Danantara berpotensi menambah permintaan saham dan membantu meredam tekanan jual.
Baca Juga: Danantara Mulai Masuk Bursa, Cermati Saham BUMN Pilihan Analis
Namun, besarnya dana yang masuk serta keberlanjutan pembelian menjadi faktor penting untuk menentukan dampaknya terhadap pergerakan IHSG.
Riset BRI Danareksa Sekuritas menyebut Danantara berpotensi menambah alokasi investasi sebesar US$ 1 miliar atau sekitar Rp 18 triliun di pasar modal hingga akhir 2026.
Sebelumnya, Danantara telah mengalokasikan sekitar US$ 3 miliar untuk investasi saham dan obligasi, baik di dalam maupun luar negeri.
Meski demikian, tambahan dana tersebut dinilai belum cukup untuk menopang pergerakan IHSG secara berkelanjutan. BRI Danareksa Sekuritas mencatat, rata-rata nilai transaksi harian BEI pada 12–16 Oktober 2026 mencapai Rp 16,23 triliun.
Dengan demikian, potensi tambahan investasi Rp 18 triliun setara sekitar 1,1 kali rata-rata nilai transaksi harian tersebut.
"Jumlah ini belum cukup menopang IHSG secara berkelanjutan," tulis riset BRI Danareksa Sekuritas, Kamis (22/10/2026).
Menambah likuiditas pasar
Co-Founder Alphagate Capital sekaligus mantan Chief Indonesia Strategist J.P. Morgan, Henry Wibowo, menilai investasi Danantara dapat menjadi katalis positif bagi pasar saham Indonesia di tengah tekanan arus dana asing.
Dengan nilai potensial sekitar Rp 18 triliun, tambahan investasi tersebut dinilai cukup signifikan untuk meningkatkan likuiditas pasar.
Henry memperkirakan saham-saham BUMN berpeluang menjadi prioritas awal investasi Danantara.
Meski demikian, emiten swasta yang memiliki fundamental kuat, tata kelola baik, dan prospek pertumbuhan menarik juga berpeluang masuk dalam pertimbangan investasi.
Baca Juga: Danantara Masuk Pasar Saham Saat IHSG Volatile, Ini Sektor yang Bisa Dicermati
Menurut Henry, penguatan basis investor domestik juga dapat didukung oleh peningkatan investasi lembaga dana pensiun negara lainnya, termasuk BPJS Ketenagakerjaan.
Jika dilakukan secara hati-hati dan berdasarkan pertimbangan investasi yang matang, langkah tersebut dapat mengurangi ketergantungan pasar saham Indonesia terhadap dana asing.
Pengamat Pasar Modal Universitas Indonesia Budi Frensidy juga menilai masuknya Danantara berpotensi meredam tekanan jual dan meningkatkan kepercayaan investor.
Namun, langkah tersebut belum cukup untuk menopang IHSG jika aksi jual investor asing masih berlanjut.
Sementara itu, Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah Elandry Pratama menilai, dalam jangka pendek, saham-saham yang dibeli Danantara berpotensi memperoleh sentimen positif seiring meningkatnya permintaan dan kepercayaan investor.
Kendati demikian, kenaikan harga saham dalam jangka panjang tetap bergantung pada kinerja fundamental emiten.
Baca Juga: Danantara Siap Beli Saham BEI Lewat DIM Usai Demutualisasi Rampung
Pertumbuhan laba, arus kas, kualitas neraca keuangan, tata kelola perusahaan, dan valuasi menjadi faktor yang menentukan keberlanjutan kenaikan harga saham.
Elandry juga mengingatkan sejumlah risiko yang dapat memengaruhi pasar, antara lain perlambatan ekonomi, tekanan nilai tukar rupiah, perubahan suku bunga, volatilitas pasar global, serta keputusan investasi yang tidak sepenuhnya didasarkan pada pertimbangan komersial.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














